Selasa, 25 November 2014

News / Bisnis & Keuangan

Indef: Defisit Neraca Perdagangan Indonesia Kritis

Rabu, 10 April 2013 | 03:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Defisit perdagangan Indonesia pada 2012 terjadi dengan hampir seluruh negara mitra dagang. Surplus hanya datang dari tiga negara mitra dagang.

"Neraca perdagangan nonmigas Indonesia dengan negara-negara lain mengalami defisit yang kritis, masih beruntung karena ditopang potensi kekayaan alam Indonesia," kata peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto, dalam jumpa pers "Evaluasi Triwulan INDEF: Interrelasi Ganda dan Inflasi" di Jakarta, Selasa (9/4/2013). Dia mengatakan, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit hampir dengan semua negara mitra dagang.

Eko mengatakan, pada 2012, Indonesia hanya mengalami surplus perdagangan dengan tiga negara, yaitu Inggris, Amerika Serikat, dan India, sedangkan pada Januari hingga Februari 2013, bertambah terhadap Malaysia dan Singapura, tetapi dengan surplus yang relatif kecil.

Menurut Eko, tekanan defisit perdagangan paling masif terjadi dengan China, terutama sejak diberlakukannya China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA). "Defisit semakin buruk karena Indonesia tidak siap (saat) bergabung dalam CAFTA," ujarnya.

Tak ada sinergi kebijakan

Eko mengatakan, neraca perdagangan nonmigas Indonesia sangat bergantung pada dua komoditas utama, yaitu batu bara (17,2 persen) dan minyak nabati (13,3 persen). Bila batu bara menipis, neraca perdagangan nonmigas akan semakin kritis.

Sementara itu, dari sisi impor nonmigas, Indonesia sangat bergantung pada bahan baku serta barang modal. Bahan baku tersebut antara lain bagian perlengkapan kendaraan bermotor, hidrokarbon, halogenasi, sulfonasi, besi lembaran, dan makanan ternak, sedangkan barang modal antara lain kendaraan bermotor, peralatan telekomunikasi, dan berbagai macam mesin.

"Porsi impor bahan baku mencapai 66,8 persen, sementara barang modal mencapai 24,5 persen. Itu menunjukkan ketiadaan sinergi antara kebijakan perdagangan, industri, dan penanaman modal," papar Eko.

Indef menyatakan, defisit ganda, defisit perdagangan, defisit keseimbangan primer APBN, serta inflasi akan memberatkan perekonomian Indonesia. Defisit perdagangan yang terjadi pada 2012 dan awal 2013 disebabkan ketergantungan yang tinggi terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).

Karena itu, Indef merekomendasikan pemerintah mengambil langkah fundamental untuk mengurangi defisit perdagangan dengan mengendalikan impor migas. Target kuota BBM bersubsidi harus dipatok secara konsisten. Langkah untuk mendukung kebijakan itu adalah dengan meningkatkan harga BBM. (Dewanto Samodro/Ruslan Burhani)

 


Editor : Palupi Annisa Auliani
Sumber: