Senin, 22 September 2014

/

FAO Ingatkan Krisis Pangan

Kamis, 30 Agustus 2012 | 04:33 WIB

Jakarta, Kompas - Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB mengingatkan, krisis pangan seperti yang terjadi pada 2007/2008 bisa berulang. Beberapa komoditas tergolong rawan. Agar dampak krisis tidak menimpa Indonesia, ketahanan pangan perlu diperkuat.

Menurut Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan, Rabu (29/8), di Jakarta, dalam rapat koordinasi nasional membahas kinerja produksi padi, jagung, dan kedelai 2012, Kementerian Pertanian baru saja mendapatkan surat dari Direktur Jenderal FAO.

Lembaga ini mengingatkan bahwa krisis pangan seperti yang terjadi pada tahun 2007/2008 bisa berulang. Untuk komoditas jagung dan kedelai, sinyal sudah ada. ”Indeks harga naik 5 persen hanya pada Juli 2012,” katanya. Tren kenaikan harga juga sudah terjadi pada komoditas gandum dan gula.

Komoditas beras relatif lebih aman. Stok beras dunia cukup. Produksi beras Thailand juga bagus. Menurut FAO, krisis pangan dahulu terjadi karena komoditas pangan tidak terkelola dengan baik. Setiap negara mengupayakan penyelamatan sendiri.

Melihat kondisi tersebut, Rusman mengingatkan kepada para kepala dinas pertanian seluruh Indonesia yang hadir dalam rapat koordinasi tersebut bahwa peningkatan produksi pangan sudah tidak bisa ditawar lagi. Swasembada dan surplus produksi beras sebanyak 10 juta ton tahun 2014 harus dicapai. Begitu pula dengan target swasembada.

”Ketahanan pangan bukan pilihan. Swasembada pangan bukan pilihan. Oleh karena itu, surplus produksi beras 10 juta ton menjadi keharusan untuk dicapai,” tuturnya.

Rusman menyayangkan kenyataan masih sempitnya perspektif para kepala daerah terkait dengan swasembada. Mereka memaknai swasembada pangan hanya untuk kepentingan daerahnya, bukan untuk kepentingan nasional.

Hal ini bisa dilihat dari kenyataan rendahnya luasan kawasan lahan pertanian pangan berkelanjutan yang masuk peraturan daerah tata ruang. ”Kalau dijumlahkan semua, luas lahan pangan berkelanjutan justru lebih rendah dari luas lahan baku yang ada sekarang. Ini terjadi karena pemerintah daerah memandang konteks swasembada pangan hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan di daerahnya, tidak melihat konteks nasional. Kalau begitu, NTT tidak akan pernah tercukupi pangannya,” ujarnya.

Menteri Pertanian Suswono mengatakan, soal pangan, Indonesia lebih aman. Produksi padi juga meningkat 4,31 persen tahun ini. ”FAO hanya mengingatkan. Meski demikian, itu baik bagi kita untuk lebih memacu diri meningkatkan produksi,” katanya.

Dalam peningkatan produksi pangan, kata Suswono, konsolidasi diperlukan. ”Saya sudah minta evaluasi total dilakukan, termasuk dalam penyusunan peta jalan (road map) pangan. Apakah perlu road map baru, yang lebih realistis. Yang penting, ketika tidak tercapai, ada alasan-alasan rasional yang bisa disampaikan. Setidaknya diharapkan dalam periode pemerintahan yang akan datang sudah ada panduan untuk mempercepat pencapaian target. Yang penting sekarang adalah bagaimana secara optimal meningkatkan produksi,” katanya.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan, dari target produksi padi tahun 2012 sebanyak 67,8 juta ton gabah kering giling, tercapai 68,59 juta ton. Jagung, dari target 24 juta ton, tercapai 18,95 juta ton. Kedelai, dari target 1,9 juta ton, tercapai 779.741 ton. Adapun untuk sasaran luas panen, tak satu pun yang tercapai.

Penyelidikan

Ketua Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) Bachrul Chairi mengatakan, pihaknya telah menetapkan penyelidikan tindakan pengamanan perdagangan (safeguard) atas importasi tepung gandum dimulai pada 24 Agustus 2012.

Dia mengatakan, KPPI menerima permohonan dari Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) pada 13 Agustus 2012, yang meminta pemerintah mengenakan pengaman atas importasi tepung gandum.

Dalam permohonannya kepada pemerintah, Aptindo menyatakan telah mengalami kerugian serius atau ancaman kerugian serius yang diakibatkan lonjakan volume impor barang dimaksud.

(ENY/MAS)


Editor :