Senin, 24 November 2014

Ekonomi / Makro

PERTUMBUHAN EKONOMI

Jebakan Kelas Menengah

Selasa, 19 November 2013 | 07:38 WIB
SHUTTERSTOCK Ilustrasi


KOMPAS.com -
Frasa kelas menengah cukup populer di semua kalangan di Indonesia. Pemerintah, kalangan pebisnis, hingga masyarakat menggunakan frasa itu dengan berbagai tujuan masing-masing.

Di dunia internet, misalnya, sebuah mesin pencari menemukan 2,8 juta untuk frasa itu dan 2 juta untuk frasa kelas menengah indonesia kurang dari setengah detik, Jumat (15/11/2013), pukul 17.00. Di media sosial, perang gagasan soal kelas menengah diperbincangkan dari perilaku sebagian orang saat berkendara hingga kemungkinan pilihan politik pada Pemilihan Umum 2014.

Di kalangan pebisnis, mulai lokal hingga multinasional, kelas menengah merupakan magnet bagi kata dan atau frasa lain yang mengikuti, mulai dari peluang, pertumbuhan, profit atau keuntungan, hingga uang. Tanyakan saja kepada bos-bos Lafayette dan H&M apa alasan dan siapa yang mereka tuju saat membuka gerai mereka di sentra Jakarta tahun ini.

Frasa itu pula yang disebut manajemen PT Astra International Tbk sehingga korporasi itu ingin menggeber unit properti dan menggarap asuransi jiwa di Indonesia mulai tahun depan. Ya, frasa-frasa itu seputar pertumbuhan kelas menengah di negeri ini.

Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam laporan bertajuk ”Key Indicator for Asia and The Pacific 2010” membagi kelas menengah dalam tiga kelompok berdasarkan biaya pengeluaran per kapita per hari. Pertama, kelas menengah dengan pengeluaran 2-4 dollar AS per kapita per hari. Kedua, kelompok dengan pengeluaran 4-10 dollar AS per kapita per hari. Ketiga, kelompok dengan pengeluaran 10-20 dollar AS per kapita per hari.

Jumlah masyarakat Indonesia yang termasuk dalam klasifikasi itu pun meningkat di negeri ini. Berdasarkan data Bank Dunia, tahun 2003 jumlah kelas menengah di Indonesia hanya sekitar 37,7 persen. Namun, pada tahun 2010, jumlah itu meningkat menjadi di kisaran 56,6 persen, mencapai 134 juta jiwa.

Yang terbaru, Bank Indonesia (BI) menyatakan Indonesia telah mantap berada pada posisi negara berpendapatan menengah dan bertransisi dari pendapatan menengah bawah menuju pendapatan menengah atas. Ekspansi kelas menengah dalam satu dekade terakhir akan berlanjut dan pasar domestik terus membesar. Patut dicatat peringatan BI yang melihat keberadaan kelas menengah ini dalam proses mengurai kelemahan struktural. Hal itu berpotensi mengganggu upaya mendorong ekonomi ke tingkat lebih tinggi.

Jebakan kelas menengah di depan mata. Sebuah situasi ekonomi yang mandek setelah sukses mencetak pertumbuhan pesat. Saat ekonomi cenderung melambat, peningkatan standar hidup ikut berhenti di saat warga pada umumnya belum mencapai tingkat kemakmuran seperti yang dinikmati warga di negara-negara maju.

Otoritas BI melihat ekspansi kelas menengah ditandai struktur permintaan barang dan jasa yang semakin beragam dengan karakteristik semakin kompleks. Namun, di tengah perubahan struktur permintaan agregat tersebut, ekspansi perekonomian dirasakan terlalu cepat dan rentan terhadap koreksi. Laju pertumbuhan ekonomi ke lintasan yang lebih tinggi menjadi tertahan.

Kendala pada laju pertumbuhan ekonomi itu merupakan gambaran ketidakseimbangan antara struktur permintaan agregat dan kapabilitas di sisi penawaran. Dari sisi penawaran, struktur produksi yang terbentuk dalam satu dekade terakhir lambat laun terasa semakin ketinggalan zaman (obsolete), yakni industri dengan warisan sumber daya alam dan surplus tenaga kerja sebagai modal dasar pembangunan.

Ciri masyarakat kelas menengah adalah ingin dan mampu membeli barang dengan kualitas dan nilai tambah yang semakin tinggi. Dengan meningkatnya kompleksitas barang yang diminta, dibutuhkan basis keunggulan dan kapabilitas industrial yang meningkat.

Di situ diperlukan infrastruktur konektivitas, baik digital maupun fisik. Aspek manajemen energi pun menuntut perbaikan. Iklim usaha termasuk mengenai kemudahan memulai usaha, kepastian hukum, hingga registrasi hak milik menuntut waktu.

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2015 menjadi uji atas tolok ukur terdekat kemampuan transisi kemantapan Indonesia dalam posisi negara berpendapatan menengah. Mari menjawab dengan kerja keras atas pertanyaan menantang Gubernur BI Agus DW Martowardojo, ”Mampukah kita memanfaatkan MEA dan menjadi bagian dari rantai nilai global, atau hanya akan menjadi target pasar?” (Benny D Koestanto)


Editor : Erlangga Djumena
Sumber: KOMPAS CETAK