Kamis, 23 Oktober 2014

Ekonomi / Makro

Terbentur Kurs, Pengadaan Alat Pengendali BBM Terhambat

Selasa, 24 September 2013 | 21:05 WIB
KOMPAS/HERU SRI KUMORO Ilustrasi: Petugas PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti) menjajal alat monitoring dan pengendalian BBM subsidi di SPBU Jalan Abdul Muis, Jakarta, Selasa (7/5/2013). PT Inti merupakan perusahaan yang mendapat proyek pengadaan dan pemasangan alat pengendalian BBM untuk sekitar 100 juta kendaraan, 5.027 SPBU, dan 92.000 nozel. Saat ini alat tersebut sedang diuji coba di tiga SPBU di Jakarta.

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Perekonomian Hatta Rajasa meminta PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti) selaku pemenang tender pembuatan alat kendali bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dengan teknologi identifikasi frekuensi radio atau radio frequency identification (RFID) untuk segera menyelesaikan pembuatan alat tersebut. Meski demikian, saat ini pengadaan alat tersebut sedang terkendala karena pelemahan kurs rupiah.

"Saya minta (pengadaan alat itu) dipercepat. Makanya kalau ikut tender itu harus diperhatikan betul, dicek persiapan dananya. Kalau begini kan mengganggu proses semuanya," kata Hatta saat ditemui di kantornya di Jakarta, Selasa (24/9/2013).

Ia menambahkan, mekanisme pengadaan alat RFID tersebut memang urusan antar-korporasi yaitu PT Pertamina selaku pemilik proyek dan PT Inti selaku pemenang tender pengadaan alat RFID tersebut.

Pemerintah, kata Hatta, tidak akan campur tangan dalam mengurusi masalah ini. Sebab, hal tersebut sudah menjadi ranah korporasi yang harus diselesaikan secara korporasi.

Hatta berharap pengendalian BBM bersubsidi kelak menjadi terjaga dengan alat ini, dan tidak ada penyelundupan BBM bersubsidi di semua stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang ada di Indonesia. "Intinya tidak boleh lagi terjadi seperti itu. Alat ini memang untuk faktor pengendalian supaya tidak ada penyelundupan atau tidak ada penyimpangan mulai dari depo hingga SPBU," tambahnya.

Sekadar catatan, PT Inti dalam kesepakatan dengan Pertamina untuk membuat alat RFID ini menggunakan kurs Rp 9.700 per dollar AS. Namun karena gejolak ekonomi saat ini, rupiah sudah menembus level Rp 11.000 per dollar AS. "Dalam rangka untuk proyek Pertamina ini kita memproses pinjaman ke bank. Ketika proses berjalan tiba, dollar naik. Kenaikannya luar biasa juga. Kenaikan itu lebih 20 persen," kata Direktur Utama PT Inti Tikno Sutisna.

Padahal untuk memproduksi alat RFID ini, PT Inti harus membutuhkan bahan impor. Di saat kondisi rupiah melemah, otomatis, dana untuk mengimpor juga harus lebih besar dibandingkan sebelumnya. Saat ini PT Inti sedang bernegosiasi dengan PT Pertamina untuk menyelesaikan masalah kurs tersebut.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Didik Purwanto
Editor : Erlangga Djumena