Kamis, 24 Juli 2014

News / Bisnis & Keuangan

Apa yang Salah dengan 1 Miliar Dollar AS ke IMF?

Sabtu, 14 Juli 2012 | 13:12 WIB

Baca juga

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Indonesia tampaknya telah bulat untuk membantu permodalan Dana Moneter Internasional (IMF). Rencananya, Bank Indonesia yang akan mengeksekusi hal itu dengan cara membeli surat berharga yang dikeluarkan IMF. Cadangan devisa sebanyak 1 miliar dollar AS akan disisihkan untuk membeli surat berharga tersebut.

Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (12/7/2012), menegaskan, pembelian surat berharga IMF tersebut merupakan kebijakan investasi yang sudah biasa dilakukan BI dalam mengelola cadangan devisa Indonesia. Dikatakan dia, cadangan devisa telah banyak diinvestasikan dalam bentuk surat berharga yang diterbitkan sejumlah negara, misalnya saja Amerika Serikat.

Penempatan cadangan devisa dalam bentuk surat berharga akan menghasilkan imbal hasil (yield). Selain itu, ia mengatakan, cadangan devisa pun akan aman. "Itu seperti halnya kalau membeli surat berharga. Beli surat berharga Australia, uangnya masuk ke Australia. Bedanya, kalau surat utang Australia kita beli di pasar, kalau ini bilateral arrangement. Itu saja bedanya," ucap Darmin, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (10/7/2012).

Ditegaskannya pula, cadangan devisa Indonesia tak akan berkurang karena pembelian surat berharga IMF tersebut. Untuk diketahui, per akhir Juni 2012, BI memiliki cadangan devisa sebesar 106,5 miliar dollar AS. Angka ini setara dengan 5,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Lagipula, kata Darmin, penyertaan modal dari Indonesia sebesar 1 miliar dollar AS itu belum tentu dipakai. IMF baru akan menggunakan dana tersebut bila permodalan yang dipunyainya sudah di bawah 100 miliar dollar AS. Sekarang ini, IMF masih punya dana sekitar 400 miliar dollar AS. "Diprosesnya saja bisa masih panjang. Digunakannya oleh dia juga belum tentu bisa karena itu benar-benar second line of defence saja itu," tutur Darmin, di Gedung BI, Jakarta, Kamis (12/7/2012).

Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto pun menilai "pinjaman" 1 miliar dollar AS ke IMF masih dalam batas kewajaran dan tidak ada yang salah dengan itu. "Yang menyalahkan karena orang-orang tidak mengerti saja," sebut Ryan kepada Kompas.com, Jumat (14/7/2012).

Ia menilai dana 1 miliar dollar AS tersebut bukanlah utang, melainkan seperti penyertaan modal untuk mendukung operasional IMF di tengah situasi krisis Eropa saat ini.

Pandangan serupa pun dikemukakan oleh ekonom A Tony Prasetiantono. Ia mengatakan, pembelian surat berharga IMF hanya semacam portofolio BI saja. Yang dimaksud cadangan devisa itu bukan berarti uang tunai di brankas BI, melainkan, kata dia, bisa berupa surat berharga. Yang penting aman, risikonya rendah atau bahkan nol. "Jadi saya setuju jika BI menempatkan dananya ke dalam bentuk obligasi IMF. Itu adalah bentuk portofolio atau cara atau pilihan menempatkan aset. No worries, lah," sebut Tony kepada Kompas.com, Jumat.

Ketua Komisi XI DPR Emir Moeis juga menilai pembelian surat berharga IMF oleh Indonesia adalah hal yang wajar. Ini suatu bentuk pengelolaan cadangan devisa Indonesia. "Wajar-wajar saja, kan, BI mesti mengelola uang cadangan devisa supaya jangan mati," kata Emir kepada Kompas.com, Jumat (13/7/2012).

Dana 1 miliar dollar AS ini pun nantinya digunakan IMF untuk membantu mengatasi krisis yang sedang terjadi. Ini yang berkali-kali ditekankan pemerintah. Bahwa Indonesia mau turut serta membantu negara lain yang sedang kesusahan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa pernah mengatakan, sebagai anggota G-20, Indonesia harus memperhatikan perekonomian dunia. Ekonomi global sedang mengalami kesulitan, terutama di Eropa. Apabila situasi ekonomi memburuk, volume perdagangan dunia akan mengecil seiring dengan tingkat permintaan yang turun.

Konsumsi masyarakat, kata Hatta, bisa lebih menurun lagi jika program penghematan anggaran dijalankan di zona euro. Negara-negara Asia, termasuk Indonesia, pun bisa terkena imbasnya. Sebagai upaya mengatasi krisis, Hatta menyebutkan, IMF membutuhkan permodalan sekitar 430 miliar dollar AS.

Semua negara, kata dia, sudah memberikan. Indonesia yang juga bagian dari G-20 juga harus mampu memberikan andil. "Mampu enggak kita memberikan? Ya, mampu," ujar Hatta, di Jakarta, Senin (9/7/2012).

Darmin pun menuturkan, dana 1 miliar dollar AS itu sudah menjadi kesepakatan dalam beberapa tingkatan, yakni mulai dari voting group tingkat Asia Tenggara, internal pemerintah, serta pemerintah dengan BI. Di tingkat voting group Asia Tenggara, sebut dia, beberapa negara, seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina, juga sepakat memberikan pinjaman 1 miliar dollar AS untuk IMF. Dengan begitu, Indonesia pun sepakat memberikan jumlah yang sama.

Namun, Ryan mengingatkan, agar bantuan Indonesia ke IMF ada manfaatnya secara ekonomi, misalnya hak suara Indonesia lebih diperhatikan. Dan, kalau bisa, bantuan itu tidak menggunakan cadangan devisa, tetapi APBN. Pasalnya, cadangan devisa penting untuk memenuhi kebutuhan impor dan kewajiban luar negeri lainnya. Apalagi angka cadangan devisa menurun. "Sebaiknya gunakan APBN, asalkan sudah ada persetujuan DPR, dan anggarannya sudah disiapkan. Bukan anggaran dadakan," tuturnya.

Sekalipun memandang wajar tindakan Pemerintah Indonesia, DPR masih perlu mendengar detail rencananya dari BI. Apalagi, Ketua Komisi XI mengaku belum pernah mendengar IMF mengeluarkan surat berharga. Emir juga belum mendapatkan informasi apakah surat berharga IMF ini aman untuk dibeli. "Harus minta penjelasan karena masalahnya berita sudah menyebar ke mana-mana," ungkap Emir.

Sekalipun demikian, pemerintah tampak bangga dengan kedudukannya sekarang terhadap IMF. Hatta mengatakan, dulu tangan Indonesia berada di bawah, tetapi tidak untuk sekarang ini. "Saya tidak melihat dari sisi peminjamannya (uang), tetapi untuk keadaan sekarang tangan kita (Indonesia) di atas karena ada pihak lain yang membutuhkan," ujar Hatta.


Penulis: Ester Meryana
Editor : Erlangga Djumena