Rabu, 22 Oktober 2014

News / Bisnis & Keuangan

Tambak Udang Dipasena Bergeliat

Kamis, 29 November 2012 | 18:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Usaha budidaya udang yang dikelola oleh ribuan petambak Dipasena di Rawajitu, Lampung, kian bergeliat. Budidaya secara mandiri itu telah berlangsung 1,5 tahun sebagai buntut dari kisruh pola kemitraan antara petambak plasma dengan PT Aruna Wijaya Sakti (AWS).

Koordinator Biro Budidaya Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu (P3UW) Bumi Dipasena Eko Wahono, di Jakarta, Kamis (29/11/2012), mengemukakan, petambak menjalankan tiga jenis cara budidaya, yakni sistem tradisional, semi-intensif dan intensif.

Jumlah petambak dengan budidaya udang pola tradisional berkisar 70 persen dari total petambak. Pendapatan petambak dari hasil produksi pola tradisional pada setiap siklus berkisar Rp 12 juta-Rp 15 juta, pola semi-intensif berkisar Rp 25 juta-Rp 50 juta per siklus, dan pola intensif lebih dari Rp 50 juta per siklus.

Dalam setahun, siklus panen berlangsung hingga tiga kali dengan tenor masa produksi masing-masing 3 bulan.

Produksi yang membaik itu meningkatkan produksi udang di Lampung, yakni dari 352.000 ton tahun 2010 menjadu 381.000 ton tahun 2011. Lampung saat ini menyumbang 40 persen dari total produksi nasional.

Total produksi udang nasional tahun lalu 414.000 ton. Luas total lahan tambak udang plasma PT AWS adalah 16.000 hektar (ha), terdiri atas 16 blok di 8 kampung. Jumlah total rumah tangga petambak udang plasma berkisar 7.000 orang.

Pihaknya berharap pemerintah melakukan terobosan peningkatan produksi dengan melakukan revitalisasi tambak, dan penyambungan sarana listrik ke wilayah tambak dan permukiman penduduk. Kisruh petambak plasma dengan perusahaan mitra, PT AWS, berujung pada dihentikannya operasional perusahaan dan pasokan listrik ke tambak udang mulai 7 Mei 2011.


Penulis: Brigita Maria Lukita
Editor : Robert Adhi Ksp