Selasa, 2 September 2014

News / Bisnis & Keuangan

Harga Buah Lokal dan Impor Merangkak Naik Hingga 25 Persen

Minggu, 12 Mei 2013 | 13:59 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pedagang mengeluhkan kenaikan harga buah khususnya buah lokal dan impor di pasar. Naiknya harga buah membuat dagangan lesu. Pembeli semakin berkurang mengonsumsi buah lokal, apalagi buah impor.

Amin (40 tahun), pedagang buah di Pasar Klender Jakarta Timur, mengatakan, harga buah cenderung melonjak menjelang liburan panjang sekolah dan bulan puasa.

"Buah yang harganya naik adalah apel, jeruk, pear, salak hingga jeruk medan. Naiknya bisa di atas 25 persen," kata Amin saat ditemui media di Pasar Klender Jakarta Timur, Minggu (12/5/2013).

Ia menuturkan, agen menjual jeruk kecil sekardus seharga Rp 110.000. Sampai di pedagang harganya menjadi Rp 115.000 sekardus. Padahal, tahun lalu harga jeruk kecil masih Rp 50.000 sekardus. Sementara, harga salak pondoh naik dari Rp 7.000 menjadi Rp 9.000 per kg. Jeruk Medan naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 15.000 per kg. Sedangkan, jeruk impor naik dari Rp 60.000 menjadi Rp 115.000 per kardus. Amin menambahkan, jeruk impor ini sudah lama tidak masuk pasar.

"Baru bulan kemarin masuk, tapi harganya langsung naik," tambahnya.

Untuk harga apel impor mencapai Rp 350.000 per kardus dengan isi sekitar 20 kg. Biasanya pedagang menjual apel impor Rp 17.000 pr kg, namun saat ini harus menjual sekitar Rp 30.000 per kg.

"Untung saja saya punya usaha katering. Jadi kalau buah ini tidak laku, saya akan jual melalui usaha katering saya. Soalnya buah itu tidak bisa tahan lama, maksimal cuma empat hari," tambahnya.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan hari ini memantau harga pangan serta produk hortikultura di Pasar Klender Jakarta Timur. Hasilnya, harga cabai keriting dan harga daging sapi masih tinggi. Ia berjanji, pihaknya dalam waktu dekat akan segera menurunkan harga pangan tersebut. Apalagi saat ini adalah musim liburan sekolah dan menjelang puasa.


Penulis: Didik Purwanto
Editor : Heru Margianto