Jumat, 29 Agustus 2014

News / Bisnis & Keuangan

APBN-P 2013, Pendapatan Turun Rp 27,7 T, Belanja Bengkak Rp 43,2 T

Rabu, 19 Juni 2013 | 04:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Target pendapatan negara dalam APBN-P 2013 ternyata turun dibandingkan APBN 2013. Sebaliknya, belanja negara bengkak. Perkiraan penambahan belanja negara hampir dua kali penurunan target pendapatan.

Dalam postur APBN-P 2013, pendapatan negara diperkirakan mencapai Rp 1.502 triliun. Nilai ini turun Rp 27,7 triliun dari target APBN 2013 sebesar Rp 1.529,7 triliun.

Siaran pers Kementerian Keuangan, Selasa (18/6/2013), menyebutkan, penurunan pendapatan negara itu disebabkan turunnya proyeksi penerimaan perpajakan senilai Rp 1.148,4 triliun dari target Rp 1.193,0 triliun. Namun, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) diperkirakan meningkat Rp 17 triliun mejadi Rp 349,2 triliun dibandingkan target APBN 2013 sebesar Rp 332,2 triliun.

Sementara itu, belanja negara diperkirakan mencapai Rp 1.726,2 triliun atau naik Rp 43,2 triliun dari pagu APBN 2013 Rp 1.683 triliun. Pembengkakan belanja tersebut berasal dari perubahan anggaran belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah. Belanja pemerintah pusat diperkirakan mencapai Rp 1.196,8 triliun meningkat Rp 42,4 triliun dan transfer daerah meningkat Rp 0,7 triliun menjadi Rp 529,4 triliun.

Defisit dan inflasi melejit, nilai tukar anjlok

Sedangkan defisit anggaran diperkirakan mencapai Rp 224,2 triliun, sekitar 2,3 persen dari pendapatan domestik bruto (PDB). Angka defisit ini melonjak dari target semula dalam APBN 2013, yang memperkirakan defisit di kisaran 1,65 persen PDB.

Pengesahan APBN-P 2013 juga merombak asumsi makro yang sebelumnya dipatok dalam APBN 2013. Untuk APBN-P 2013, pertumbuhan inflasi dipatok 6,3 persen, inflasi 7,2 persen, nilai tukar rupiah Rp 9.600 per dollar AS, dengan suku bunga surat perbendaharaan negara (SPN) 3 bulan sebesar 5 persen, harga minyak 108 dollar AS per barrel, lifting minyak 840.000 barrel per hari, dan lifting gas 1.240.000 barrel setara minyak per hari.

Perubahan asumsi makro ini telah disepakati DPR bersama Pemerintah pada akhir Mei 2013, sebelum pengesahan RAPBN-P 2013. Sebelumnya, APBN 2013 mematok target pertumbuhan ekonomi 6,8 persen, inflasi 4,9 persen, nilai tukar rupiah Rp 9.300 per dollar AS, suku bunga SPN 3 bulan sebesar 5 persen, harga minyak 98 dollar AS per barrel, lifting minyak 900.000 barrel per hari, dan lifting gas 1,36 juta barrel setara minyak per hari.

 


Penulis: Palupi Annisa Auliani
Editor : Palupi Annisa Auliani
Sumber: