Kamis, 23 Oktober 2014

News / Bisnis & Keuangan

Inovasi Industri

Ampas Tebu pun Jadi Bahan Bakar

Selasa, 29 Januari 2013 | 15:23 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com - Dalam tiga tahun terakhir PT Perkebunan Nasional (PTPN) X mampu memangkas biaya bahan bakar minyak saat musim giling tiba. Pengurangan biaya produksi secara signifikan bisa dilakukan karena memanfaatkan ampas tebu sebagai energi penegrak mesin giling.

Pengalihan bahan bakar penggerak mesin produksi tidak sulit, karena sejak masa penjajahan Hindia Belanda, hampir seluruh pabrik gula di Indonesia disiapkan menggunakan energi dari ampas tebu. Sejak 1870, di Jawa Timur telah berdiri sejumlah pabrik gula dan hingga kini masih beroperasi.

Jatim bahkan menjadi lokomotif dalam kancah industri gula di Indonesia dengan kontribusi produksi gula nasional rata-rata antara 45 - 55 persen per tahun. Untuk mewujudkan efisiensi bahan bakar serta konservasi sumberdaya, PTPN X kata Direktur Utama PTPN X Subiyono, terus menekan BBM dalam proses produksinya dengan mengoptimalkan ampas tebu sebagai bahan bakar pengolahan.

Perseroan telah berhasil menekan biaya BBM dari sekitar Rp 130 miliar pada 2007 menjadi hanya Rp 4 miliar pada 2012, tahun 2013 ditargetkan Rp 1,5 miliar, dan pada 2014 bebas dari biaya BBM. Apalagi PTPN X merupakan perusahaan gula pertama di Indonesia yang memulai program diversifikasi dengan serius. PG Ngadiredjo (Kediri), sudah memulai program co-generation tahun 2012 dengan produksi listrik 2 Mega Watt (MW).

Program co-generation mengolah ampas tebu menjadi listrik ini juga akan diterapkan di sejumlah PG milik PTPN X antara lain di PG Pesantren Baru (Kediri), PG Gempolkrep (Mojokerto).

Kedua PG ini akan merampungkan pembangunan pabrik bioetanol pada 2013 ini dan bisa menghasilkan fuel grade ethanol 99 persen yang sangat ramah lingkungan. Pabrik bioetanol di atas lahan seluas 6,5 hektar di kompleks PG Gempolkrep Mojokerto itu berkapasitas produksi 100 kiloliter per hari. Pabrik itu menelan investasi Rp 467,79 miliar, yang Rp 313,79 miliar di antaranya berasal dari dana PTPN X sedangkan selebihnya hibah dari Jepang.

Subiyono mengatakan, bahan baku yang dibutuhkan untuk pabrik bioetanol itu adalah tetes tebu (molases) sebanyak 120.000 ton per tahun. Tetes tebu akan dipenuhi dari seluruh PG milik PTPN X.

Selama ini, tetes tebu itu dijual ke industri lain seperti pabrik makanan, sehingga nilai tambah minim. PTPN X juga bekerja sama dengan pihak ketiga untuk membangun pembangkit listrik tenaga biofuel dari limbah bioetanol yang memasok listrik ke pasar dan kepentingan PTPN X sendiri.

Ke depan, setiap pengembangan usaha didesain secara terintegrasi untuk memaksimalkan produk turunan nongula, seperti pembangunan pabrik gula terintegrasi dengan pabrik bioetanol di Pulau Madura.

PG ini nantinya akan menjalankan program co-generation. Langkah ini dinilai penting setelah mengalami kasus PG Gempolkrep di Mojokerto yang sempat diprotes bahkan berhenti produksi karena mencemari sungai akibat limbah.

Menurut Direktur Produksi PTPN X, T Sutaryanto tahun 2013, PTPN X ingin menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman di semua komleks PG. Dana untuk pembenahan lingkungan di seluruh PG pada 2013 mencapai Rp 40,8 miliar atau hampir dua kali lipat dibanding anggaran pengelolaan lingkungan tahun 2012 sebesar Rp 13,5 miliar.

Pengelolaan limbah masih menjadi persoalan di industri gula, karena limbah tak bisa diolah dengan baik, sehingga produksi terhambat dan kinerja PG merosot. Padahal kata dia, semakin baik pengelolaan lingkungan, akan makin mengefisienkan biaya perusahaan. Sehingga mampu meningkatkan laba perusahaan. Sehingga pabrik gula bisa beroperasi lancar.

Dari dana pengelolaan Rp 40,8 miliar itu, Rp 23 miliar di antaranya untuk in-house keeping agar PG selalu terjaga tingkat kebersihannya.

Adapun roadmap in-house keeping PTPN X terdiri atas tiga pilar, yaitu in-house keeping secara umum, revitalisasi sistem instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan manajemen penguatan sumber daya manusia(SDM).

In-house keeping yang baik akan meningkatkan efisiensi serta kenyamanan di lingkungan pabrik gula bia menyamai situasi di sebuah pusat perbelanjaan modern.

Kondisi pabrik prima dan bersih berpengaruh pada tingkat kehilangan pol yang kecil. Pol adalah jumlah gula yang ada dalam setiap 100 gram larutan yang diperoleh dari teknis pengukuran di pabrik. Pabrik bisa menekan tingkat kehilangan bahan olahan sehingga bisa mengoptimalkan efisiensi.

"In-house keeping yang baik bisa mencegah kebocoran dan tumpahan dalam rantai produksi di pabrik gula," katanya.

Swasembada gula Meningkatnya konsumsi masyarakat, otomatis beban 31 pabrik gula di provinsi ini bertambah. Secara nasional produksi gula mencapai 2,3 juta ton, sementara kebutuhan 5 juta ton, sehingga pemerintah perlu impor 2,7 juta ton atau (54 persen) berupa gula kristal putih dan gula kristal rafinasi untuk industri.

Pada 2014, diproyeksikan kebutuhan gula nasional mencapai 5,7 juta ton, terdiri dari gula konsumsi 3,5 juta ton yang diproduksi oleh 65 pabrik gula di Indonesia, dan gula rafinasi untuk memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman sebanyak 2,2 juta ton.

Sementara PTPN X menargetkan produksi gula pada 2013 mencapai 538.000 ton naik dari estimasi 2012 sekitar 494.000 ton. Target tersebut kata Subiyono bisa tercapai karena aksi korporasi tahun depan, berupa perluasan areal tanam tebu dan optimalisasi kapasitas terpasang mesin produksi pada 11 pabrik gula.

Untuk menyokong target tersebut, PTPN X mempersiapkan belanja modal sebesar Rp 960 miliar. Realisasi produksi tersebut menyumbang sekitar 20 persen dari total produksi gula nasional sebesar 2,56 juta ton gula konsumsi.

Untuk itu pada 2013, PTPN X akan memperluas area tanam tebu hingga 76.000 hektar dari 72.000 hektar tahun 2012. Rinciannya, 1.000 hektar di Pulau Madura dan 3.000 hektar di Lamongan, Tuban dan Bojonegoro. Seluruh lahan tebu milik rakyat, kendati demikian target 538.000 ton gula tahun 2013 bisa tercapai.

Guna mencapai swasembada gula, tak perlu menunggu hingga 2014, termasuk wacana membangun pabrik gula di luar Pulau Jawa. Alasannya, dengan 62 pabrik gula yakni 51 PG milik BUMN dan 11 milik swasta, memiliki kapasitas cukup untuk mewujudkan swasembada gula sebesar 3,1 juta ton.

Dengan asumsi rendemen 9 persen dan hari giling 160 hari di 62 PG, produksi gula nasional diyakini bisa menembus 3.136.000 ton gula. Dengan memperluas lahan tebu dan rendemen bagus, petani tidak akan beralih ke komoditas lain yang dinilai lebih menjanjikan. Sebab kenaikan harga gula juga cukup menarik minat petani bertahan di tanaman tebu.

Ketua Asosiasi Perkebunan Tebu Rakyat Indonesia Arum Sabil mengatakan, jika Indonesia ingin swasembada gula nasional, maka lahan tebu harus diperluas hingga 750.000 hektar.

Selain itu, produksi per hektar mencapai 100 ton dan rendemen minimal 10 persen. Indonesia saat ini baru memiliki lahan tebu seluas 451.000 hektar dan rendemen rata-rata nasional 8 persen. "Jika digarap serius perluasan lahan bisa terwujud dalam lima tahun," katanya.

Langkah lain adalah pemerintah harus melakukan efisiensi dan revitalisasi PG agar terjadi peningkatan rendemen. Langkah penegakan hukum juga dilakukan untuk mengantisipasi beredarnya gula impor secara ilegal.

Alasannya, dari 4,7 juta ton kebutuhan gula di Indonesia, sebanyak 2,1 jt ton di antaranya masih impor. Gula nasional yang dihasilkan dari 62 PG hanya 2,6 juta ton setahun.

Dalam upaya merealisasikan swasembada, PTPN X juga serius dalam upaya diversifikasi produk. Penggarapan produk turunan tebu jangan hanya berfokus pada gula karena masih banyak produk turunan tebu yang berpotensi untuk dikembangkan secara komersial.

Produk turunan itu kata Subiyono selaku Ketua Umum Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi) antara lain program co-generation yang mengolah ampas tebu menjadi listrik dan mengolah tetes tebu menjadi bioetanol. Jadi saatnya pabrik gula (PG) fokus pada produk turunan tebu nongula.

"Industri ini sudah seharusnya benar-benar bertransformasi menjadi industri berbasis tebu yang terintegrasi dari hulu ke hilir," ujarnya.

Apalagi di Indonesia, diversifikasi belum menjadi perhatian serius industri gula. Padahal pada tahun 1950-an pernah ada pabrik lilin dari blotong(limbah tebu) yang mampu mengekspor ke berbagai negara, tapi kini bangkrut. Pada dekade 1960-an juga pernah ada sejumlah pabrik alkohol dan spiritus di beberapa PG di Indonesia, kini justru merana.

Di Indonesia saat ini ada sekitar 45 industri koproduk tebu yang menghasilkan 14 jenis produk. Sayangnya, mayoritas dari industri tersebut dimiliki perusahaan yang sama sekali tak bergerak di bisnis pengolahan tebu. Artinya, PG hanya menyetor bahan baku ke pabrik-pabrik koproduk tersebut, sehingga PG tidak menikmati nilai tambah dari bisnis koproduk tebu.

Diversifikasi produk tebu nongula bukan sekadar produk sampingan tapi sudah menjadi produk turunan, sehingga PTPN X gencar berinovasi. Tahun 2013, otimalisasi kapasitas giling untuk menembus target produksi 538.000 ton gula bisa terealisasi, dan diversifikasi untuk menciptakan nilai tambah bagi perusahaan.

Paling utama citra pabrik gula yang kotor dan kumuh terkikis habis, sehingga keinginan untuk menambah obyek wisata ke pabrik gula pun tidak sekadar mimpi.


Penulis: Agnes Swetta Br. Pandia
Editor : Robert Adhi Ksp