Senin, 1 September 2014

News / Bisnis & Keuangan

Cadangan Devisa RI Turun Menjadi 104,8 Miliar Dollar AS

Kamis, 11 April 2013 | 14:54 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) mencatat nilai cadangan devisa Indonesia hingga akhir Maret 2013 menjadi sebesar 104,8 miliar dollar AS. Nilai tersebut turun dibandingkan akhir Februari 2013 yang masih sebesar 105,183 miliar dollar AS.

Gubernur BI Darmin Nasution mengatakan, nilai cadangan devisa tersebut setara dengan 5,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. "Meski mengalami penurunan, namun nilainya masih di atas standar kecukupan internasional," kata Darmin saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (11/4/2013).

Berdasarkan data dari Bank Indonesia, regulator moneter ini mengeluarkan dana untuk menyelenggarakan operasi pasar terbuka dan untuk menyelematkan nilai tukar rupiah yang terus melemah.

Dana yang digelontorkan sebesar 272,08 miliar dollar AS, turun dibandingkan dana operasi pasar pada akhir Februari 2013 sebesar 274,96 miliar dollar AS. Memang sejak awal April ini, kondisi nilai tukar rupiah terus merosot dari semula Rp 9.735 per dollar AS menjadi Rp 9.753 per dollar AS.

Namun di hari ini, rupiah sudah sedikit menguat ke level Rp 9.688 per dollar AS. Selain itu, bank sentral mencatat uang primer yang beredar di pasar hingga akhir Maret 2013 sebesar Rp 664,93 miliar dollar AS, naik dibanding bulan sebelumnya 655,48 miliar dollar AS.

Nilai tersebut terdiri dari uang kertas dan uang logam yang diedarkan sebesar 394,82 miliar dollar AS, naik dibanding bulan sebelumnya 387,67 miliar dollar AS serta saldo giro bank pada BI sebesar 230,8 miliar dollar AS, naik tipis dibanding sebelumnya 229,28 miliar dollar AS.

Sementara dari posisi aktiva luar negeri bersih naik dari 983,18 miliar dollar AS menjadi 985,39 miliar dollar AS. Sedangkan aktiva domestik bersih tercatat turun dari 327,7 miliar dollar AS menjadi 320,45 miliar dollar AS. Di sisi eksternal, neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal II-2013 diperkirakan mengalami defisit yang lebih rendah dari kuartal sebelumnya seiring membaiknya transaksi modal dan finansial (TMF). Membaiknya TMF terutama didorong oleh arus investasi portofolio, termasuk penerbitan global bond oleh pemerintah, yang meningkat sejalan dengan masih kuatnya fundamental ekonomi Indonesia dan dampak kebijakan ekonomi global yang masih akomodatif. "Namun, defisit transaksi berjalan diperkirakan meningkat terutama karena impor yang masih cukup tinggi, antara lain terkait masih tingginya konsumsi BBM (bahan bakar minyak)," tambahnya.


Penulis: Didik Purwanto
Editor : Erlangga Djumena