Sabtu, 20 Desember 2014

/

G-7 Lunak terhadap Jepang

Senin, 13 Mei 2013 | 03:40 WIB

AYLESBURY, Minggu - Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari negara-negara maju yang tergabung dalam Kelompok Tujuh (G-7) bersikap lunak terhadap kebijakan moneter Jepang belakangan ini.

Menurut mereka, stimulus yang dilakukan Jepang bertujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang sudah stagnan selama dua dekade terakhir. Kebijakan itu bukan untuk melemahkan kurs yen agar ekspor Jepang lebih kompetitif lagi.

Dalam kesimpulan setelah dua hari bertemu akhir pekan lalu di Aylesbury, Inggris, Menteri Keuangan Inggris George Osborne mengatakan, ada kesepakatan formal di antara para anggota bahwa setiap negara perlu menjaga pertumbuhan ekonominya.

Jepang, yang merupakan negara dengan kekuatan ekonomi terbesar ketiga di dunia, menjadi pusat perhatian belakangan ini. Pemerintahan baru Perdana Menteri Shinzo Abe telah berjanji melakukan terobosan untuk menggerakkan lagi perekonomian Jepang.

Sebagai bagian dari rencana tersebut, Bank of Japan merencanakan menggandakan jumlah uang beredar di Jepang. Salah satu dampak kebijakan tersebut adalah penurunan kurs yen yang dramatis.

Kamis pekan lalu, kurs dollar AS naik menjadi di atas 100 yen untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir. Kurs yen terhadap dollar AS telah melemah 20 persen sejak Oktober tahun lalu.

Penurunan ini membuat harga barang ekspor Jepang lebih murah. Tetangga Jepang, Korea Selatan (Korsel), pekan lalu secara mengejutkan menurunkan tingkat suku bunga perbankannya.

Penurunan ini merupakan upaya untuk menaikkan kinerja ekspor Korsel yang menurun belakangan ini.

Penurunan kurs yen juga dapat menimbulkan inflasi. Bagi negara yang sudah mengalami penurunan harga-harga selama 15 tahun, inflasi sangat penting.

Lemahnya kurs yen juga memicu kekhawatiran akan terjadi perang mata uang. Negara menggunakan nilai tukar sebagai senjata ekonominya. Jika negara lain menjawab penurunan kurs yen dengan menurunkan nilai mata uangnya, perekonomian dunia akan terganggu. Fluktuasi tajam kurs mata uang akan mengganggu kepercayaan bisnis dan investasi.

Selama ini, argumentasi yang disampaikan para pejabat Jepang adalah mengenai stimulus moneter, bukan penurunan kurs yen. Tampaknya alasan ini dapat diterima negara-negara G-7.

Seorang pejabat Departemen Keuangan AS yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, memang ada diskusi bagus tentang apa yang terjadi di Jepang. Para pejabat keuangan Jepang juga memberikan perincian bagaimana kebijakan baru tersebut membantu meningkatkan permintaan domestik.

Pejabat itu mengatakan, Jepang harus terus memenuhi komitmen sebelumnya. Menteri Keuangan AS Jacob Lew sebelumnya juga mengatakan, dia selalu memantau perkembangan yang terjadi di Jepang.

Namun, para analis memperkirakan akan sulit bagi G-7 menyatakan keberatan terhadap kebijakan Jepang. Negara-negara lain, seperti AS dan Inggris, telah lebih dulu menurunkan kurs mata uang masing-masing selama bertahun-tahun melalui program stimulusnya.

Kesepahaman

Dalam pertemuan tersebut dibahas pula tentang krisis berkepanjangan di Eropa. AS mendesak negara-negara di Eropa melupakan pemangkasan anggaran karena khawatir pemangkasan anggaran justru akan menghalangi pertumbuhan. Namun, menurut Osborne, pertemuan di Aylesbury itu justru menyatukan beberapa perbedaan.

”Pertemuan ini mengonfirmasikan ada beberapa kesepahaman di antara kami mengenai kebijakan fiskal, lebih dari yang diperkirakan orang selama ini,” ujar Osborne.

Dia mengatakan, G-7 telah mendiskusikan betapa pentingnya kredibilitas dan konsolidasi fiskal dalam jangka menengah demi keuangan publik dan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.

Sementara itu, Menteri Keuangan Perancis Pierre Moscovici menambahi apa yang telah disampaikan Osborne. ”Konsensus telah tercapai, kami secara seimbang mendukung pertumbuhan ekonomi dan konsolidasi fiskal. Masih ada keinginan untuk mengurangi defisit, tetapi jelas ada perubahan pendapat di antara negara anggota G-7,” kata Moscovici.

Tidak seperti biasanya, pada pertemuan G-7 ini tidak dikeluarkan komunike bersama sebagai kesimpulan pertemuan.(AP/Reuters/AFP/joe)


Editor :