Kamis, 18 Desember 2014

News / Bisnis & Keuangan

Defisit Perdagangan akibat Kegagalan Pengendalian BBM

Selasa, 2 April 2013 | 14:28 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Kenaikan pertumbuhan ekonomi nasional saat ini tidak didukung ketersediaan energi yang besar. Hal ini mengakibatkan stabilitas pertumbuhan ekonomi ditopang kegiatan impor migas akibat produksi migas nasional yang terus menurun sepanjang tahun dan pengendalian yang tidak efektif.

Anggota Komisi VII DPR, Rofi Munawar, menanggapi di Jakarta, Selasa (2/4/2013), mengatakan, "Defisit perdagangan akan terus berlanjut jika kinerja migas terus mengalami penurunan. Kebutuhan akan energi yang besar di dalam negeri harus dikompensasi dengan mendatangkan migas dari luar yang cukup besar. Jika pola ini diteruskan di tengah situasi ekonomi dan energi dunia yang kompetitif, akan sulit mencapai peningkatan perekonomian yang lebih tinggi."

Neraca perdagangan Indonesia kembali defisit pada Februari 2013 yang nilainya mencapai 327,4 juta dollar AS. Secara kumulatif (Januari-Februari 2013), jumlah defisit perdagangan Indonesia tercatat 402,1 juta dollar AS.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menuturkan, penyebab defisit neraca perdagangan adalah impor BBM bersubsidi jenis premium. Rofi menambahkan, tahun 2012 merupakan titik terendah produksi gas dan diperkirakan tahun ini merupakan titik terendah produksi minyak  840.000-850.000 barrel per hari (bph). Adapun kebutuhan BBM bersubsidi tahun 2013 diprediksi 50 juta kiloliter (KL) hingga akhir tahun.  

Beragam cara pengendalian dilakukan pemerintah untuk menekan konsumsi BBM, tetapi tidak membuahkan hasil maksimal. Keterdesakan penyediaan BBM dilakukan dengan melakuan importasi migas yang semakin tinggi dari tahun ke tahun.

"Cara paling cepat untuk memenuhi kebutuhan BBM tinggi, yaitu dengan importasi. Namun, kebijakan itu akan berbahaya di masa datang jika negara produsen menahan minyak mereka dan kemampuan fiskal kita tidak dijaga dengan baik," ujarnya.

Perlu ada terobosan serius dalam menekan laju defisit perdagangan Indonesia saat ini dari sektor migas dengan mendorong optimalisasi pemanfaatan gas, energi alternatif, dan menemukan ladang-ladang minyak baru yang potensial.

Legislator dari Jatim VII ini menyadari bahwa telah sejak lama kondisi neraca minyak nasional mengalami defisit. Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya di sektor kebijakan, melainkan juga  kemampuan mengeksekusi dan implementasi kebijakan tersebut. Bank Indonesia mencatat, tingginya impor migas tersebut diperkirakan meningkatkan kebutuhan likuiditas valas domestik.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit perdagangan sepanjang tahun lalu mencapai 1,63 miliar dollar AS karena pukulan defisit neraca perdagangan migas sebesar 5,59 miliar dollar AS. Penyebab defisit karena impor migas meningkat dari 40,7 miliar dollar AS pada 2011 menjadi 42,25 miliar dollar AS pada 2012.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Evy Rachmawati
Editor : Robert Adhi Ksp