Rabu, 27 Agustus 2014

News / Bisnis & Keuangan

Irak Perketat Produksi, Harga Minyak Mentah Naik

Selasa, 4 Juni 2013 | 08:04 WIB

NEW YORK, KOMPAS.com — Harga minyak berbalik naik pada Senin (3/6/2013) waktu setempat, (Selasa pagi WIB), menyusul penurunan tajam sebelum akhir pekan lalu. Kenaikan didorong oleh pernyataan pejabat tinggi energi Irak bahwa negara itu ingin memperketat produksinya di tengah melemahnya perkiraan permintaan global.

Harga minyak juga terangkat oleh melemahnya dollar AS terhadap euro, yang terjadi setelah indeks pembelian manajer ISM untuk sektor manufaktur AS pada Mei secara tak terduga berbalik ke dalam wilayah kontraksi, menyoroti kelemahan dalam perekonomian.

Di New York Mercantile Exchange, kontrak berjangka minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli bertambah 1,48 dollar AS dari akhir Jumat, ditutup pada 93,45 dollar AS per barrel.

Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juli naik 1,67 dollar AS menjadi menetap pada 102,06 dollar AS per barrel.

Bob Yawger dari Mizuho Securities mengatakan, pasar "oversold" (kelebihan jual) setelah harga jatuh pada Jumat (31/5/2013) menyusul pertemuan OPEC di Wina, di mana kartel setuju untuk mempertahankan kuota produksinya tidak berubah pada 30 juta barrel per hari meskipun permintaan global melemah.

Sementara itu, Wakil perdana menteri Irak yang bertanggung jawab untuk urusan energi Hussein al-Shahristani,  dalam sebuah wawancara mengatakan kepada AFP, bahwa negara itu sedang bernegosiasi dengan kontraktor minyak asing untuk menurunkan target produksi jangka panjang karena melemahnya perkiraan permintaan.

"Kami telah merevisi rencana produksi untuk semua ladang minyak. Anggaran kami didasarkan pada 90 dollar AS. Kami berharap bahwa harga minyak akan tetap berada di tingkat di atas 90 dollar AS. Kalau tidak, kami harus merevisi anggaran kami. Kami tidak berharap jatuh di bawah 90 dollar AS," kata Shahristani, yang juga mantan menteri perminyakan ini.

Irak saat ini mengekspor sekitar 2,6 juta barrel per hari, tetapi memiliki potensi untuk meningkat lagi ketika industri minyaknya hidup kembali.

 


Editor : Erlangga Djumena
Sumber: