Rabu, 3 September 2014

News / Bisnis & Keuangan

Cadangan Devisa Mengerikan

Selasa, 16 Oktober 2012 | 18:28 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com Posisi cadangan devisa Indonesia dinilai belum aman dan cenderung mengerikan. Pemerintah dengan Bank Indonesia (BI) harus berani membuat proyeksi berapa seharusnya cadangan devisa Indonesia di masa depan.

Salamuddin Daeng dari Institute for Global Justice mengatakan, pemerintah bisa membuat proyeksi terhadap cadangan devisa Indonesia di masa depan dengan melakukan beberapa hal, antara lain mengubah posisi impor. "Bagaimana posisi impor ke depan yang didominasi oleh barang impor kebutuhan pokok berupa bahan makanan. Tren ini dianggap given, kecuali pemerintah mengubah secara drastis kebijakan di bidang agraris," kata Salamuddin, Selasa (16/10/2012) di Jakarta.

Menurut Salamuddin, pemerintah juga bisa membuat proyeksi ekspor sehingga bisa memperkirakan komoditas yang bakal mengalami penurunan. "Dibuat proyeksi ekspor negara ini, yang sudah dapat dipastikan akan menurun karena negara ini tidak memiliki komoditas ekspor andalan. Hasil devisa dengan memasukan ekspor komoditas tambang seperti dari Freeport, Newmont, Exxon dan lain-lain hanya pembohongan publik belaka," tuturnya.

Menurut Salamuddin, program trustee funds agar dana ekspor kembali ke Indonesia juga hanya isapan jempol. "Indonesia sampai tahun 1980-an menganut sistem ekspor berdasarkan harga patokan, tapi cara ini dihapus," katanya.

Salamuddin mengatakan, salah satu sumber Indonesia mampu mempertahankan cadangan devisa adalah dengan penerbitan surat utang. "Tapi perlu di catat bahwa utang kita sudah mencapai Rp 2.000 triliun, terdiri dari Rp 1.000 triliun utang swasta dan Rp 1.000 triliun utang pemerintah. Perlu secara berani dibuat proyeksi keadaan hutang di masa depan. Kalau diasumsikan saja hutang kita tetap Rp 2.000 triliun, sudah dapat diperkirakan cadangan devisa kita akan habis karena impor lebih besar dari ekspor," paparnya.


Penulis: Khaerudin
Editor : Nasru Alam Aziz