Kamis, 24 April 2014

Ekonomi / Makro

Rapat Dewan Gubernur, BI Rate Tetap atau Dinaikkan?

Kamis, 15 Agustus 2013 | 09:02 WIB
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO Gedung Bank Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com - Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia kembali digelar pada Kamis (15/8/2013) ini. Pasar menunggu respon BI atas besaran tingkat suku bunga acuan atau BI Rate di tengah melorotnya cadangan devisa Indonesia selama Juli tahun ini.

Cadangan devisa pada bulan Juli turun drastis dari posisi 98,1 miliar dollar AS pada Juni menjadi 92,7 miliar dollar AS pada Juli. Menurunnya posisi cadangan devisa ini membuat kebutuhan aliran modal masuk dalam bentuk portofolio menjadi sangat diperlukan.

"Cadev turun jadi BI Rate memang harus naik minimal ke 7 persen. Instrumen lain seperti Fasbi kurang memberi dampak. BI Rate naik tinggi urgensinya," kata ekonom Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, A Tony Prasetyantono.

Namun ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Lana Soelistianingsih, menilai pengalaman dua bulan sebelumnya dengan menaikkan BI rate 75 bps ternyata tidak berhasil membuat aliran modal asing masuk malahan semakin deras keluar dari pasar Indonesia.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga semakin melemah. Lana menyatakan kemungkinan RDG BI akan menetapkan BI rate tetap di 6,5 persen. Sejumlah pertimbangan dianalisanya. Pertama, inflasi tertinggi sudah mencapai klimaks pada bulan Juli dan cenderung melambat pada bulan-bulan selanjutnya.

BI pun telah menaikkan BI rate sebesar 75 bps pada dua bulan terakhir. Ketiga, pertumbuhan ekonomi melambat, tumbuh 5,81 persen yoy pada kuartal kedua tahun ini dari 6,02 persen yoy pada kuartal pertama.

Sementara itu, ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti memerkirakan Bank Indonesia (BI) tidak akan menaikkan suku bunga acuannya (BI Rate) pada bulan ini. Hal ini disebabkan beberapa indikator ekonomi tumbuh lebih lambat dari prediksi semula.

Indikator tersebut antara lain pencapaian pertumbuhan ekonomi di semester I-2013 hanya naik 5,81 persen yoy. Padahal BI semula memerkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa naik mencapai 5,9 persen.

"Kami pikir BI tidak akan merubah suku bunga acuannya (BI Rate) pada pertemuan rapat dewan gubernur (RDG) hari ini. Apalagi melihat sebagian besar perlambatan disumbangkan dari investasi," kata Destry kepada Kompas.com di Jakarta, Kamis (15/8/2013).

Untuk itu, BI rate diperkirakan akan tetap bertahan di level 6,5 persen, sama seperti bulan sebelumnya. Namun masih ada kecenderungan potensi kenaikan suku bunga Fasilitas Simpanan BI (FasBI) karena melihat pelemahan rupiah terus menerus berlangsung.

Di sisi lain, Destry menambahkan BI juga tidak akan segera memangkas BI rate dalam waktu dekat karena dengan momentum perlambatan ekonomi ini berarti mengurangi defisit transaksi berjalan yang sebagian besar masih dikontribusikan dari impor.

"Selain itu, kebijakan moneter yang ketat pada saat ini juga diperlukan untuk membantu suku bunga pada tingkat yang kompetitif di tengah meningkatnya US treasury," tambahnya.

Penulis: Robertus Benny Dwi Koestanto
Editor : Bambang Priyo Jatmiko