Jumat, 24 Oktober 2014

News / Bisnis & Keuangan

BBM Bersubsidi

Kelangkaan Solar Telah Meresahkan

Kamis, 25 April 2013 | 20:33 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com— Anggota Komisi VII DPR RI Rofi Munawar di Jakarta, Kamis (25/4/2013), meminta pemerintah serius mengatasi soal kelangkaan solar bersubsidi yang sudah meresahkan rakyat. Menurutnya, kelangkaan solar bersubsidi sudah semakin parah merambah jalur pantai utara Surabaya-Bali.

Antrean truk dan bus menumpuk di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) kendati tertulis pemberitahuan solar habis, sejak Selasa (23/4/2013). Adapun pelaku usaha kecil dan menengah di Sumatera Utara juga terancam tidak berproduksi akibat kesulitan mendapatkan solar bersubsidi.

Jika kelangkaan ini dibiarkan berlarut-larut, maka akan menimbulkan gejolak sosial dan mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat. "Pemerintah harus bertindak segera mengatasi kelangkaan ini dan tidak boleh membiarkan situasi berlarut-larut. Antrean solar di Provinsi Jatim dan beberapa daerah di Indonesia menunjukkan adanya mekanisme yang salah dalam distribusi solar selama ini," ujarnya.

PT Pertamina Region V Jatim, menurut Rofi Munawar, mulai bulan ini mengurangi pasokan solar bersubsidi sebesar 5 persen. Sesuai penugasan pemerintah, kuota solar bersubsidi yang menjadi tanggung jawab Pertamina tahun ini lebih rendah 8,3 persen dibandingkan dengan realisasi penyaluran tahun lalu.

Secara nasional, kuota solar bersubsidi tahun 2012 sebesar 15,56 juta kiloliter, turun menjadi 14,28 juta kiloliter tahun ini. Di wilayah Jatim, hingga saat ini jumlah SPBU yang dapat melayani pembelian BBM nonsubsidi sebanyak 669 unit untuk Pertamax/Plus dan 81 di antaranya juga menyediakan Pertamina DEX melalui pompa dispenser.

Rofi menambahkan, pemerintah saat ini melakukan pengendalian tanpa memperhatikan kebutuhan dan sosialisasi yang intensif kepada masyarakat. Kelangkaan solar saat ini telah berdampak luas terhadap sektor kehidupan lainnya, seperti para nelayan kesulitan mendapatkan pasokan solar untuk melaut, petani terkendala dalam melakukan penggilangan padi pascapanen, terhambatnya distribusi komoditas pokok, dan timbulnya kemaceten yang membuat biaya logistik meningkat.


Penulis: Imam Prihadiyoko
Editor : Marcus Suprihadi