Senin, 22 Desember 2014

/ Regional

Imigran Gelap

43 Imigran Gelap Ditahan di Sultra

Senin, 7 Mei 2012 | 21:58 WIB

KENDARI, KOMPAS.com — Polisi menahan 43 imigran gelap asal Myanmar dan Banglades di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Hal ini menambah panjang daftar kasus imigran gelap di Sultra, yang sejak Januari 2012 telah berjumlah total 154 orang.

Kepala Kantor Imigrasi Kendari Tafsil Juned, Senin (7/5/2012), mengatakan, para imigran itu diamankan di Desa Tolitoli, Kecamatan Mataoleo, Sabtu malam. Mereka akan bertolak dari Bombana menuju Australia melalui jalur laut.

"Kami masih berkoordinasi dengan IOM (International Organization for Migration) untuk penanganan selanjutnya. Rencananya para imigran itu akan dipindahkan ke Kendari," ujar Tafsil.

IOM merupakan organisasi internasional yang menangani masalah migrasi dan memiliki cabang di Makassar, Sulawesi Selatan.

Secara terpisah, Kepala Bidang Humas Polda Sultra Ajun Komisaris Besar Fahrurozzi mengonfirmasi penahanan 43 imigran tersebut. Mereka terdiri dari 40 orang dewasa dan 3 anak balita. Saat ini para imigran diamankan di Polres Bombana.

Dari hasil pemeriksaan sementara, diketahui para imigran itu menempuh rute laut dengan kapal kayu berkapasitas 25 GT dari Malaysia menuju Batam dan Tanjung Pinang-Jakarta-Kendari.

Polisi menetapkan Karim (33), warga Bombana yang membawa para imigran itu, sebagai tersangka dan kini ditahan.

Kasus ini merupakan ketiga kalinya selama tahun 2012 di Sultra. Pada awal Januari, pihak imigrasi menahan 54 orang di Kendari. Setelahnya pada 19 April sebanyak 57 imigran asal Myanmar diselamatkan di Pulau Siompu, Kabupaten Buton, saat kapal yang mereka naiki untuk menuju Australia terdampar di sana.

"Untuk 57 imigran terakhir, besok atau lusa akan dipindahkan ke Makassar karena ada permintaan dari IOM," kata Tafsil. Dari Buton, ke-57 imigran dibawa ke Kendari dan diinapkan di salah satu hotel sejak 3 Mei lalu.

M Toyib (41), salah satu imigran asal Myanmar yang ditangkap 19 April lalu, mengatakan, mereka bertujuan mencari kehidupan yang lebih baik di Australia. Ia bersama lima anggota keluarganya keluar dari Myanmar sejak 1995 dan tinggal di Malaysia akibat situasi sosial politik yang tak nyaman di negara tersebut.

"Dari Malaysia, April lalu, saya memutuskan pergi ke Australia," ujar Toyib.

Untuk biaya perjalanan dari Malaysia hingga Australia via Indonesia, Toyib mengaku setiap orang membayar antara 5.000-9.000 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 15 juta-Rp 27 juta.


Penulis: Mohamad Final Daeng
Editor : Marcus Suprihadi