Rabu, 23 Juli 2014

/ News & Features

Perokok Anak dan Remaja 51,7 Persen, Pemerintah Dinilai Gagal

Jumat, 14 September 2012 | 09:31 WIB

Baca juga

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), mengaku prihatin atas kondisi anak di Indonesia yang semakin mengkhawatirkan, terutama terkait jumlah perokok anak. Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan dianggap gagal melindungi anak Indonesia dari gencarnya industri tembakau.

Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait menyatakan keprihatinannya atas hasil survey Global Adult Tobacco Survey (GATS) yang dirilis Kementrian Kesehatan, 11 September 2012 lalu. Faktanya, jumlah perokok aktif di Indonesia mengalami peningkatan dan tertinggi di antara 16 negara berpendapatan menengah ke bawah.

"Sejalan dengan pernyataan Menkes, bahwa pemerintah telah gagal melindungi kesehatan rakyat, kami juga berpendapat, pemerintah memang belum berpihak kepada perlindungan kesehatan masyarakat, terutama anak-anak," ujar Arist melalui siaran persnya yang diterima Kompas.com, Kamis (13/9/2012) kemarin.

Arist memaparkan, survey tersebut melaporkan bahwa prevalensi merokok mencapai 67,4 persen laki-laki dan 4,5 persen wanita. Perokok pria dan wanita ini mencapai 36,1 persen dari komposisi penduduk atau ada sekitar 61,4 juta  penduduk yang mengonsumsi tembakau. Ironisnya, prevalensi perokok menurut usia dan gender pada kelompok usia 15 sampai 24 tahun, mencapau sebanyak 51,7 persen. Ini termasuk anak-anak dan remaja kelompok usia 15 hingga 18 tahun. Sebagai salah satu contoh yang paling baru di pemberitaan media masa, terdapat seorang balita berumur 2,5 tahun dari Jember, Jawa Timur yang menghabiskan rokok 2 bungkus per hari. Selain itu, ada juga anak balita serupa yang berdomisili di Sukabumi dan di Garut, Jawa Barat.

Menurut Arist, kondisi tersebut disebabkan oleh banyak hal, terutama lingkungan, entah lingkungan keluarga atau pun masyarakat. Hal itu dapat dilihat dari anak-anak yang kerap menjadi perokok pasif karena orang-orang di sekitarnya merokok. Belum lagi harga rokok yang terjangkau membuat anak-anak semakin terancam kondisi kesehatannya.

"Karena itu sudah saatnya pemerintah dan para pembuat kebijakan berdiri di sisi anak Indonesia untuk menghadapi agresivitas industri rokok dalam memasarkan produk adiksinya kepada anak-anak dan melindungi mereka dari asap rokok, bahkan di rumah sekalipun," lanjutnya.

Sebagai aktivis anak, Komnas PA berharap, anak dan orang tua di Indonesia tidak menghadapi situasi seperti ini, sendirian. Pasalnya, masa depan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab orang tua saja, tetapi juga pemerintah, sesuai amanah undang-undang.


Editor : Asep Candra