Rabu, 23 Juli 2014

News / Bisnis & Keuangan

Kenaikan Harga BBM untuk "Kelas Atas" Tetap Berdampak terhadap Buruh

Sabtu, 20 April 2013 | 05:24 WIB

Baca juga

JAKARTA, KOMPAS.com — Rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dinilai akan kembali menekan hidup buruh meski kenaikan harga ditujukan untuk kelas menengah ke atas. Untuk itu, serikat buruh menolak rencana pemerintah tersebut.

"Setiap kenaikan harga BBM Rp 2.000 per liter akan mengakibatkan daya beli buruh turun 30 persen. Gaji buruh baru naik. Itu sama saja tidak naik kalau BBM dinaikkan nantinya," kata Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, Said Iqbal, di Jakarta, Sabtu (20/4/2013), menyikapi rencana pemerintah membuat dua harga BBM.

Pemerintah akan mengurangi subsidi BBM bagi pengguna mobil pribadi dengan menerapkan harga Premium pada kisaran Rp 6.500 per liter. Sementara itu, pengguna sepeda motor dan angkutan umum masih bisa membeli Premium dengan harga Rp 4.500 per liter.

Said mengatakan, meskipun harga BBM yang naik untuk kalangan mampu, kebijakan itu tetap akan menaikkan berbagai harga. Ia memberi contoh kenaikan harga sewa rumah. Tarif transportasi pun diyakini akan naik lantaran harga suku cadang dan biaya servis kendaraan akan naik.

Said menambahkan, para buruh akan berpikir ulang terkait penolakan kenaikan harga BBM jika pemerintah mengalihkan anggaran subsidi BBM itu dengan kebijakan yang tepat. Misalnya, memberikan jaminan penuh kesehatan masyarakat. Selain itu, kata dia, buruh pun akan berpikir ulang jika pemerintah secara terbuka mengungkapkan penggunaan anggaran subsidi BBM.

Selain itu, tegas Said, buruh juga menolak bila rencana kebijakan ini akan dimanfaatkan untuk pencitraan partai politik tertentu seperti halnya program bantuan langsung tunai. Apalagi, kata dia, saat ini sudah menjelang Pemilu 2014. "Jangan-jangan anggarannya nanti dipakai untuk partai. Maka kami menolak. Kalau mau, habis pemilu kita diskusi lagi. Jangan karena pemerintah tidak efisien lalu beban diserahkan ke rakyat. Kita akan angkat isu BBM waktu May Day (hari buruh 1 Mei) nanti," pungkas dia.

Secara terpisah, Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan, jika harga BBM untuk kalangan menengah ke atas dinaikkan, memang akan menaikkan harga-harga. Diperkirakan, inflasi bakal naik 0,5 persen. Hanya saja, kata dia, masalah itu bisa diatasi dengan menambah anggaran untuk alokasi yang sudah ada seperti beras miskin, beasiswa untuk anak tidak mampu, dan lainnya.

Politisi Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, berharap agar para buruh tidak memaksa buruh lain untuk melakukan demo. Semua pihak harus menjaga stabilitas politik dan keaman. "Tolonglah sahabat-habat buruh, kita mau tahun pemilu. Jaga stabilitas karena kita mau pemilu yang baik. Aku masih lihat paksa-paksa demo," ucapnya.

Berita terkait dapat dibaca dalam topik: Subsidi BBM untuk Orang Kaya?


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Sandro Gatra
Editor : Palupi Annisa Auliani