Selasa, 2 September 2014

/

JEJAK PERADABAN

Batubara, Geliat Kota Sawahlunto

Rabu, 3 April 2013 | 03:39 WIB

Tembok kusam di belakang Balai Pendidikan dan Latihan Pertambangan Sawahlunto, Sumatera Barat, dibiarkan apa adanya. Pecahan tajam botol kaca masih menancap pada tembok berusia ratusan tahun itu. Tidak jauh dari situ, pintu terowongan yang semula menganga lebar kini ditutup beton.

Dinding tembok penuh pecahan kaca itu berada di kaki bukit kecil, yang kini digunakan sebagai kantor diklat oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Tahun 1850-an, Belanda menjadikan lembah di kaki bukit itu sebagai tempat memenjarakan pekerja paksa yang dipekerjakan di tambang batubara. Mereka menyebutnya orang rantai.

Di depan tembok terdapat halaman luas. Di seberangnya lagi ada tembok kusam dengan lubang pintu melengkung. Dari celah lubang terlihat bangunan baru yang dipakai untuk memberi pelatihan bagi petambang muda.

Saat menyusuri halaman itu, mata tak lepas dari tonjolan pecahan kaca di tembok. Seperti ada keingintahuan yang menggerakkan, ujung-ujung jari mencoba meraba-raba pecahan kaca itu. Jari-jari tak mampu mencengkeram ketika mencoba mengangkat badan. Ada rasa perih.

Terlintas dalam benak, tangan siapakah yang pernah terkoyak oleh pecahan kaca ini? ”Tembok ini dipasangi kaca supaya tahanan tidak lari. Mereka yang gagal melarikan diri, bakal disiksa lebih berat,” kata Fahrie Ahda, sejarawan yang menemani kami berkeliling Kota Sawahlunto.

Inilah sepenggal kisah yang diwariskan Sawahlunto, kota tambang yang menyimpan banyak sejarah. Kota kecil di ceruk pegunungan Bukit Barisan Sumbar ini mencoba bangkit kembali dari ”kematiannya” setelah PT Bukit Asam, perusahaan tambang terbesar, memindahkan eksplorasinya ke tempat lain menjelang tahun 1998.

Ketika ditinggalkan PT Bukit Asam, perekonomian di Sawahlunto mendadak terhenti. Denyut kehidupan mulai kembang kempis dan Sawahlunto terancam menjadi kota mati.

Yusnarni (45), warga Sawahlunto yang berjualan minuman di sekitar Hotel Ombilin, menuturkan, warung makan, kios, dan toko kelontong banyak yang tutup karena tak ada pembeli.

Pasar Oesang yang kini dikenal sebagai Pasar Remaja yang biasanya ramai pada pagi dan sore hari sama sekali sepi. Tidak ada lagi celoteh pedagang dan pembeli di pasar itu. ”Kalau sore pasar malah dipakai untuk bermain bulu tangkis atau sepak bola,” kata Yusnarni.

Medi Iswandi yang kini menjadi Kepala Dinas Pariwisata Sawahlunto ingat, ketika pertama kali datang ke kota itu pada 1998, Sawahlunto gelap gulita. Pendar lampu listrik hanya ada di beberapa tempat. Tak banyak warung atau kios di sana. Tingkat kriminalitas juga tinggi karena penduduknya tidak memiliki pekerjaan.

Sawahlunto bangkit dengan menjual kisah masa lalunya. Kisah itu dikemas dalam bentuk revitalisasi kota tua yang dilakukan sejak tahun 2005. Bangunan peninggalan Belanda diperbaiki dan difungsikan kembali untuk kegiatan perekonomian, seperti bank, kafe, hotel, kantor, toko serba ada, kantor pegadaian, dan museum. Kota itu kini tidak lagi mengandalkan sektor pertambangan, tetapi dari pariwisata.

Wali Kota Sawahlunto Amran Noor mengatakan, perekonomian yang sempat mati membuat banyak warganya beranjak pergi. Mereka tidak mau lagi tinggal di kota itu karena tak bisa mengumpulkan rezeki. Tahun 1998-2003 terjadi eksodus besar- besaran. Sekitar 7.000 keluarga meninggalkan Sawahlunto dan mencari penghidupan di daerah lain.

Susuri tambang

Perjalanan kami menuju Sawahlunto dimulai dari Kota Bukit Tinggi yang berjarak sekitar 3 jam perjalanan dengan mobil. Kondisi jalan dari Batusangkar ke Sawahlunto, terutama menjelang Talawi, diwarnai jalanan ambles di beberapa bagian. Mobil harus berjalan pelan agar tidak terguling karena sangat miring.

Kendaraan yang kami tumpangi tiba di Sawahlunto menjelang pukul 21.00, pekan lalu. Dari atas bukit tampak pendar cahaya kuning, yang ternyata berasal dari huruf besar bertuliskan Sawahlunto yang dipasang di atas bukit. Mirip Hollywood di Amerika Serikat.

Begitu memasuki kota, tiga silo besar yang berdiri seperti raksasa di kegelapan malam menyergap mata. Silo adalah silinder besar terbuat dari beton yang berfungsi sebagai tempat penampungan batubara. Tinggi silo kira-kira setara gedung berlantai 10. Ada tiga lokasi silo di Sawahlunto yang dibangun pada masa penjajahan Belanda.

Selain silo, Belanda banyak membangun infrastruktur di Sawahlunto terkait dengan pertambangan batubara, seperti gudang ransum, dapur umum, permukiman bagi orang China yang bekerja sebagai buruh kontrak atau pedagang, gedung tempat berkumpulnya orang Eropa (Belanda dan Jerman), gedung komedi, dan jalur kereta api hingga ke Pelabuhan Teluk Bayur di Kota Padang. Selain pelabuhan, semua infrastruktur itu kini menjadi museum dan lanskap penghias kota.

Sebelum kedatangan Belanda, Sawahlunto adalah daerah persawahan dan perladangan yang berada dalam wilayah adat Nagari Kubang. Tahun 1887, Belanda mulai membangun kota setelah menemukan batubara. Kota sebagai pusat permukiman dan kegiatan lain pada masa kolonial itu dikenal sebagai kawasan Kota Lama.

Kota Lama termasuk dalam wilayah Kecamatan Barangin dan Lembah Segar. Bangunan kota bercirikan arsitektur Eropa dan pecinan, bercampur dengan arsitektur lokal.

Melihat silo raksasa membuat kami ingin segera menelusuri Sawahlunto saat itu juga. Namun, pada malam hari belum begitu banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Sawahlunto, kecuali sekadar duduk sambil makan minum di kafe dan restoran di sekitar Jalan Yos Sudarso dan Jalan M Yamin, Pasar Lama, yang adalah pusat kota Sawahlunto. Luas kota lama sekitar 576 hektar.

Pagi harinya, kami menuju kawasan Kandis, yaitu areal pertambangan PT Bukit Asam (PTBA) yang kini dikembangkan menjadi Taman Satwa. Area kebun binatang dan permainan luar ruang serta gelanggang pacuan kuda berstandar internasional, seperti di Pulomas, Jakarta Timur. Di situ juga sedang dikembangkan dreamland, yakni taman bermain yang berisi beragam wahana permainan, seperti di Ancol, Jakarta Utara.

Kami hanya melewati wahana permainan itu karena tujuan utama adalah melihat bekas areal tambang terbuka milik PTBA. Setelah mendaki bukit, kami bisa melihat lubang menganga lebar dari atas bukit. Lubang itu seperti kawah besar gunung berapi atau seperti ada batu meteor raksasa yang baru saja menumbuk bumi. Di pinggir dinding kawah itu tampak guratan seperti ulir yang ternyata adalah jalan untuk truk pengangkut batubara.

”Kawasan ini sekarang dikelola oleh PT Tahiti Coal. Perusahaan rakyat yang menggali di bekas areal PTBA,” kata Medi. Setelah PTBA tak lagi menambang, Pemerintah Kota Sawahlunto memberikan izin pertambangan rakyat di areal terbatas. Sepuluh mantan petambang liar lalu membuat perusahaan.

Setelah melihat tambang yang masih aktif, kami kembali ke tengah kota untuk melihat lorong gelap tambang dalam perut bukit yang kini dibuka untuk wisatawan. Nama tambang itu adalah Lubang Mbah Soero.

Lubang Mbah Soero

Lubang Mbah Soero adalah tempat awal penambangan di Sawahlunto. Pembukaan Lubang Mbah Soero dilakukan pada 1891, tetapi pembangunannya dilakukan tahun 1898. Dalam lubang gelap itu tersimpan 45 juta ton cadangan batubara yang belum seluruhnya dieksplorasi. Nama Mbah Soero diambil dari nama mandor yang dulu bertanggung jawab terhadap pekerja di terowongan itu.

Tahun 1927, lubang itu ditutup. Belanda membangun permukiman di sekitar terowongan itu. Penambangan di Lubang Soero juga dihentikan karena lokasinya berdekatan dengan Batang (Sungai) Lunto sehingga ada rembesan dalam lubang.

Kini dengan membayar Rp 8.000, pengunjung bisa masuk dalam lubang sedalam hampir 200 meter. Lubang itu digali dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Panjang lubang itu konon mencapai 1,5 kilometer, berada di bawah permukiman penduduk. Namun, hanya sebagian yang bisa dimasuki pengunjung.

Di dinding terowongan terlihat bekas tempaan benda tajam pada dinding batu yang membentuk guratan alur hitam batubara. Lapisan batubara itu masih menyatu dengan lapisan tanah sehingga tampak kotor. ”Batubara ini bisa terbakar sendiri kalau tidak tertutup lapisan tanah,” kata Willison, penjaga Lubang Mbah Soero.

Terowongan yang lebarnya sekitar dua meter itu memiliki beberapa cabang, yang ditutup agar orang tak tersesat. Saat menyusuri terowongan, air tanah menetes dari ”atap” bahkan di beberapa tempat menyembur dari dinding terowongan. Udara segar diembuskan dari pipa besar ke dalam terowongan agar pengunjung tidak pengap.

Kami berjalan menyusuri terowongan sambil mendengarkan cerita Willison. Ia tak cuma bercerita tentang kisah pekerja paksa dalam Lubang Mbah Soero itu, tetapi juga tentang pengalaman mistis dalam lubang terkait banyaknya pekerja yang meninggal di dalamnya. Di salah satu ceruk lorong tambang, ia menemukan potongan kaki saat lubang itu dibenahi untuk pariwisata.(Lusiana Indriasari)


Editor :