Sabtu, 2 Agustus 2014

News / Bisnis & Keuangan

Ini Sebab IHSG Makin Anjlok

Selasa, 11 Juni 2013 | 11:42 WIB

Baca juga

JAKARTA, KOMPAS.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga sesi pertama hari ini makin anjlok. Ada sentimen-sentimen negatif khususnya dari dalam negeri yang menyebabkan pelemahan IHSG. Sampai sekitar pukul 11.35, IHSG melorot 115,844 poin (2,4 persen) menjadi 4.661,521.

Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, kondisi bursa regional saat ini masih mendatar (flat). Namun, bursa global masih terus merespons kemungkinan penurunan besaran quantitative easing (QE) ketiga yang akan dilakukan oleh The Fed.

"Imbasnya, asing masih melakukan tekanan jual hingga saat ini," kata Satrio di Jakarta, Selasa (11/6/2013).

Satrio menambahkan, pemodal asing diperkirakan masih akan melakukan tekanan jual seiring dengan ketidakyakinan mereka terhadap langkah-langkah yang dilakukan pemerintah dalam menaikkan harga BBM subsidi. Sebagai informasi, posisi jual bersih (nett buy) asing sejak awal 2013 masih ada sekitar Rp 5,5 triliun. Adapun posisi net buy asing sejak pertengahan 2012 masih ada sekitar Rp 15 triliun.

"Tren turun ini sepertinya hanya berakhir jika pemodal asing sudah kehabisan amunisi untuk melakukan tekanan jual," ujarnya.

Satrio menyarankan, melihat intensitas tekanan jual yang terjadi, aksi jual pemodal asing sepertinya baru akan berakhir menjelang akhir Minggu. Posisi Buy On Weakness sebaiknya dilakukan dengan strategi yang cermat karena masih belum melihat IHSG memasuki fase bottoming.

"Posisi-posisi spekulatif bisa dilakukan pada saham-saham sektor CPO mengingat minimnya tekanan jual asing pada sektor ini, bisa memancing pelaku pasar lokal untuk melakukan aksi spekulatif," tambahnya.

Satrio memperkirakan IHSG baru memberikan signal positif jika mampu ditutup di atas kisaran resisten 4.799-4.835. Hingga menjelang penutupan sesi siang, IHSG turun 93,63 poin ke 4.683,37.

Sementara itu, nilai tukar rupiah berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) turun ke level Rp 9.821 per dollar AS dari Rp 9.806 per dollar AS di hari kemarin.


Penulis: Didik Purwanto
Editor : Erlangga Djumena