Rabu, 1 Oktober 2014

News / Bisnis & Keuangan

KAI Studi Banding ke China (Bagian 3)

Mau Kereta Supercepat tapi Mahal

Rabu, 3 April 2013 | 11:35 WIB

Pada 23-27 Maret 2013, PT KAI mengirim 105 karyawan berprestasi untuk mengikuti studi banding ke Beijing dan Shanghai, China. Karyawan yang dikirim mulai dari pemeriksa rantai gerbong, pemeriksa rel, masinis, mekanik, pegawai tiket, satpam, supervisor, hingga manajer. Berikut catatan Kompas.com yang mengikuti perjalanan studi mereka.

(Bagian 3-Habis)

BEIJING, KOMPAS.com — Tidak ada bunyi berderit ketika kereta peluru supercepat atau China Railway High-Speed (CRH) melakukan deselerasi sesaat memasuki Stasiun Hong Qiao di Shanghai. Jalan layang bebas hambatan terlihat mengurai bertingkat tiga saat melewati persimpangan.

Lima jam perjalanan sejauh 1.318 kilometer dari Beijing ke Shanghai sangat tidak terasa. Banyak pengalaman yang didapat rombongan studi banding mulai dari berangkat hingga sampai di Shanghai. Mulai dari infrastruktur, sistem pelayanan, hingga teknologi.

Farial, pemeriksa rel dari Divre II Padang, jadi sadar mengenai pentingnya jalur perlintasan kereta yang steril dan bebas hambatan. Semua demi kecepatan dan keamanan kereta. "Tapi entah bagaimana caranya petugas kereta di China memeriksa rel yang panjangnya ribuan kilometer, kalau saya biasa memeriksa manual dengan berjalan kaki, jalur rawan longsor dan pohon tumbang," ujarnya.

Pemerintah China memang berkomitmen membangun jalan layang khusus untuk menunjang keamanan kereta peluru. Sebab, gangguan sedikit saja bisa sangat fatal, akan mengakibatkan kecelakaan maut.

Hal lainnya yang disadari betul yaitu rangkaian gerbong dilengkapi sarana termutakhir. Jika ingin melihat kebersihan kereta, tengok langsung toiletnya. Benar saja, toilet bekerja otomatis dan terlihat bersih. Catatan, cuma ada satu toilet di Beijing South Railway Station yang jorok, bau pesing, dan terisi puntung rokok.

Soal keamanan di dalam gerbong, belum ada laporan gangguan yang pernah diberitakan. Sepanjang perjalanan di dalam gerbong malah tidak terlihat satu pun polisi khusus KA berseragam ala militer dan kondektur laki-laki. "Ke mana para polsuska dan kondektur?" tanya anggota rombongan studi. Yang ada hanya para pramugari cekatan, tegas, dan disiplin melayani penumpang.

Para pramugari itu bekerja sekaligus sebagai pramusaji dan kondektur yang memeriksa tiket penumpang. Setiap gerbong memiliki seorang wanita lain yang setia bertugas penjaga kebersihan. Seusai memungut sampah, dia kembali ke posisi siap berdiri di ujung gerbong di samping mesin penyaji air gratis untuk penumpang.

Terpintas di mulut Farial sulitnya menerapkan kehebatan kereta peluru di Indonesia. Namun, setidaknya rombongan studi memiliki semangat untuk berubah dan membuka wawasan bagaimana sebenarnya perkembangan dunia perkeretaapian di luar negeri.

Khususnya China, negara komunis ini pada 22 Desember 2012, telah menoreh sejarah baru membangun rute kereta listrik terpanjang di dunia, yaitu dari utara Ibu Kota Beijing menuju selatan di Guangzhou sejauh 2.298 kilometer. Kereta yang digunakan masih CRH dengan kecepatan 300 kilometer per jam.

Kereta magnet

Perjalanan dengan kereta peluru CRH begitu nyaman. Namun, ongkos yang harus dibayar penumpang relatif tinggi. Harga tiket Beijing-Shanghai 553 yuan atau sekitar Rp 867.000. Itulah faktanya, "Kereta itu sebenarnya (ongkosnya) mahal," kata Direktur Keuangan PT KAI, Kurniadi Atmosasmito, di sela mendampingi rombongan studi.

Kepada rombongan studi, Kurniadi menerangkan bahwa PT KAI saat ini tengah melakukan investasi besar-besaran. Untuk pembangunan kereta api sampai 2018 menelan dana Rp 15 triliun. "Yang seumur hidup kereta api tidak pernah meminjam uang, kali ini meminjam, kenapa? karena untuk pertumbuhan," ujarnya.

Dana tersebut tidak seberapa jika dibandingkan dengan pembangunan kereta magnet supercepat atau Shanghai Maglev Train pada 2003 yang menelan dana Rp 12 triliun. Kereta dibangun oleh dua perusahaan patungan dari Jerman, sedangkan jalur dibangun oleh perusahaan lokal.

Di pengujung perjalanan studi banding, karyawan PT KAI menjajal kereta magnet tersebut dari Stasiun Long Yang Shanghai menuju Bandara Internasional Pudong dengan harga tiket 50 Yuan atau Rp 70.000.

Saat rombongan mencoba, kereta magnet ini melesat dengan kecepatan 300 kilometer per jam. Ke bandara dengan jarak 31 kilometer ditempuh dalam waktu 6 menit. Jika menggunakan bus, maka perjalanan memakan waktu normal 30 menit.

Tour leader, Hendy Hantoyo, mengatakan bahwa pemerintah China sebenarnya akan membangun lebih banyak lagi kereta magnet ini di Shanghai. Namun, karena dana yang dibutuhkan sangat besar, kereta magnet, sementara ini hanya ada untuk rute stasiun di kota menuju bandara.

Kereta magnet mendengung. Saat memulai keberangkatan, akselerasinya sangat cepat lalu melaju tanpa hambatan mengantar rombongan studi banding ke bandara untuk pulang kembali ke Indonesia. (Habis)

Baca juga:


Lihat foto lengkap di:


Penulis: Fikria Hidayat
Editor : Fikria Hidayat