Rabu, 26 November 2014

Ekonomi / Makro

Rupiah Melemah Lagi, BI Diminta Stabilkan Nilai Tukar

Rabu, 17 Juli 2013 | 08:17 WIB
KOMPAS/PRIYOMBODO Imitasi berbagai macam valuta asing termasuk Rupiah dan Dollar Amerika Serikat menghiasi tempat penukaran valuta asing PT. D8 Valasindo di Jakarta Selatan, Senin (15/4/2013).

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah kalangan pengusaha mengharapkan Bank Indonesia dapat menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Di satu sisi, eksportir bergembira dengan pelemahan rupiah, sebaliknya importir keberatan. Pasar diminta tidak panik.

Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) berharap pemerintah bisa mengendalikan nilai rupiah agar tidak terus melemah. Pasalnya, melemahnya nilai rupiah memberatkan mereka mengimpor bahan baku bagi pangan olahan atau produk dalam kemasan.

Ketua Umum Gapmmi Adhi S Lukman, di Jakarta, Selasa (16/7/2013), mengemukakan, sebagian besar bahan baku produk pangan olahan merupakan produk impor. Sebagai contoh adalah bahan tambahan pangan, gandum, dan gula diimpor sebanyak 60 persen, konsentrat jus buah 60 persen, dan bawang putih 90 persen.

”Oleh karena itu, melemahnya nilai rupiah tentu saja akan sangat memberatkan sejumlah pengusaha. Hal itu pun akan berpengaruh pada kenaikan harga sejumlah produk pangan olahan,” ujar Adhi.

Sulit memastikan besaran kenaikan harga produk pangan olahan apabila nilai rupiah terus melemah. Pasalnya, kenaikan harga produk pangan olahan sangat bergantung pada kebijakan setiap perusahaan dan formula bahan baku yang digunakan.

Adhi memastikan, saat ini, melemahnya nilai rupiah belum berpengaruh pada harga sejumlah produk pangan olahan. Hal itu karena sejumlah pengusaha masih memiliki stok cadangan bahan baku untuk produk pangan olahan hingga sebulan ke depan. Selain itu, umumnya, mendekati Idul Fitri, penyesuaian harga tidak mungkin dilakukan.

”Namun, kalau nilai rupiah terus melemah, saya perkirakan sebulan ke depan baru akan terasa dampaknya terhadap kenaikan harga produk pangan olahan,” ujar Adhi.

Adhi mendukung upaya BI dalam mengendalikan nilai rupiah. ”Kami sangat mendukung upaya pemerintah dan BI dalam mengendalikan stabilitas nilai rupiah,” kata Adhi.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia Achmad Ridwan Tento mengatakan, melemahnya rupiah belum terasa pada importir. ”Saat ini, banyak sekali barang impor masuk. Namun, barang-barang itu dipesan 2-3 bulan lalu, masih memakai kurs Rp 9.600-Rp 9.700 per dollar AS,” kata Ridwan.

Tingginya barang impor saat ini sudah menjadi pola tahunan. Setiap kali menjelang Lebaran, impor akan tinggi sekali. Kondisi ini baru berhenti saat empat hari menjelang Lebaran.

Mengenai kemungkinan importir menurunkan barang impor, Ridwan mengatakan, sangat tergantung dari kondisi setelah Lebaran. ”Jika permintaan masyarakat masih tinggi, mau tidak mau impor tetap akan tinggi. Tetapi, saya perkirakan, permintaan akan merosot jauh,” ujar Ridwan.

Merosotnya permintaan itu karena daya beli masyarakat juga menurun setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan harga bahan kebutuhan pokok lainnya.

Untuk mengatasi melemahnya nilai tukar rupiah, Ridwan sangat berharap ada tindakan tepat dari BI dan pemerintah. ”Bagi kami, nilai tukar yang pas itu Rp 9.600-Rp 9.700,” kata Ridwan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi, di Jakarta, mengatakan, dunia usaha saat ini membutuhkan kepastian nilai tukar rupiah terhadap dollar AS untuk memprediksi bisnisnya.

”Harus ada kepastian kita akan bermain di kurs berapa, apakah pada kisaran Rp 9.500-Rp 9.700, atau kisaran berapa,” katanya.

Sofjan mengakui, kalangan dunia usaha menilai pelemahan rupiah terhadap dollar AS dapat membantu kinerja ekspor Indonesia. Meski demikian, kondisi tersebut juga menimbulkan permasalahan bagi industri manufaktur yang sangat bergantung pada bahan baku impor.

Menurut Sofjan, pelemahan rupiah memberi keuntungan bagi kegiatan ekspor beberapa komoditas dalam negeri, seperti produk kelapa sawit dan kakao.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat menuturkan, pelemahan rupiah harus dimanfaatkan untuk menutup lemahnya daya beli di pasar dalam negeri.

Ade mengatakan, saat ini, perdagangan tekstil dan produk tekstil Indonesia surplus 5 miliar dollar AS. Ekspor mencapai 13 miliar dollar AS, sedangkan impor 8 miliar dollar AS. ”Pelemahan rupiah akan memperbesar surplus perdagangan,” kata Ade.

Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono berpendapat posisi rupiah yang menembus Rp 10.000 per dollar AS dapat menekan defisit perdagangan Indonesia. Ekspor akan meningkat.

Tidak panik

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terus melemah. Kemarin, setelah menyentuh Rp 10.024 per dollar AS pada Senin (15/7/2013), nilai rupiah kembali melemah 12 poin menjadi Rp 10.036 pada Selasa (16/7/2013).

Namun, BI melalui Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Difi Ahmad Johansyah memastikan tidak ada kepanikan di pasar. Kondisi ini jauh berbeda dengan tahun 1997-1998 Saat ini, pelemahan rupiah menunjukkan kondisi fundamental ekonomi, tetapi dalam situasi ekonomi dan politik yang terjaga.

Hal senada diungkapkan Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM Yogyakarta Tony Prasetiantono. Pasar tenang, tidak panik. ”Tahun 1997-1998, kondisi perekonomian lebih buruk, terutama perbankan tidak sehat,” ujar Tony.

Defisit transaksi berjalan pada masa krisis ekonomi saat itu juga lebih besar, utang luar negeri banyak yang jatuh tempo, dan dengan cadangan devisa yang hanya 21 miliar dollar AS. Saat itu, kondisi politik juga bergolak menjelang kejatuhan Presiden Soeharto.

Kondisi panik pasar, antara lain, ditandai dengan pelepasan dollar AS dalam jumlah besar dari penjual kepada pembeli. Jika pasar terkoreksi, harga sesuai dengan permintaan pembeli.

Namun, volume besar di pasar valuta asing tidak bisa serta-merta diartikan sebagai kondisi panik. Ada juga pembelian dalam jumlah besar oleh korporasi atau institusi yang sebenarnya sudah direncanakan jauh-jauh hari, tetapi pelaksanaannya bertepatan dengan kondisi pasar yang sedang terkoreksi.

Menurut ekonom Bank BNI, Ryan Kiryanto, permintaan dollar AS memang tinggi, baik oleh korporasi atau institusi maupun individu. Jumlah masyarakat kelas menengah yang meningkat, turut mengubah gaya hidup dan liburan. (K04/CAS/IDR/ARN/BEN)

 


Editor : Erlangga Djumena
Sumber: Kompas Cetak