Minggu, 21 September 2014

News / Bisnis & Keuangan

Perdagangan Bebas Ancam Industri Indonesia

Selasa, 11 Desember 2012 | 16:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Suryo Bambang Sulisto menilai penerapan area perdagangan bebas ASEAN (ASEAN Free Trade Area/AFTA) bisa menimbulkan dampak negatif bagi perekonomian Indonesia. Hal ini karena industri strategis Indonesia masih kalah dibanding asing.

"Penerapan AFTA itu justru tidak menimbulkan dampak positif. Hal itu banyak mengancam industri strategis kita," kata Suryo dalam konferensi pers Proyeksi Ekonomi Kadin 2013 di Hotel Grand Sahid Jakarta, Selasa (11/12/2012).

Suryo mencontohkan, bisnis waralaba asing saat ini sudah tumbuh signifikan. Hal ini justru berdampak ke usaha tradisional. Beruntung Kementerian Perdagangan telah menerapkan aturan baru tentang waralaba yang justru mendukung pengusaha lokal untuk bisa bersaing.

"Atas aturan ini, kami dukung. Sehingga pengusaha nasional turut menikmati industri waralaba," tambahnya.

Catatan Kadin, kinerja perdagangan produk industri tahun 2007-2011 justru defisit, kecuali India. Pertumbuhan impor 2-3 kali lebih tinggi dari pertumbuhan ekspor. Dengan Jepang, pertumbuhan impor Indonesia mencapai 31,2 persen. Namun pertumbuhan ekspor Indonesia hanya 7,07 persen. Dengan China, pertumbuhan impor lebih dari 300 persen, sehingga defisit perdagangan semakin besar.

"Dalam kasus perdagangan bebas ini, Indonesia berada pada pihak yang dirugikan dengan korban pengusaha sektor industri. Memang kondisi perdagangan antara negara dan wilayah berbeda-beda, tapi belajar dari kasus tersebut pemerintah mutlak harus hati-hati," tambahnya.

Suryo menilai diplomasi dan perdagangan Indonesia saat ini lemah dan sering kalah. Negoisasi dengan pihak mitra asing tidak dilakukan secara cermat dan sering diabaikan dengan menyerahkan pada pelaku negoisasi eselon bawah.

"Sehingga Indonesia selalu kalah dalam diplomasi dagang seperti ini. Beban kerugian yang besar juga ditanggung oleh dunia usaha," tambahnya.


Penulis: Didik Purwanto
Editor : Erlangga Djumena