Jumat, 29 Agustus 2014

Ekonomi / Makro

Pemerintah Gagal Stabilkan Harga Kedelai, Produsen Tempe Mogok

Selasa, 10 September 2013 | 07:05 WIB
KOMPAS.com/TAUFIQURRAHMAN Perusahaan tahu di Pamekasan, bisa bertahan dengan mencapur kedelai lokal dengan kedelai impor. Selain itu ukurannya juga semakin diperkecil.


JAKARTA, KOMPAS.com 
- Pemerintah gagal menstabilkan harga kedelai karena, hingga Senin (9/9/2013), harga komoditas ini masih tinggi. Kenaikan harga kedelai itu memukul industri tahu dan tempe sehingga sejumlah produsen tahu dan tempe di sebagian wilayah Indonesia mogok berproduksi.Mogok produksi tahu dan tempe terjadi, antara lain, di Jakarta, Surabaya, Bandung, Sukoharjo, Kendal, Magelang, Yogyakarta, dan Bengkulu. Kemarin harga kedelai di pasaran Rp 9.400-Rp 10.500 per kilogram.

Menanggapi protes produsen tahu dan tempe, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan Menteri Perdagangan Gita Irawan Wirjawan mengatasi gejolak harga kedelai. Presiden mengingatkan agar penanganannya dikoordinasikan dengan kementerian dan lembaga lainnya.

”Presiden meminta Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian, serta Menteri Koperasi dan UKM, atau direksi Perum Bulog untuk segera melakukan rapat koordinasi,” ujar Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah.

Menurut dia, rapat koordinasi di bawah Kementerian Koordinator Perekonomian tersebut memiliki agenda utama mengendalikan suplai dan harga kedelai. ”Dengan demikian, guncangan di tingkat konsumen dikendalikan,” ujar Firmanzah.

Ditemui terpisah, Gita menegaskan, dirinya berkoordinasi dengan importir untuk menambah pasokan kedelai dan menetapkan harga khusus.

”Nanti (Senin) malam dan besok (Selasa) pagi, pemerintah akan menuntaskan masalah ini dengan pengusaha pemilik stok 300.000 ton agar bisa segera disalurkan ke perajin dengan harga di bawah level pasaran saat ini,” kata Gita saat mengunjungi perajin tahu dan tempe di Kelurahan Semanan, Kalideres, Jakarta Barat.

Gita mengatakan, pemerintah akan memberdayakan Perum Bulog memfasilitasi kebutuhan perajin dan menstabilkan harga. ”Izin untuk Bulog sudah kami berikan penuh,” ujar Gita.

Pemerintah pekan lalu juga sudah menghapus semua hambatan impor kedelai dan membebaskan komoditas tersebut masuk ke Indonesia. Namun, sejauh ini peran Bulog tidak efektif dan kebijakan menghapus semua hambatan impor kedelai juga tidak membuahkan hasil karena harga kedelai tetap mahal.

Menurut Gita, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian telah berkoordinasi untuk mewujudkan swasembada pangan, termasuk kedelai. ”Kami telah menetapkan harga jual dari petani Rp 7.000 per kg agar petani kedelai giat menanam kedelai karena pasokan kedelai dari dalam negeri minim,” kata Gita.

Mogok produksiSebanyak 20 pabrik tahu di Kelurahan Utan Kayu Utara, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur, mogok berproduksi. Aksi itu membuat hilangnya pendapatan Rp 100 juta per hari.

”Mulai Minggu pagi, kami memang sudah berhenti produksi. Jadi, Senin, sudah tidak ada tahu yang dijual,” kata Maman Herdiman (59), pemilik sebuah pabrik tahu di Matraman.

Penghentian produksi itu merupakan bagian dari aksi mogok tiga hari yang digagas produsen tahu dan tempe di Indonesia untuk memprotes lonjakan harga kedelai beberapa waktu terakhir. Para produsen tahu mulai mogok produksi pada Minggu dan akan kembali berproduksi Rabu.

Di Kelurahan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 100 produsen tempe berhenti produksi. Perkampungan yang menjadi salah satu pemasok tempe untuk kawasan Pasar Minggu tersebut tampak lengang.

Di beberapa tempat dipasang pengumuman dari Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) dan Primer Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Primkopti) Jakarta Selatan soal imbauan produsen tempe tahu untuk mogok.

Di Surabaya, Jawa Timur, tempe dilaporkan menghilang di beberapa pasar kota itu. Di Pasar Kosambi dan Pasar Baru, Kota Bandung, Jawa Barat, tak ada pedagang yang menjual tempe. Calon konsumen pun kesulitan memperoleh tempe. Ada sejumlah pedagang yang masih berjualan, tetapi hanya menjual tahu.

”Saya cari tempe susah sekali, sampai sekarang belum ketemu. Kalau tahu masih ada yang menjual, tapi harganya mahal. Yang biasanya tahu kecil 10 biji Rp 3.000, sekarang Rp 5.000 sampai Rp 6.000,” kata Rohaeni (60), calon pembeli di Pasar Kosambi.

Nana Sumarna (49), pedagang di Pasar Baru, mengaku, mulai Senin, dia tak menjual tahu dan tempe. ”Sesuai dengan komitmen, kami mogok selama tiga hari. Saat ini saya hanya menjual oncom,” ujar Nana.

Di Sukoharjo, Jawa Tengah, sebanyak 300 orang yang terdiri atas 62 pengusaha ditambah pekerja dan pedagang tahu tempe di Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, menggelar unjuk rasa terkait harga kedelai. Unjuk rasa di Tugu Kartasura ini memacetkan lalu lintas dari Solo menuju Semarang dan Yogyakarta.

Produsen tahu dan tempe di Daerah Istimewa Yogyakarta juga mogok berproduksi selama tiga hari. Mereka menuntut pemerintah segera menstabilkan harga kedelai impor. Ketua Primkopti Kota Yogyakarta Muryanto menyatakan, anggota koperasi tahu tempe sepakat mengikuti aksi mogok nasional.

Di Bengkulu, karena harga kedelai terus meroket, sekitar 30 persen produsen tahu dan tempe gulung tikar dan berhenti berproduksi. Mereka kemudian beralih pekerjaan sementara waktu sambil menunggu harga kedelai membaik. (NEL/ART/PIN/FRO/RAY/BRO/K09/K05/K02/K12/ATO/MAS/ARN/ODY/ETA/WSI/KOR/SEM/EKI/RWN/SIR/NIK/EGI/APA/ADH/PRA/WIE/WHO)


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Erlangga Djumena
Sumber: KOMPAS CETAK