Jumat, 1 Agustus 2014

News / Bisnis & Keuangan

Utang Menggunung, Bakrie Plantations Jual Aset Anak Usaha

Senin, 27 Mei 2013 | 18:11 WIB

Baca juga

JAKARTA,KOMPAS.com — PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) diam-diam telah menjual beberapa aset anak usaha. Hal ini terungkap dalam laporan keuangan UNSP per 31 Desember 2012 yang baru dirilis akhir pekan lalu.

Pada 18 Desember 2012, UNSP telah menandatangani perjanjian jual beli aset enam anak usaha yang bernaung dalam sub-grup Agri International Resources Pte Ltd (AIRPL) dengan pihak ketiga yang tidak disebutkan identitasnya.

Keenam anak usaha itu adalah PT Jambi Agrowijaya, PT Eramitra Agrolestari, PT Trimitra Sumberperkasa, PT Multrada Multi Maju, PT Padang Bolak Jaya, dan PT Perjapin Prima.

Ada dua jenis aset yang telah dijual. Pertama, UNSP melego aset tetap enam anak usaha itu di luar hak guna usaha (HGU) dan tanaman perkebunan. UNSP juga menjual persediaan yang dimiliki enam anak usaha kecuali minyak kelapa sawit dan inti kelapa sawit.

Hingga 31 Desember 2012, UNSP telah menerima pembayaran atas penjualan aset tetap senilai 29,61 juta dollar AS. Dari transaksi ini, UNSP mengklaim laba penjualan aset tetap senilai Rp 33,28 miliar.

Di saat bersamaan, keenam anak usaha UNSP turut melego aset tidak lancar yang dimilikinya. UNSP mengklasifikasikan empat aset tidak lancar yang  tersedia untuk dijual. Pertama, bibit tanaman senilai Rp 6,9 miliar. Kedua, tanaman perkebunan enam anak usaha senilai total Rp 531,24 miliar. Ketiga, aset tetap enam entitas anak senilai Rp 15,58 miliar. Keempat, goodwill enam anak usaha senilai Rp 1,98 triliun. Goodwill adalah selisih antara biaya akuisisi perusahaan dan anak usaha dengan nilai wajar aset yang diperoleh.

Transaksi jual beli aset tidak lancar belum sepenuhnya rampung dilakukan. Namun, UNSP sudah menerima uang muka penjualan senilai 9,89 juta dollar AS atau setara Rp 95,33 miliar. Tidak hanya itu, UNSP juga berniat menjual kepemilikan saham dan pengalihan hak tagih di PT Guntung Idamanusa. UNSP menguasai Guntung tidak secara langsung, tetapi lewat dua anak usaha, yakni PT Grahadura Leidong Prima (GLP) dan PT Sumbertama Nusa Pertiwi (SNP).

GLP memiliki 38.119 saham atau setara 99,97 persen total saham Guntung. Sementara SNP menguasai 10 saham atau setara 0,03 persen saham Guntung. UNSP mengklaim sudah mendapatkan beberapa calon pembeli pihak ketiga yang siap mengakuisisi saham Guntung. Manajemen UNSP belum mengungkapkan nilai jual beli saham Guntung. Namun, total aset Guntung per 31 Desember 2012 terbilang besar, yakni senilai Rp 1,07 triliun.

Maklum, Guntung merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit dengan kepemilikan lahan mencapai 12.547 hektar. Guntung juga mengantongi HGU hingga tahun 2038 mendatang.

Divestasi aset beberapa anak usaha tersebut memang sudah direncanakan UNSP. Ini terlihat dari dimasukkannya enam anak usaha itu pada kelompok "operasi yang dihentikan" dalam laporan keuangan per 31 Desember 2012.

Kelompok ini mencakup seluruh komponen anak usaha UNSP yang telah dijual atau diklasifikasikan untuk didivestasi. Kinerja keuangan dari kelompok ini dibukukan pada bagian terpisah dalam laporan laba-rugi perusahaan.

Per 31 Desember 2012, kelompok operasi yang dihentikan menyumbang penjualan Rp 442,29 miliar, turun 38,65 persen dari tahun 2011 yang senilai Rp 720,97 miliar. Penurunan penjualan membuat kelompok operasi yang dihentikan masih menyumbang kerugian senilai Rp 122,75 miliar pada akhir 2012 silam.

Di sisi lain, kinerja keuangan komponen anak usaha yang masih dikuasai UNSP atau kelompok Operasi yang dilanjutkan sangat buruk. Pada 2012, kelompok ini membukukan penjualan Rp 2,49 triliun, turun 31,83 persen dari 2011 yang tercatat Rp 2,49 triliun. Melorotnya penjualan ini kian tergerogoti oleh tingginya beban keuangan akibat tanggungan utang UNSP. Pada 2012, beban keuangan yang harus dibayar UNSP mencapai Rp 553,7 miliar.

Imbasnya, kelompok operasi yang dilanjutkan menyumbang rugi bersih hingga Rp 942,51 miliar pada 2012. Artinya, secara total, UNSP menanggung rugi bersih Rp 1,07 triliun, dari tahun 2011 yang masih mencetak laba bersih Rp 744,89 miliar.

Bambang Aria Wisena, Direktur Utama UNSP, berkilah, kenaikan rugi bersih tersebut lebih banyak disebabkan oleh melonjaknya beban-beban non-kas. Terlepas dari itu, UNSP mengakui kinerja operasionalnya turut tertekan akibat melorotnya harga jual sawit dan karet.

"(Penurunan kinerja juga disebabkan) adanya gangguan logistik di sejumlah pelabuhan pada kuartal IV 2012," tulis Bambang dalam keterangan resmi, akhir pekan lalu.

Reza Priyambada, Analis Trust Securities, menilai aksi divestasi aset anak usaha dilakukan UNSP guna menutupi kinerja operasional yang sekarat. Di sisi lain, UNSP harus terus membayar cicilan utang yang memang mencekik.

Bayangkan saja, per 31 Desember 2012, total liabilitas UNSP mencapai Rp 11,07 triliun. "UNSP mau dapat uang dari mana lagi selain jual asetnya," jelas Reza. (Veri Nurhansyah Tragistina/Kontan)


Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Sumber: