Jumat, 1 Agustus 2014

/ Bisnis & Keuangan

Rumah Tempe Indonesia untuk Tempe yang Higienis

Selasa, 5 Juni 2012 | 12:05 WIB

Baca juga

JAKARTA, KOMPAS.com - Industri tempe sebenarnya cukup berkontribusi besar bagi perekonomian Indonesia. Tapi produksinya masih ada yang kurang higienis dan ramah lingkungan. Oleh sebab itu, Rumah Tempe Indonesia dibentuk sebagai upaya mewujudkan produksi tempe yang baik.

"Industri tempe di Indonesia merupakan industri yang dirajai oleh produsen kecil dan menengah yang jumlahnya sangat besar. Kontribusinya terhadap perekonomian kita, yakni sebesar kurang lebih Rp 700 miliar per tahun tidak dapat dipandang sebelah mata," sebut Tina ETV Napitupulu, Documentation Officer SCoPe Indonesia Program, dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (5/6/2012).

Kontribusi ekonomi yang besar dari tempe juga didukung oleh faktor budaya. Tempe merupakan bagian dari budaya pangan Indonesia. Tapi, kata Tina, hanya sedikit perhatian yang diberikan terhadap kondisi industri tempe selama ini. Produksi tempe sekarang ini masih belum baik.

Ia menggambarkan kondisi pembuatan tempe dengan tempat produksi yang penuh asap. Asap itu menjadi gangguan bagi pekerja karena bisa memedihkan mata. Bahkan asap membuat ruang produksi menjadi pengap dan panas. Proses pengolahannya juga mengkhawatirkan. Salah satu contohnya dalam hal perebusan, ada pelaku usaha menggunakan drum bekas oli. Ini berbahaya karena meskipun sudah dibersihkan namun rentan terhadap karat.

"Kondisi memprihatinkan ini mendorong Koperasi Pengrajin Tempe Tahu Indonesia (KOPTI) Kabupaten Bogor, Mercy Corps dan Forum Tempe Indonesia untuk berinisiatif mendirikan Rumah Tempe Indonesia," tambah dia.

Pembentukan Rumah Tempe Indonesia didukung juga oleh Kedutaan Uni Eropa, PT FKS Multiagro, PT ANTAM dan American Soybean Association International Marketing (ASA IM). Rumah ini sudah dibangun dan akan diresmikan pada 6 Juni 2012.

Di tempat ini, tempe diolah menggunakan peralatan stainless steel yang berstandar food grade. Bahan bakar yang dipakai juga bukan kayu bakar yang melepaskan karbon dengan jumlah besar ke udara, melainkan memakai gas elpiji yang lebih rendah emisi.

Selain itu, para pekerjanya juga telah mendapatkan beberapa kali pelatihan GHP (Good Hygiene Practice) terkait tempe dan pengolahan yang lebih higienis. Kemajuan-kemajuan inilah yang akan dijadikan patokan bagi industri tempe Indonesia di masa mendatang.

Selain memproduksi tempe yang higienis dan ramah lingkungan, Rumah Tempe Indonesia juga akan menjadi pusat belajar bagi perajin tempe yang lain, sehingga memungkinkan percepatan adopsi dan replikasi teknologi dan menjadikan industri tempe di Indonesia berdaya saing internasional.


Penulis: Ester Meryana
Editor : Erlangga Djumena