Sabtu, 1 November 2014

/

PANAS BUMI

PLN Beli Listrik dari PLTP Rantau Dedap

Selasa, 13 November 2012 | 02:48 WIB

Jakarta, Kompas - PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) akan membeli listrik yang dihasilkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Rantau Dedap berkapasitas 2 x 110 megawatt di Muara Enim, Sumatera Selatan. Pembangkit listrik yang dibangun PT Supreme Energy Rantau Dedap itu ditargetkan mulai beroperasi secara komersial tahun 2017.

Penandatanganan perjanjian jual beli listrik PLTP Rantau Dedap itu dilaksanakan Direktur Utama PLN Nur Pamudji dengan Direktur Utama PT Supreme Energy Rantau Dedap, Supramu Santoso, Senin (12/11), di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta. Acara itu juga dihadiri Menteri ESDM Jero Wacik dan jajarannya.

Proyek listrik swasta PLTP Rantau Dedap 2 x 110 MW itu masuk daftar proyek percepatan pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW tahap kedua. Hal ini sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2010 tentang penugasan ke PLN untuk mempercepat pembangunan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan, batubara, dan gas serta Peraturan Menteri ESDM Nomor 15 Tahun 2010 tentang daftar proyek percepatan pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan, batubara, gas, dan transmisi terkait.

Pembangkit itu diperkirakan akan menghasilkan 1.734,5 GWh per tahun. Unit 1 direncanakan beroperasi secara komersial pada Januari 2017 dan beroperasi penuh (unit 1 dan 2) pada Maret 2017. Kehadiran pembangkit itu diharapkan memperkuat sistem kelistrikan di wilayah Sumatera. ”Tarif dasar jual beli listrik yang disepakati dan telah mendapat persetujuan Menteri ESDM adalah 8,86 sen dollar AS per kWh,” ujarnya menegaskan.

Surat jaminan

Nur Pamudji menambahkan, proyek itu berhak mendapat surat jaminan kelayakan usaha yang diterbitkan Menteri Keuangan dengan skema penjaminan sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 139 Tahun 2011. Aturan itu tentang tata cara pemberian jaminan kelayakan usaha PLN untuk pembangunan pembangkit listrik memakai energi terbarukan, batubara, dan gas melalui kerja sama dengan pengembang listrik swasta.

Pada kesempatan sama, Pertamina Geothermal Energy menandatangani perjanjian dengan Auckland Uniservices Limited The University of Auckland. Hal ini sebagai tindak lanjut nota kesepahaman antara Pemerintah Indonesia dan Selandia Baru serta dilanjutkan nota kesepahaman antara PGE dan Geothermal New Zealand pada April lalu. Kerja sama itu meliputi bidang pembangunan kapasitas dan pendidikan pascasarjana di bidang panas bumi.

Kerja sama ini bertujuan membangun kemitraan jangka panjang untuk memperkuat kerja sama di bidang energi terbarukan di antara kedua negara. ”Dengan sumber daya manusia yang disiapkan, dukungan kuat kebijakan pemerintah, teknologi dikuasai, dan ketersediaan dana, kami akan dapat mempercepat tahapan pengembangan panas bumi,” kata Presiden Direktur PT PGE Slamet Riadhy. (EVY)


Editor :