Rabu, 22 Oktober 2014

News / Bisnis & Keuangan

Bumi Resources Menuju Kebangkrutan Finansial?

Rabu, 29 Agustus 2012 | 11:15 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Disebut sebagai perusahaan penambangan dan penjualan batu bara yang diprakarsai keluarga Bakrie dengan cadangan batu bara terbesar di Indonesia, nama besar melekat di PT Bumi Resources Tbk. Namun, kebangkrutan finansial membayangi perusahaan itu. Benarkah?

Menurut analis Panin Sekuritas, Fajar Indra, jawabannya iya. Tentu saja ada dasar pertimbangan untuk menentukan hal itu. Indra menggunakan metode Altman Score untuk menguji solvabilitas keuangan BUMI dari kebangkrutan finansial. Ia menggunakan neraca semester-1 tahun 2012 BUMI sebagai bahan dasar perhitungan.

Jika koefisien Z < 1,1, maka perusahaan berada dalam zona tidak aman atau menuju kebangkrutan. "Koefisien Z BUMI sangat kecil, yakni 0,0982 saja. Maka dapat disimpulkan bahwa BUMI saat ini berada dalam zona tidak aman atau menuju kebangkrutan finansial," kata Indra di Jakarta, Rabu (29/8/2012).

Total cadangan BUMI sebesar 2,8 miliar ton dimiliki anak usahanya, PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia (Arutmin). Tahun ini, BUMI menargetkan produksi batu bara mencapai 75 juta ton, naik 13,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Namun, performa keuangan BUMI pada semester satu tahun ini sangat buruk. Solvabilitasnya sangat lemah. BUMI mencatatkan kerugian sebesar 322 juta dollar AS pada semester ini, setelah mencatatkan keuntungan sebesar 232 juta dollar AS pada semester pertama tahun lalu.

Ada beberapa faktor yang disinyalkan menyebabkan jatuhnya performa BUMI semester pertama tahun ini. Faktor pertama adalah tergerusnya margin laba BUMI diakibatkan melonjaknya biaya produksi sebesar 9,2 persen per ton yang tidak diimbangi oleh naiknya harga jual. "Hal ini terjadi hampir di semua perusahaan batu bara di Indonesia karena memburuknya harga batu bara dunia," kata Fajar.

Faktor kedua adalah tingginya beban keuangan yang harus dibayar serta kerugian atas transaksi derivatif. Laporan keuangan BUMI mencatat bahkan jumlah beban keuangan yang harus dibayar lebih tinggi dari laba usahanya sendiri. Hal ini tentunya memperlihatkan betapa buruknya solvabilitas BUMI dalam membayar utang-utangnya.

BUMI akan memperpanjang masa investasi dana senilai 231 juta dollar AS di PT Recapital Asset Management. Dengan kata lain, BUMI gagal mencairkan investasinya untuk melakukan refinancing. "Terlebih dalam 2 tahun, BUMI memiliki tanggal jatuh tempo untuk utangnya kepada CIC masing-masing sebesar 600 juta dollar AS untuk trance kedua dan 700 juta dollar AS untuk trance berikutnya," kata Fajar.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Robertus Benny Dwi Koestanto
Editor : Rusdi Amral