Kamis, 23 Oktober 2014

News / Bisnis & Keuangan

Samsudiredja, Berbisnis dengan Inovasi

Sabtu, 29 Desember 2012 | 13:44 WIB

Terkait

Samuel Oktora

Di tangan Samsudiredja Sunadim (61), usaha keluarga berupa produk rajutan yang ditanganinya sejak tahun 1980-an dapat bertahan sampai saat ini. Bahkan, laki-laki sarjana ekonomi itu dapat mengembangkan bisnis dengan memproduksi kain dan cairan pelapis khusus untuk penampung air hingga pupuk organik cair.

Samsudiredja juga bersyukur, dari krisis ekonomi yang terjadi tahun 1997, ancaman kebangkrutan yang menghantui usahanya justru menjadi titik tolak bisnisnya untuk berkembang.

”Krisis ekonomi tahun 1997 benar-benar masa yang sulit. Kurs dollar terus naik, harga benang juga melambung, sehingga kami harus hati-hati dalam menghasilkan produk tekstil saat itu. Saya pun harus memikirkan pengembangan produk yang benar-benar diminati dan dibutuhkan pasar,” kata Samsudiredja.

Pasar yang lesu ketika krisis ekonomi juga berdampak pada usaha Samsudiredja. Dari sekitar 500 karyawan yang sebelumnya dimiliki, ia harus mengurangi banyak karyawan. Kini, jumlah karyawannya sekitar 120 orang.

Ayah Samsudiredja sebelumnya memproduksi produk-produk tekstil, terutama produk rajutan (brokat, vitrase, dan kelambu) di Jalan Ujungberung, Bandung. Usaha tersebut mulai dirintis tahun 1970-an. Di usianya yang lanjut, sang ayah kemudian menurunkan bisnis keluarga itu kepada Samsudiredja dan ketiga adiknya.

Namun, Samsudiredja enggan mengelola. Dia menyerahkan bisnis tersebut kepada adik-adiknya untuk dilanjutkan. Dia lebih memilih membuka pabrik baru bekerja sama dengan seorang kawannya tahun 1980. Untuk berproduksi, mereka menyewa tempat di Jalan Arjuna, Bandung, dengan nama PT Surya Mas.

Dengan kegigihan dan ketekunan, usaha rajutan di tangan Samsudiredja dapat berkembang, hingga kemudian, tahun 1985, dia memutuskan berdiri sendiri. Bermodalkan pinjaman dari Bank Rakyat Indonesia, Samsudiredja mendirikan PT Catur Kartika Jaya di Desa Cileunyi, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Dia mendatangkan mesin dari Jerman.

Dari ketiga jenis produk yang dibuat (brokat, vitrase, dan kelambu), kelambu menjadi produk unggulan. Awalnya hanya diproduksi kelambu biasa (tanpa insektisida), kemudian Samsudiredja mencari terobosan dengan merancang kelambu dengan insektisida (permethrin, lambda-chyalothrin, deltamethrin).

Kelambu dengan merek dagang Duranet itu turut memberikan hasil baik dalam menurunkan angka malaria. Sebelum dipasarkan, efektivitas kelambu insektisida itu telah melalui uji laboratorium di Loka Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang, Badan Litbang Kesehatan, Kementerian Kesehatan, di Ciamis, Jawa Barat, tahun 2006.

Dari hasil uji laboratorium disimpulkan, kelambu celup insektisida itu efektif terhadap nyamuk Anopheles sp sampai dengan 20 kali pencucian karena kelambu tersebut masih mampu membunuh 90 persen atau lebih nyamuk.

Ekspor

Produk kelambu Samsudiredja tak saja diminati pasar dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Kelambu insektisida itu telah diekspor ke sejumlah negara, seperti Jepang, Australia, Singapura, Malaysia, Mauritius, Belanda, Kanada, Australia, juga Timur Tengah.

Tahun 2012, perusahaan Samsudiredja mendapat pesanan dari kontraktor yang memenangi tender di sejumlah instansi pemerintah, yaitu sekitar 12.000 kelambu untuk lingkungan TNI, 2.600 kelambu untuk Pemerintah Provinsi Papua, 1.010 kelambu untuk lingkungan Pemerintah Kota Bandung, serta 1250 kelambu untuk Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pascakrisis moneter 1997, laki-laki yang sudah beruban itu juga menangkap peluang lain dengan berinovasi menggunakan teknologi Belgia untuk mengembangkan produk kain dan cairan pelapis khusus (antibocor). Teknologi yang dinamakan Ecodur itu dapat difungsikan untuk menampung air.

”Ide awal Ecodur System untuk tempat penampungan dan pengolahan limbah. Daripada membangun dari beton, kalau gempa dapat rusak parah, dan untuk membangun kembali membutuhkan biaya besar. Dengan metode kain dan cairan pelapis ini akan lebih fleksibel. Ecodur dapat dipakai pula untuk bak penampung air hingga kedalaman 5 meter serta industri perikanan dan udang. Tanah cukup digali, lalu ditutup dengan kain Ecodur ini,” kata Samsudiredja. Perusahaannya tahun ini juga sedang membangun bak penampung air seluas 4.000 meter persegi di Banyumas, Jawa Tengah.

Masa heboh petani yang kerap kesulitan pupuk juga menginspirasi Samsudiredja membuat pupuk organik cair yang diberi nama Garant. Garant merupakan larutan kultur mikroba menguntungkan, yaitu bakteri Bacillus sp, Lactobacillus sp, Azotobacter sp, Saccharomyces sp, dan kandungan bahan-bahan organik lain.

Keunggulan pupuk organik cair ini di antaranya dapat memperbaiki tanah yang rusak, meningkatkan kesehatan tanaman, mengikat nitrogen di udara dan menghasilkan hormon perangsang tumbuh, mencegah serangan hama dan penyakit tanaman, serta menghasilkan senyawa penting untuk pertumbuhan tanaman.

”Saya bukan ahli teknik atau pertanian, tapi saya banyak membaca buku, literatur, juga belajar dari internet. Saya juga melibatkan peneliti dari sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, Universitas Padjadjaran, dan Institut Teknologi Bandung. Produk yang kami hasilkan didahului dari riset ilmiah, dan semuanya sudah mendapat hak paten,” ujarnya.

Menurut Samsudiredja, dengan bantuan pupuk organik cair secara periodik, petani pun tanpa harus memiliki tanah yang luas atau pupuk kimia dapat menanam padi dengan hasil bagus.

Padi cukup ditanam di dalam kantong plastik berukuran 40 sentimeter x 40 sentimeter, yang dapat menghasilkan 375 gram gabah kering per kantong. Dengan kata lain, penggunaan pupuk dengan teknologi Jepang itu lebih menghemat biaya, air, dan pupuk urea (kimia). Sebab, umumnya area persawahan yang menggunakan pupuk kimia membutuhkan ribuan liter air. Sementara perbandingan dengan pupuk organik cair ini, 1 liter pupuk dapat menggantikan 1.000 liter air.

Pupuk jenis ini pernah diuji coba pada lahan kentang di Banjarnegara, Jawa Tengah, hingga tiga tahun, dan produksi meningkat dari 26 ton menjadi 52 ton per hektar. Teknologi ini juga telah diterapkan di perkebunan kelapa sawit di Sumatera; pemupukan pohon apel di Batu, Jawa Timur; tanaman padi di Cianjur dan tanaman jati di Sukabumi, Jawa Barat; serta tanaman kakao di Lampung.

 

Baca juga:
Minyak Tawon, Bertahan Lebih dari 100 Tahun

Singkong Crispy Aceng Beromzet Rp 3 Juta Per hari
Suryadi, Mantan Penjaga Toko yang Sukses di Bra

Tas Manca Terkenal sampai Mancanegara

Andris, Mengangkat Beras Garut Lewat Nasi Liwet Instan

Simak artikel inspiratif lainnya di Inspirasi


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Erlangga Djumena
Sumber: