Rabu, 3 September 2014

News / Bisnis & Keuangan

Wawan, Mengolah Kulit Pari Jadi Produk Bergengsi

Sabtu, 5 Januari 2013 | 16:26 WIB

Terkait

KOMPAS.com  Berbekal pengalaman tahunan dalam pengolahan kulit ikan pari, Wawan Purnomo (36) memberanikan diri mandiri. Ia kemudian pulang kampung ke Sambon, Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah, untuk memulai usaha pengolahan kulit ikan pari. Kulit pari diolah menjadi produk ”fashion”, seperti tas, dompet, ikat pinggang, hingga sarung telepon seluler, laptop, dan tablet. Sri Rejeki

Wawan adalah lulusan Akademi Teknologi Kulit, Yogyakarta. Pilihan studinya pada Jurusan Teknologi Bahan Kulit, Karet, dan Plastik memberinya bekal pengetahuan mengenai bahan-bahan kimia yang dapat dimanfaatkan untuk pengolahan kulit, karet, dan plastik.

Selepas kuliah, ia pernah tiga tahun bergabung dengan sebuah pabrik pengolahan kulit sapi di Jakarta dengan produk lembaran kulit sapi olahan yang diekspor untuk bahan baku sepatu sebuah merek internasional ternama. Kemudian selama empat tahun, ia bergabung dengan perusahaan pengumpul kulit ikan pari di Tangerang. Perusahaan ini semula hanya sekadar mengekspor kulit mentah.

”Pemilik perusahaan lantas meminta saya untuk mencoba-coba mengolah kulit ikan pari agar bisa menjadi suatu barang jadi. Jika ia ke luar negeri, saya dibawakan data, foto, atau contoh produk dari kulit ikan pari. Sepengetahuan saya saat itu memang belum ada di dalam negeri yang mengolah kulit ikan pari menjadi barang jadi. Padahal di luar negeri, produk dari kulit ikan pari harganya sangat mahal. Kalau sekarang, bisa tiga kali lipat dari harga di dalam negeri,” kata Wawan, Minggu (30/12/2012).

Wawan kemudian pindah ke pabrik pengolah kulit di Medan dengan tugas yang sama menyusun formulasi bahan kimia yang pas untuk pengolahan kulit. Perusahaan ini semula juga hanya sekadar ekspor kulit dalam bentuk setengah jadi, seperti kulit ikan pari, buaya, dan ular. ”Tugas saya mulai dari bagaimana mengolah kulit menjadi suatu produk hingga melatih tukang jahit,” kata Wawan yang bertahan selama lima tahun.

Meski mendapatkan tawaran bekerja di tempat lain, tahun 2007 Wawan memutuskan kembali ke Boyolali dan merintis usaha sendiri. Namun, modal yang ia kumpulkan terkuras untuk biaya berobat ketika istrinya divonis terkena kanker payudara. Namun, ia tidak menyerah. Wawan memulai usahanya dari nol dengan mengerjakan sendiri produk-produknya, mulai dari mengolah kulit, mengelem, menjahit, hingga memasarkan.

”Awalnya saya bikin 50 buah, setelah habis terjual baru saya produksi lagi. Begitu terus sampai akhirnya produksi bisa meningkat dan saya bisa punya pekerja,” ungkap ayah seorang putri ini.

Produksi

Kini, Wawan dibantu tiga pekerja dengan kapasitas produksi 400 buah per bulan untuk semua item. Ia ingin menambah jumlah pekerja untuk meningkatkan kapasitas produksi, tetapi terkendala minimnya pekerja yang memiliki keterampilan sesuai dengan kebutuhan. Ide desain Wawan dari majalah, internet, atau masukan pembeli.

Sebagian besar produknya terbuat dari kulit ikan pari, sisanya dari kulit sapi, buaya, ular, hingga cakar ayam. Harga produknya mulai dari Rp 150.000-Rp 700.000 untuk dompet dan Rp 500.000-Rp 2,5 juta untuk tas, bergantung pada ukuran. Selain mengusung merek sendiri, yakni Zalfa, Wawan juga menerima pesanan dari pembeli. Misalnya tas kombinasi kulit ikan pari dan batik tulis. Sebanyak 40 persen produknya juga diekspor secara tidak langsung melalui pembeli di Bali, Jakarta, dan Surabaya.

”Dua tahun lalu saya pernah ekspor langsung ke Jepang dan Amerika Serikat. Namun, saya kerap mengalami kerepotan dalam menghitung biaya paket sehingga akhirnya saya putuskan pemasaran difokuskan ke dalam negeri. Kalau ada yang mau mengekspor produk saya, ya silakan,” ujar Wawan.

Wawan kini tengah merampungkan pembangunan ruang pamer di rumahnya di Boyolali. Meski terletak di tengah perkampungan yang berjarak 30 menit perjalanan dari Kota Solo, rumah Wawan kerap disambangi pembeli. Produknya banyak dikenal melalui pameran dan dari mulut ke mulut. Beberapa orang juga memasarkan produk Wawan melalui internet.

Mengolah kulit pari memiliki tantangan tersendiri. Jika kurang tepat dalam mengolah, lembaran kulit bisa sobek atau menjadi keras sehingga sulit dibentuk. Keunggulan kulit ikan pari adalah memiliki butiran-butiran di kulit yang tampak seperti bebatuan mutiara.

Wawan mendapatkan bahan mentah dari pengepul di Jepara. Harga kulit mentah saat ini Rp 50.000 untuk ukuran 30 cm x 20 cm yang hanya cukup untuk sebuah dompet pria. Semakin lebar kulit mentah, semakin mahal harganya. Proses pengolahan kulit dimulai dengan merontokkan sisik, lemak, hingga penyamakan. Proses ini membutuhkan waktu berhari-hari dengan menggunakan zat-zat kimia. Setelah disamak, barulah kulit diwarnai, diberi pola, dipotong, dilem, lantas dijahit.

Usaha Wawan menjadi salah satu unggulan di Boyolali. Bupati Boyolali kala itu, Sri Mulyanto, pernah datang ke bengkel kerjanya. Wawan kemudian mendapat bantuan peralatan dan kesempatan mengikuti berbagai pameran. Dinas terkait, baik dari Boyolali maupun dari Provinsi Jawa Tengah, juga kerap membawa pembeli ke bengkel kerja Wawan.

Hingga kini, hampir setiap bulan Wawan mengikuti pameran yang sangat bermanfaat untuk pengenalan produknya. ”Peluang pengolahan kulit pari masih lumayan besar karena belum banyak yang bermain,” ungkap Wawan. (Sri Rejeki)

Baca juga:
Minyak Tawon, Bertahan Lebih dari 100 Tahun

Singkong Crispy Aceng Beromzet Rp 3 Juta Per hari
Suryadi, Mantan Penjaga Toko yang Sukses di Bra

Tas Manca Terkenal sampai Mancanegara

Andris, Mengangkat Beras Garut Lewat Nasi Liwet Instan

Simak artikel inspiratif lainnya di Inspirasi


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Erlangga Djumena
Sumber: