Minggu, 21 September 2014

News / Bisnis & Keuangan

Omzet Ratusan Juta dari Broker Waralaba

Jumat, 28 Desember 2012 | 09:07 WIB

Terkait

KOMPAS.com - Bisnis waralaba terus menggeliat dalam beberapa tahun terakhir. Minat orang terhadap waralaba ini juga membawa berkah bagi para broker atau agen pemasaran waralaba. Tak heran, bila bisnis broker waralaba semakin moncer.

Biasanya, selain bisnis waralaba, broker ini juga memasarkan bisnis dengan skema kemitraan atau business opportunity (BO). Salah satu pemain yang berprofesi sebagai broker waralaba adalah Sidik Rizal di Jakarta.

Ia telah terjun ke bisnis ini sejak tahun 2008. Sebelum bergelut dengan dunia broker waralaba, ia bekerja sebagai seorang desain grafis di perusahaan biro periklanan. Namun, karena tak suka menjadi karyawan, ia pun terpikir membuat usaha sendiri.

Awalnya, Sidik fokus menawarkan keahliannya membuat website ke sejumlah pelaku usaha. Kebetulan, banyak kliennnya yang menawarkan kerjasama waralaba dan kemitraan.

Salah satu kliennya pertamanya adalah Pecel Lele Lela. Setelah kerap membuatkan website, Rizal pun semakin akrab dengan dunia usaha. Ia banyak belajar mengenai waralaba dan kemitraan.

Sejak itu, bisnisnya berkembang dari sekadar membuatkan website menjadi broker franchise. Untuk menjaring klien, Rizal getol mendekati para pelaku usaha. Ia menceritakan, pada awal-awal menjadi broker, dirinya sempat berkeliling di daerah Bekasi, Jawa Barat, guna mencari klien.

Jika melihat ada usaha yang prospek dikembangkan, Rizal mengajak si pemilik usaha untuk bekerjasama mengembangkan bisnis melalui skema waralaba.

Sebagai seorang broker, Rizal akan memoles usaha tersebut agar menarik ditawarkan ke para investor. Secara teknis, banyak hal yang dilakukannya demi memperbaiki citra usaha yang akan dijualnya.

Di antaranya, membuatkan standar operasional untuk usaha tersebut, termasuk membantu mengubah manajemen usahanya.

Selain itu, fungsi broker ini membantu menyediakan karyawan sesuai kebutuhan. Rizal juga membuatkan konsep desain interior yang baru ke kliennya.

Terakhir, tentu saja membuatkan website. Setelah semuanya siap, barulah Rizal memasarkan usaha tersebut. Ada satu tips yang dimilikinya agar usaha kliennya bisa berkembang dalam konsep kemitraan.

Yakni, memaksimalkan peran media sebagai saluran pemasaran, baik media elektronik maupun internet. Menurut Rizal, proses yang dibutuhkan untuk mengubah usaha biasa menjadi waralaba sekitar satu bulan sampai tujuh bulan.

Biaya yang dipungut sebagai broker sangat bervariatif. Untuk usaha kecil yang mengusung konsep booth, Rizal biasanya memungut biaya antara Rp 5 juta– Rp 15 juta.

Biaya untuk usaha menengah sekitar puluhan juta, dan kelas restoran bisa sampai ratusan juta. "Untuk kelas restoran ini, biaya paling mahal sampai Rp 500 juta per paket," tutur Rizal.

Di luar itu, Rizal juga mendapat komisi dari setiap investor yang bergabung sebagai terwaralaba atau mitra. Besaran komisinya 5 persen–10 persen dari nilai paket investasi. Dari usaha ini, Rizal bisa mengantongi omzet Rp 100 juta per bulan.

Agen waralaba lainnya adalah Mulyadi Handojo, Komisaris PT Mahir Food di Jakarta. Berdiri tahun 2012, perusahaan anyar ini langsung menggandeng PT Best Waralaba sebagai perusahaan agen waralaba yang sudah senior di bisnis broker waralaba.

Best Waralaba sendiri sudah sukses memasarkan beberapa usaha, seperti Jupe Fried Chicken, Rocket Fried Chicken, dan Tokiyo Bento. Kebanyakan usaha itu milik para artis dan publik figur.

Bekerjasama dengan Best Waralaba, Mahir Food juga fokus memasarkan usaha yang dimiliki para artis dan publik figur. Mereka memilih memasarkan usaha artis karena cepat berkembangnya dibanding orang biasa.

Sebagai broker, Mahir Food tidak hanya memoles sebuah usaha agar menarik ditawarkan ke para investor. Tapi juga membuatkan usaha bagi para artis tersebut.

Jadi, saat ditawari kerjasama, banyak artis yang sebenarnya belum memiliki usaha. "Usahanya kami buatkan sendiri," katanya.

Cuma, sudah ada kesepakatan sebelumnya bahwa si artis bersedia menanamkan modal dan membolehkan namanya dipakai sebagai brand usaha. Sebagai payung hukum, nanti dibuat PT atau CV yang menaungi brand tersebut.

Saat ini, misalnya, Mulyadi sedang menjajaki kerjasama dengan presenter terkenal Chantal Della Concetta untuk membuka rumah makan steak (steik). "Nanti diluncurkan awal 2013," katanya.

Kata Mulyadi, butuh waktu tiga bulan sampai usaha kuliner ini bisa diluncurkan. Mulyadi menunggu setahun agar omzetnya jelas dan terbukti manajemen bisa berjalan lancar baru menawarkan kemitraan. Mahir Food berhak atas 40 persen saham perusahaan itu. (Revi Yohana, Marantina/Kontan)        

Baca juga:
Singkong Crispy Aceng Beromzet Rp 3 Juta Per hari
Suryadi, Mantan Penjaga Toko yang Sukses di Bra

Tas Manca Terkenal sampai Mancanegara

Andris, Mengangkat Beras Garut Lewat Nasi Liwet Instan
Hinda Raup Omzet Rp 400 Juta dari Bisnis Dodol Garut

Simak artikel inspiratif lainnya di Inspirasi


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Erlangga Djumena
Sumber: