Senin, 24 November 2014

News / Bisnis & Keuangan

Tak Semua "Orang Susah" Setuju Subsidi BBM Diganti BLT

Jumat, 12 April 2013 | 03:02 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Sebagian masyarakat tidak menyetujui rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan diganti dengan bantuan langsung tunai (BLT) kepada masyarakat kurang mampu. Salah satu alasannya, BLT tidak bisa dinikmati oleh warga miskin yang tidak terdaftar dalam daftar keluarga kurang mampu.

"Kalau saya enggak setuju. Udah susah cari uang, masa mau dinaikin lagi," kata Suwardi (55) , warga Kemanggisan Pulo RT 9 RW 17 di Palmerah, Kamis (11/4/2013). Dia sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek berpenghasilan sekitar Rp 30 ribu per hari.

Dari pendapatan itu, kata Suwardi, masih harus dipotong biaya untuk membeli bensin saat menarik penumpang. Biasanya, dalam dua hari, dia menghabiskan Rp 15.000 untuk membeli bensin.

Suwardi pun mengatakan, keluarganya tak masuk dalam daftar penerima BLT. Itu menjadi salah satu alasannya menolak rencana pemerintah menaikkan harga BBM dan memberikan BLT Rp 300 ribu per bulan sebagai kompensasi.

Ketidaksetujuan juga dilontarkan Ratmi, warga Manggarai, Jakarta Selatan. Dia yang berjualan sayuran mengaku tak setuju kenaikan harga BBM karena semua harga sembako juga bakal ikut naik. Dengan begitu, uang BLT yang diberikan pemerintah tidak akan banyak membantu. "Kalau BBM naik kan semuanya naik. Uang Rp 300.000 bisa dapat apa nanti," katanya.

Ada sih yang setuju

Berbeda dengan Suwandi dan Ratmi, Jaelani (22), pedagang gorengan di Palmerah, Jakarta Barat, mengatakan, dia tidak keberatan dengan rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Dia berharap kalau harga BBM naik, orang akan lebih bijak menggunakan BBM. 

"Saya setuju dinaikkan (harga BBM-red). Soalnya sekarang yang pake motor kebanyakan cuma buat main-main dan pacaran. Bikin macet jalanan saja," kata Jaelani. Menurut dia, kenaikan harga BBM, bantuan sebagai kompensasi subsidi yang hilang akan lebih tepat sasaran.

Jaelani selama ini menunggang motor untuk berbelanja bahan dagangan. Namun, itu tetap tak membuatnya keberatan dengan rencana kenaikan harga BBM. "Saya biasanya beli bensin 2 liter buat satu minggu. Jadi enggak masalah kalau dinaikkan harganya," katanya.

Saat ini, wacana kenaikan harga BBM menjadi salah satu opsi yang akan dipilih pemerintah terkait terus membengkaknya angka subsidi BBM yang menyumbang defisit APBN. Melengkapi wacana kenaikan harga, disiapkan pula rencana paket kompensasi serupa BLT, tetapi menggunakan nama bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) senilai Rp 25,56 triliun.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Alfiyyatur Rohmah
Editor : Palupi Annisa Auliani