Jumat, 25 April 2014

Ekonomi / Makro

Harga Kedelai Bulog Turun, Harga Tahu Tempe Tetap Naik 10-20 Persen

Selasa, 17 September 2013 | 09:44 WIB
KOMPAS.com/TAUFIQURRAHMAN Perusahaan tahu di Pamekasan, bisa bertahan dengan mencapur kedelai lokal dengan kedelai impor. Selain itu ukurannya juga semakin diperkecil.

JAKARTA, KOMPAS.com - Perajin tahu tempe yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo) mengatakan, meski harga kedelai dari Perum Bulog ke perajin sudah turun, namun harga tahu dan tempe tetap naik antara 10-20 persen.

Alasannya perajin sudah mengalami kenaikan harga berkali-kali. Sehingga penurunan harga yang baru sekali dari Perum Bulog belum dapat mengompensasi biaya produksi yang cukup memberatkan beberapa pekan belakangan.

"Teman-teman perajin minta maaf. Dari Juli kami beli kedelai impor Rp 7.000 per kilogram, Agustus awal Rp 7.250 per kilogram, pertengahan Agustus Rp 7.700 per kilogram, dan akhir Agustus Rp 8.900 per kilogram, dan sekarang lebih. Jadi kami sampaikan harga tahu tempe tetap naik 10 - 20 persen," ujar Ketua Umum Gakoptindo, Aip Syaifuddin, dalam sesi tanya jawab di Gudang Bulog Divre DKI, Pulogadung, Jakarta, Senin (16/9/2013).

Sebagaimana diberitakan, Perum Bulog menjual perdana kedelai lokal dari petani di Provinsi Aceh kepada Gakoptindo seharga Rp 8.100 per kilogram melalui proses lelang. Aip mengatakan, harga tersebut cukup memuaskan perajin, karena kedelai sudah dibersihkan dan sesuai SNI Kemendag, meskipun harganya dirasa masih tinggi.

"Tadinya kita minta Rp 7.700 per kilogram. Karena ini baru pertama kali dan semoga bisa merangsang petani dalam negeri, kami tidak apa-apa," ujar Aip.

Berdasarkan surat Menteri Perdagangan RI No. 04 PI-57.13.0037 tanggal 29 Agustus 2013, Perum Bulog diberi izin impor sebesar 100.000 ton, yang didatangkan melalui semua pelabuhan di Indonesia. Selain itu, Perum Bulog juga ditugaskan untuk membeli kedelai dari petani sebanyak 25.841 ton, dan menjual ke pengrajin sejumlah tersebut dengan penetapan harga yang berlaku.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Estu Suryowati
Editor : Erlangga Djumena