Minggu, 23 November 2014

News / Bisnis & Keuangan

Raih Investment Grade Lagi, Ini Tanggapan Menkeu

Jumat, 19 Oktober 2012 | 09:08 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia mendapat peringkat BBB- (stable outlook) Investment Grade dari lembaga pemeringkat Rating and Investment Information Inc (R&I).

Menteri Keuangan Agus Martowardojo menjelaskan, kenaikan peringkat Sovereign Credit Rating Indonesia menjadi BBB- (stable outlook) ini akan membuat investasi di Indonesia khususnya investasi portofolio maupun foreign direct investment (FDI) akan cenderung meningkat.

"Bagi investor yang ada di Indonesia, karena credit rating meningkat, mereka akan lebih murah dalam menghimpun dana," kata Agus saat ditemui selepas Rapat Kerja dengan Komisi XI Jakarta, Kamis malam (18/10/2012).

Menurut Agus, sebetulnya dari pihak Indonesia telah mengirimkan delegasi untuk bertemu dengan pihak rating agencies dan juga para calon investor di Jepang. Pertemuan itu akan menyampaikan update kondisi Indonesia baik secara fiskal, moneter maupun sektor riil. "Dan kalau sekarang ada upgrade ke investment grade itu sudah sama dengan Japan Credit Rating. Jadi saya menyambut baik karena memang itu adalah pandangan obyektif dari rating agency di Jepang," tambahnya.

Namun, apakah dengan kenaikan rating itu akan mempengaruhi pemerintah dalam menerbitkan Samurai Bond (obligasi dengan denominasi Yen), Agus enggan berkomentar panjang. "Kita memang akan menerbitkan Samurai Bond di Jepang. Dan rating yang meningkat ini membuat percaya diri yang lebih baik bagi Indonesia baik bagi masyarakat investor ritel maupun institusi di Jepang," ucapnya

Sekadar catatan, Lem

baga pemeringkat Rating and Investment Information Inc (R&I) menaikkan Sovereign Credit Rating Indonesia menjadi BBB- (stable outlook). Rating tersebut merupakan rating ketiga yang diperoleh Indonesia setelah Fitch dan Moodys.

R&I menyatakan, faktor kunci yang mendukung upgrade bagi sovereign credit rating Indonesia adalah kekuatan Indonesia mencapai pertumbuhan yang tinggi di tengah penurunan ekonomi global. Selain itu, Indonesia dinilai mengelola fiskal secara konservatif.

Di sisi lain, utang pemerintah juga dinilai rendah dan sistem keuangan yang semakin stabil. Secara lebih rinci, analis R&I menyatakan bahwa penurunan angka pengangguran yang diiringi peningkatan pendapatan perkapita, inflasi yang terjaga dan suku bunga yang relatif rendah telah mendorong peningkatan private consumption yang menjadi penyumbang utama pertumbuhan.

Selain itu, kepercayaan yang lebih besar terhadap ekonomi Indonesia berdampak pada peningkatan foreign investment dan perbaikan iklim investasi yang berkelanjutan dengan dukungan kestabilan politik.

Baca Artikel Lain Mengenai Perekonomian Indonesia di Topik EKONOMI RI TETAP MELAJU


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Didik Purwanto
Editor : Erlangga Djumena