Rabu, 22 Oktober 2014

Ekonomi / Makro

Rupiah Melemah, Ini Saran BI ke Pemerintah

Selasa, 9 Juli 2013 | 10:43 WIB
KOMPAS/HERU SRI KUMORO Ilustrasi


JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) akan terus menjaga nilai tukar rupiah agar sesuai dengan kondisi fundamental perekonomian di tanah air.

Meski nilai tukar hampir menyentuh level Rp 10.000 per dollar AS, BI berharap masyarakat agar tidak panik atas kondisi tersebut.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengapresiasi langkah pemerintah yang telah menaikkan harga BBM bersubsidi. Sehingga akan menekan neraca defisit Indonesia ke depan.

"Kita akan menjaga nilai tukar rupiah mencerminkan fundamentalnya. Sekarang ada positif situasi dari BBM naik, itu baik. Bahwa kita melihat impor BBM itu ada penurunan, itu kita sambut baik. Namun masih ada faktor lain yang perlu dijaga," kata Agus saat ditemui di Gedung DPR Jakarta, Senin (8/7/2013).

Agus meminta pemerintah menjaga penerimaan negara, khususnya dari pajak dan bukan pajak. Sebab dengan penerimaan yang tinggi, maka akan mengurangi defisit anggaran yang sampai saat ini menyebabkan nilai tukar rupiah melemah.

Begitu juga dengan kenaikan harga BBM bersubsidi yang kini sudah bisa diharapkan mampu untuk mengurangi impor minyak. Sehingga diharapkan bisa menekan neraca perdagangan yang sampai saat ini masih defisit.

Di sisi lain, Agus juga meminta kepada pemerintah untuk menjaga penyerapan anggaran agar bisa berlangsung maksimal.

"Ini semua harus ditata. Jadi secara umum ini tetap di-range yang mencerminkan fundamental ekonomi," tambahnya.

Agus juga mengaku bahwa nilai tukar rupiah bila dibandingkan dengan negara sekawasan kurang lebih masih sepadan. Tapi Agus masih enggan menjelaskan apakah nilai tukar rupiah yang hampir mendekati level Rp 10.000 per dollar AS ini sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia.

"Saya tidak ngomong angka, sama seperti nilai cadangan devisa harus 100 miliar dollar AS, tidak boleh kurang dari itu. Itu adalah batas psikologis yang tidak boleh kita terikat itu. Sama seperti Rp 10.000 per dollar AS," tambahnya.

Namun dengan kebijakan menaikkan harga BBM bersubsidi dan ke depan diharapkan defisit anggaran maupun defisit neraca perdagangan diperkirakan membaik, maka hal tersebut akan memberikan efek positif kepada nilai tukar rupiah akan menguat kembali.

"Jadi apakah Rp 10.000 per dollar AS masih aman, itu tergantung investor," jelasnya.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah hari ini diperdagangkan di level Rp 9.960 per dollar AS, masih sama dengan posisi perdagangan kemarin namun melemah 15 poin dibanding perdagangan Jumat (5/7/2013) di level Rp 9.945 per dollar AS.


Penulis: Didik Purwanto
Editor : Erlangga Djumena