Kamis, 30 Oktober 2014

News / Bisnis & Keuangan

Perkiraan 2013

Ekonomi Indonesia 2013 Diyakini Sangat Baik

Senin, 26 November 2012 | 16:59 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Perekonomian Indonesia tahun 2013 diyakini akan berkinerja amat baik oleh banyak pihak, khususnya otoritas ekonomi dan moneter. Sikap optimistis diperlihatkan oleh hampir semua pihak yang memublikasikan prakiraan ilmiah dan akademis.

Bahkan, pengamat yang cukup kritis atas beberapa aspek ekonomi sekalipun pada umumnya tetap menilai kondisi perekonomian nasional akan membaik dan stabil, terutama dilihat dari aspek makroekonomi.

Dalam satu bulan terakhir, beberapa prakiraan indikator ekonomi 2013 memang telah direvisi menjadi tak sebagus yang diutarakan pada bulan-bulan sebelumnya. Revisi yang penting di antaranya adalah berupa koreksi prakiraan angka pertumbuhan ekonomi.

Namun, tingkat pengoreksian terbilang kecil sehingga nuansa optimistis itu tetap bertahan. Indikator makroekonomi beserta alat analisis yang tersedia memang cukup mendukung adanya prakiraan perekonomian Indonesia tahun 2013 yang masih akan berkinerja bagus dan mengundang sikap optimistis otoritas ekonomi dan moneter.

Indikator dimaksud antara lain mengenai pertumbuhan ekonomi, inflasi, neraca pembayaran internasional, dan pengangguran, termasuk berbagai indikator rincian atau derivasinya. Hanya, ada aspek yang beberapa indikator dan dinamikanya cenderung ditafsirkan mendua. Padahal, pengaruhnya teramat besar.

Hal itu adalah kondisi perekonomian global, khususnya terkait dengan krisis keuangan Eropa dan isu pemulihan ekonomi Amerika Serikat.

Tiga sampai enam bulan lalu, pemulihan kondisi perekonomian global diyakini akan berjalan lancar. Dampak positifnya bagi Indonesia dianggap cukup signifikan sehingga prakiraan optimistis memiliki tambahan dasar argumen.

Sebulan terakhir ini ada koreksi dan penambahan bobot risiko atas krisis Eropa. Pemulihan ekonomi Amerika Serikat dinilai memerlukan waktu yang sedikit lebih lama.

Dampak krisis global

Seandainya pun Eropa belum bisa keluar dari krisis dan pemulihan ekonomi Amerika Serikat masih berjalan lambat, otoritas ekonomi Indonesia masih yakin akan aman dari dampak buruknya, terutama karena alasan masih kuatnya perekonomian (pasar) domestik dan hubungan yang lebih erat ke negara-negara Asia.

Bagaimanapun, argumen untuk optimistis menjadi sedikit berkurang, terutama dalam hal pertumbuhan ekonomi yang dianggap hanya akan meningkat setara dengan tahun 2012. Prakiraan ekonomi Indonesia 2013 yang dikeluarkan oleh BRIGHT Indonesia Institute di Jakarta, Senin (26/11/2012), mencoba memperluas perspektif dan memperpanjang horizon waktu analisis.

Menurut Lukman Hakim, Managing Director BRIGHT Indonesia Institute, cara pandang yang biasa dikemukakan oleh otoritas ekonomi tetap akan digunakan, tetapi hal-hal yang tersirat dari indikator juga akan dipertimbangkan. Adapun tambahan utama dalam perspektif adalah yang terkait dengan dinamika sosial politik dalam negeri.

Horizon waktu diperluas dengan menarik mundur beberapa tahun serta mencoba membuat pradugaan atas dinamika tahun berikut setelah 2013.

BRIGHT memaparkan prakiraan dengan nuansa yang tidak terlampau optimistis, tetapi juga tak bermaksud menyokong sikap pesimistis, tetapi lebih realistis.

Sebagian analisis yang bermuatan penilaian "kurang baik" lebih dimaksudkan bagi peringatan dini serta rekomendasi agar segera diantisipasi dengan kebijakan yang tepat dan cepat.

Jika harus dinyatakan dalam beberapa kalimat, Indonesia Economic Outlook 2013 ini akan berbunyi sebagai berikut: "Perekonomian Indonesia pada tahun 2013 masih akan memperlihatkan kinerja makroekonomi yang amat baik. Bahkan, termasuk di antara negara yang pertumbuhan ekonominya tertinggi. Namun, gejala pemburukan akan mulai segera terlihat yang jika tak terantisipasi berpeluang memperlambat atau bahkan menghentikan kecenderungan perbaikan selama beberapa tahun terakhir.

Kerentanan perekonomian global akan bisa menjadi gangguan yang serius dan pada akhirnya menyeret ekonomi nasional ke pusaran krisis pada 2014. Kemungkinan itu menjadi lebih terbuka karena adanya pemilu legislatif dan pemilihan presiden pada 2014 yang sedikit banyak melabilkan kondisi sosial politik yang berdampak pada dinamika ekonomi."

Awalil Rizky, peneliti senior BRIGHT Indonesia Institue, mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2013 diperkirakan bertengger di level 5,9 persen, inflasi di kisaran 5 persen. Neraca pembayaran internasional akan defisit sekitar 3 miliar dollar AS sampai 5 miliar dollar AS, kurs rupiah terhadap dollar AS secara rata-rata Rp 9.800, angka pengangguran terbuka hanya akan sedikit menurun di tingkat 6 persen.


Penulis: Tjahja Gunawan Diredja
Editor : Marcus Suprihadi