Sabtu, 20 Desember 2014

/

Sisi Lain Pelemahan Rupiah

Selasa, 15 Januari 2013 | 02:10 WIB

Oleh Helmi Arman

Pengalaman tahun 2012 menunjukkan, dampak negatif dari pelemahan nilai tukar bisa diminimalkan dengan mengawal pergerakan secara bertahap.

Apabila volatilitas harian nilai tukar dan likuiditas pasar tetap terjaga, tidak perlu khawatir nilai rupiah akan menyentuh level Rp 10.000 per dollar AS.

Apalagi kinerja perekonomian Indonesia menggembirakan. Menurut Badan Pusat Statistik, tahun 2012 inflasi 4 persen dan pertumbuhan ekonomi 6 persen. Namun, pencapaian tersebut bukanlah tanpa biaya. Akibat kuatnya impor di tengah turunnya harga komoditas ekspor Indonesia, seperti batubara dan kelapa sawit, tahun 2012 untuk pertama kalinya neraca perdagangan Indonesia defisit pasca-1998.

Maka, nilai tukar rupiah mengalami tekanan dan terdepresiasi melebihi Rp 9.700 per dollar AS, dari posisi terkuat Rp 8.500 pada pertengahan 2011. Pelemahan nilai tukar itu akibat tingginya kebutuhan valas untuk impor.

Impor minyak

Harga beberapa komoditas ekspor belakangan memang perlahan membaik. Namun, tekanan terhadap nilai tukar rupiah belum hilang total. Data terakhir menunjukkan neraca perdagangan (November 2012) masih negatif, didorong oleh defisit neraca perdagangan minyak dan gas yang membengkak hingga 1,4 miliar dollar AS. Ini seiring

meningkatnya konsumsi gas dan bahan bakar minyak domestik, dampak kebijakan bensin murah.

Menyentuhnya nilai tukar rupiah ke level Rp 10.000 per dollar AS dikhawatirkan membuat Indonesia resesi, seperti pengalaman 1998, 2005, dan 2008 saat nilai tukar menembus Rp 10.000.

Alergi psikologis terhadap level 10.000 itu menyulitkan karena pada saat yang sama Bank Indonesia (BI) juga ingin mempertahankan cadangan devisa di atas 100 miliar dollar AS. Akibatnya, BI memiliki dua tujuan yang sulit dicapai di tengah tingginya tekanan neraca perdagangan, yakni mencegah penurunan cadangan devisa serta mengerem pelemahan rupiah. BI terlihat mengirit cadangan devisa yang dilepas ke pasar dalam intervensi hariannya, yang membuat jumlah transaksi atau likuiditas di pasar valas turun cukup signifikan.

Dalam jangka panjang, kondisi pasar yang demikian bisa berakibat kontraproduktif. Pelaku pasar, baik investor sektor riil maupun portofolio, akan memandang rupiah sebagai mata uang yang tidak likuid. Hal ini membuat pasar rentan terhadap isu kontrol devisa dan kalangan perbankan sulit melaksanakan manajemen risiko. Likuiditas pasar valas yang ketat juga bisa menaikkan biaya lindung nilai (hedging) perusahaan sektor riil.

Sebenarnya ’alergi’ pelemahan ke level 10.000 tidak perlu berlebihan. Pelemahan rupiah bisa menjadi sarana penyesuaian untuk mengurangi impor sekaligus kontrol terhadap peningkatan utang valas baru. Belajar dari pengalaman, dampak depresiasi rupiah bisa diminimalkan apabila pelemahannya terjadi tidak tiba-tiba (orderly).

Memang, saat rupiah melemah melampaui level Rp 10.000 per dollar AS tahun 2005 dan 2008, tingkat keyakinan masyarakat dan pelaku usaha terhadap perekonomian turun tajam. Indeks keyakinan konsumen dan indeks bisnis anjlok.

Konsumen yakin

Namun, saat ini tingkat keyakinan konsumen dan pelaku usaha terjaga cukup baik dan malah meningkat walaupun rupiah telah melemah lebih dari 14 persen dibandingkan pertengahan 2011. Padahal, sebagaimana tahun 2005 dan 2008, tahun lalu sempat terjadi penarikan modal investor asing yang signifikan, ditandai dengan defisit pada neraca pembayaran Indonesia paruh pertama tahun lalu.

Hal penting yang membedakan episode pelemahan rupiah sekarang ini dengan sebelumnya adalah depresiasi terjadi secara gradual. Ini seiring dengan kebijakan pengelolaan nilai tukar BI yang relatif lebih baik dengan cadangan devisa lebih kuat.

Selain itu dampak pelemahan rupiah terhadap perekonomian dipengaruhi juga oleh pergerakan nilai tukar rupiah secara ’riil’, yang berarti memperhitungkan perubahan harga barang-barang impor di negara asal. Akibat lemahnya pertumbuhan ekonomi global, pabrik di negara mitra dagang Indonesia, termasuk RRC, kelebihan kapasitas sehingga mereka menurunkan harga barang yang diekspor.

Ke depan, seyogianya harga bahan bakar minyak dinaikkan secara signifikan agar defisit neraca perdagangan migas mengecil dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah mereda. Bank sentral hendaknya terus menjaga volatilitas nilai tukar rupiah dan di samping itu juga harus terus menjaga likuiditas pasar valas.

Helmi Arman Country Economist Citibank Indonesia


Editor :