Senin, 15 September 2014

/

Adi Widjaja

Teknologi Penanaman Kedelai Grobogan

Senin, 3 September 2012 | 04:55 WIB

Oleh Sonya Helen Sinombor

Krisis kedelai berkali-kali terjadi di negeri ini. Ironisnya, krisis tersebut terjadi di negeri agraris akibat kurangnya pasokan kedelai di pasaran. Hal itu membuat Adi Widjaja (40) gemas. Seandainya pemerintah benar-benar berniat serius mengembangkan kedelai lokal, tentu para perajin tempe dan tahu tak perlu menjerit, apalagi melakukan aksi mogok seperti yang terjadi belakangan ini. 

”Sebenarnya kita memiliki potensi yang besar,” kata Adi Widjaja, peneliti kedelai. Dia meneruskan perjuangan sang ayah, Tjandramukti (almarhum), yang meneliti kedelai lokal hingga menemukan varietas kedelai lokal, yakni kedelai grobogan. Jenis kedelai ini diakui pemerintah sebagai benih unggul nasional.

Potensi kedelai negeri ini sebenarnya bisa memenuhi kebutuhan jika pemerintah serius menanganinya. Lihat saja di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Beberapa desa di kabupaten tersebut sejak bertahun-tahun menanam dan memproduksi kedelai lokal tanpa bergantung pada kedelai impor.

Bahkan, kelompok tani di salah satu desa di kabupaten ini, yang mendapat pendampingan Tjandramukti, yakni Kelompok Tani Kabul Lestari di Desa Panunggalan, Kecamatan Pulokulon, pada 2007 meraih juara nasional Kelompok Tani Agribisnis Kedelai.

Produksi kedelai di desa tersebut mencapai 3,4 ton per hektar dengan rata-rata kelompok pada angka 3,2 ton per hektar. Semuanya ditanam pada musim hujan meski pemerintah menganjurkan penanaman kedelai pada musim kemarau.

Keberhasilan para petani Desa Panunggalan memproduksi kedelai dengan produktivitas tinggi ini berkat penelitian kedelai yang dirintis Tjandramukti. Kerja kerasnya selama bertahun-tahun berhasil mengangkat kedelai lokal grobogan, temuan Tjandramukti, menjadi benih unggul nasional.

Selama bertahun-tahun petani di Desa Panunggalan menanam kedelai dengan metode penanaman dan pemupukan dari Budi Mixed Farming (BMF) yang dikenalkanTjandramukti. BMF adalah perusahaan pertanian dan peternakan kecil inovatif yang berbasis pada penelitian.

Perusahaan itu fokus pada pemberian solusi sistem pertanian campuran (mixed farming system) dan optimalisasi produksi tanaman subtropis di wilayah tropis, seperti kedelai.

Berkat sistem tersebut, pada 2006 rata-rata produksi kedelai di desa itu bisa mencapai 3 ton per hektar. Bahkan, beberapa petani dapat mencapai lebih dari 4 ton per hektar. Keberhasilan inilah yang membawa kelompok tani yang dibina BMF meraih juara Nasional Kelompok Tani Agribisnis Kedelai.

Keunggulan kedelai grobogan membuat Pemerintah Kabupaten Grobogan mendaftarkan kedelai temuan Tjandramukti sebagai benih unggul nasional pada 2008. Dalam penelitian lebih lanjut, oleh Balai Penelitian Tanaman Kacang-Kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi), ditemukan dua jenis kedelai dari temuan ini.

Satu jenis kedelai berwarna kuning mengilap dengan produksi lebih rendah. Satu jenis lagi berwarna lebih kusam dengan produksi lebih tinggi. Jenis kedua akhirnya diresmikan menjadi benih unggul nasional dengan nama kedelai lokal grobogan.

Tak dilirik pemerintah

Sayangnya, kisah sukses petani Grobogan ini tak ditularkan pemerintah kepada petani di Tanah Air. Sampai Tjandramukti meninggal dunia tahun 2011, teknologi optimalisasi BMF yang diterapkan Tjandramukti tak dilirik pemerintah.

Adi, yang mendampingi sang ayah, sejak pulang dari Australia tahun 2003 pun tergerak melanjutkan misi ayahnya. ”Saya akan teruskan apa yang telah dimulai ayah saya,” kata Adi, awal Agustus lalu.

Selain meyakinkan petani agar terus menggunakan pola penanaman kedelai dengan teknologi BMF, Adi pun tak pernah berhenti menyosialisasikan teknologi tersebut kepada semua kalangan yang pernah ditemuinya, terutama dari perguruan tinggi.

Model pembuatan sumur resapan komunal yang diterapkan ayahnya di ladang-ladang petani kedelai hingga kini terus dilakukannya. Sumur sedalam 3 meter yang dibuat 6 hingga 12 buah dalam 1 hektar itu berfungsi mengondisikan tanah di sekitarnya menjadi daerah resapan air.

”Cara inilah yang membuat tanaman kedelai bisa tumbuh di daerah tersebut dan tidak kekurangan air walau musim kemarau,” ungkapnya.

Apa yang dirintis ayahnya diteruskan Adi. Ia mengawal para petani di Panunggalan yang menerapkan penanaman kedelai dengan teknologi optimalisasi BMF.

Maka, ketika krisis kedelai kembali terjadi dan sejumlah kalangan mengungkapkan Indonesia tidak cocok untuk pertanian kedelai, Adi hanya bisa mengurut dada.

”Banyak peneliti datang ke Panunggalan. Mereka melakukan percobaan dengan kedelai lokal. Namun, mereka tidak mau ngomong kualitas yang sebenarnya dari kedelai grobogan,” paparnya.

Tak cuma peneliti, pejabat pemerintah di bidang pertanian pun pernah mengunjungi dan melihat langsung hasil pertanian kedelai di Panunggalan.

”Katanya sudah diakui sebagai bibit unggul nasional, kelompok tani dapat penghargaan, tetapi kedelai grobogan tidak pernah dikembangkan secara luas,” katanya.

Saat sebagian kalangan menyatakan kedelai lokal tidak lebih baik dari kedelai impor, karena ukurannya lebih besar daripada kedelai impor, Adi membantah anggapan itu. Ia menegaskan, perajin tahu-tempe, yang sekian lama dibiasakan menggunakan kedelai impor, telah membuat mereka tidak tertarik memakai kedelai lokal.

Alasan yang dipakai perajin, kedelai impor lebih cepat hancur jika direndam. ”Kalau tidak ingin bergantung pada kedelai impor, cara menangani kedelai lokal pun harus diubah,” kata Adi.

Cara yang bisa ditempuh adalah perendaman kedelai yang lebih lama atau menggunakan teknik perusakan kulit ari dengan menggunakan air mendidih, kemudian direndam dalam air dingin.

Jika petani atau perajin tahu-tempe mau menggunakan cara ini terhadap kedelai grobogan, misalnya, hasil pembuatannya diperkirakan bisa 10 persen lebih banyak dibandingkan dengan jika mereka menggunakan kedelai impor kualitas yang sama.


Editor :