Kamis, 23 Oktober 2014

/

Macet di Priok Semakin Parah

Sabtu, 1 Juni 2013 | 03:19 WIB

Jakarta, Kompas - Kemacetan di sejumlah jalan akses ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, semakin parah. Kemacetan itu di antaranya disebabkan pembangunan jalan tol akses pelabuhan tersebut. Arus kendaraan nyaris tak bergerak. Jarak sepanjang 5 kilometer harus ditempuh 5 jam.

 

Berdasarkan pantauan Kompas, sejak Rabu hingga Jumat (31/5), kemacetan terjadi akibat pembangunan jalan tol akses Pelabuhan Tanjung Priok di ruas Jalan Cakung Cilincing, Jalan Jampea depan Bogasari, dan Jalan Yos Sudarso. Hal itu ditambah akibat jalan berlubang di sejumlah ruas jalan.

Pada Kamis, ruas jalan menuju Pelabuhan Tanjung Priok mengalami kemacetan lebih dari 3 kilometer. Kemacetan di Jalan Yos Sudarso mulai terjadi di depan ITC Cempaka Mas. Sementara itu, kemacetan di Jalan Cakung Cilincing terjadi di depan Kawasan Berikat Nusantara. Kemacetan juga terjadi di ruas Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat, ke arah Jalan Sunter Utara dan Jalan Yos Sudarso.

Sadam (45), sopir truk trailer, mengaku, untuk menjangkau pelabuhan dari Semper yang hanya berjarak 5 kilometer harus menghabiskan waktu 5 jam. Biasanya hanya membutuhkan waktu 30 menit. Waktu yang semakin lama di perjalanan itu menyebabkan borosnya penggunaan bahan bakar serta meningkatnya biaya makan dan minum.

Hilang Rp 9 miliar per hari

Ketua Umum Angkutan Khusus Pelabuhan Gemilang Tarigan menilai, pembangunan jalan tol itu kurang perencanaan dan koordinasi. Seharusnya, sebelum membangun tiang-tiang pancang, selokan dan bahu jalan dirapikan dahulu sehingga tersedia akses bagi kendaraan.

Gemilang menduga, kondisi ini menimbulkan kerugian finansial cukup besar. Biasanya, setiap pengusaha angkutan pelabuhan mendapatkan order satu rit per hari. Kini, setelah macet, hanya mendapat setengah rit.

Padahal, total ada 18.000 truk yang beroperasi di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. Dengan asumsi biaya operasional Rp 1 juta per hari untuk satu rit per truk, maka dalam kondisi jalan lancar terjadi perputaran uang Rp 18 miliar. ”Kini, hanya setengahnya. Tiap hari, Rp 9 miliar hilang akibat macet itu,” katanya.

Ia juga mengatakan, sejumlah pengusaha banyak mendapat keluhan dari pelanggan karena sering terjadi keterlambatan dalam pengiriman barang. Ia juga menolak badan usaha milik ne- gara untuk masuk dalam bagian angkutan khusus pelabuhan. ”Ini lahan rakyat, jangan diambil pemerintah. Karena itu, 3 Juni nanti, kami akan mogok jalan,” ucapnya.

Dihubungi terpisah, Direktur Utama PT Pelindo II RJ Lino menyatakan, arus keluar-masuk di Terminal JICT, yang merupakan terminal peti kemas terbesar di Pelabuhan Tanjung Priok, periode Januari-Maret rata-rata 320 truk per jam. Namun, sejak terjadi kemacetan di jalan-jalan sekitar pelabuhan, arus keluar- masuk truk menurun menjadi rata-rata 280 truk per jam.

Padahal, lalu lintas bongkar muat berada di kecepatan yang sama dengan ketika kemacetan tidak terjadi. Inilah sebenarnya salah satu penyebab tingginya biaya logistik. Akan tetapi, karena adanya pekerjaan elevated road dan arteri road project JORR sehingga jalan menyempit. Penyempitan jalan arteri, pengalihan arus lalu lintas, dan kondisi jalan yang buruk membuat arus kendaraan dari dan menuju ke Pelabuhan Tanjung Priok pada jam-jam tertentu macet total.

Ada enam penyebab

Kepala Bagian Pembinaan Operasional Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Budiyanto mengakui, arus lalu lintas dari dan menuju atau seputar kawasan Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta Utara selalu tersendat.

Menurut Budiyanto, ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi arus lalu lintas di sana nyaris tidak berubah dari waktu ke waktu. Apalagi saat ini, karena ada pembangunan jalan dan tol.

Ada enam faktor yang membuat arus lalu lintas di kawasan itu tersendat parah. Pertama, infrastruktur di sejumlah ruas jalan mengalami kerusakan.

Kedua, kegiatan ekspor-impor yang cenderung makin besar. Belum lama ini juga ada mesin penunjang kegiatan di pelabuhan yang rusak sehingga terjadi antrean truk panjang.

Ketiga, faktor cuaca, yaitu hujan yang menyebabkan tersendatnya arus lalu lintas. Keempat, faktor kendaraan yang mogok.

Kelima adalah pembangunan jalan tol yang menyambungkan Tol Cilincing dengan Jalan Yos Sudarso. Keenam, pertambahan kendaraan yang tiap tahun sekitar 30 persen, sementara pertumbuhan jalan hanya 0,01 persen. (RTS/K06/MDN/RYO)


Editor :