Sabtu, 29 November 2014

Ekonomi / Inspirasi

Nyoman, Meraih Ratusan Juta dari Handicraft Kain

Kamis, 26 Desember 2013 | 13:52 WIB
Shutterstock Ilustrasi

KOMPAS.com -
Berbekal pengalaman sembilan tahun bekerja di industri garmen, I Nyoman Gede Sumaartha sukses membangun usaha handicraft  di Bali. Di bawah bendera CV Seni Echo, ia menghasilkan aneka handicraft dari bahan kain, mulai dari taplak meja, sarung bantal, gorden, lampu hias, hingga aneka pelengkap  ruangan untuk apartemen dan kamar hotel.

Ia paham betul bahan kain yang berkualitas, dan punya jaringan yang luas. Inilah yang menjadikan usaha yang dirintisnya pada 1997 berkembang pesat. Saban minggu, pria yang akrab disapa Nyoman ini mampu memproduksi 2.500 - 3.000 item handicraft. Harganya bervariasi, mulai Rp 12.000 hingga Rp 3 juta per item.

Nyoman tak hanya memasok kebutuhan hotel, apartemen dan rumah di dalam negeri, tapi hingga luar negeri, seperti Amerika Serikat, Australia, Malaysia, dan Hongkong.

Pasalnya, selain punya dua galeri sendiri di Bali, ia melempar produk ke luar negeri lewat mitranya, Zen-Zen Garden Home di AS. Ia juga punya puluhan reseller di berbagai daerah di Indonesia. Tak heran, Nyoman mampu meraup omzet sekitar Rp 700 juta sebulan.

Namun, dibalik kisah suksesnya, Nyoman mengawali usaha dari menjadi seorang trader alias menjual barang buatan orang lain. Ia mengambil aneka handicraft berbahan kain dari produsen di sekitar Bali untuk dijual. "Lama-lama, saya mendapati kualitas bahan yang digunakan suplier kurang bagus, sehingga saya pikir lebih baik produksi sendiri," tuturnya.

Pria kelahiran Negare, Bali, 45 tahun silam ini memilih bahan kain rayon dan perca sebagai bahan baku handicraft. Kelebihan bahan ini terlihat berkilau dan tidak mudah kusut. Dengan kreativitasnya, lahirlah aneka desain cantik.

Kegiatan produksi pertama kali dikerjakan di rumah kontrakan di Kuta, dengan dibantu tiga pekerja. Ia pun mempekerjakan warga sekitar rumahnya. Kini, Nyoman sudah membangun workshop seluas 600 m2 di Legian, Kuta, Bali. Ada, 80 orang yang kini bekerja di CV Seni Echo.

Mayoritas pekerjanya adalah warga yang menganggur, terutama mereka yang putus sekolah. "Lewat usaha ini, saya bisa memberdayakan dan membantu ekonomi mereka," ujar pria lulusan Sekolah Menegah Atas (SMA) di Negare, Bali ini.

Ia yakin, usaha ekonomi kerakyatan bisa maju apabila di dukung pekerja yang kreatif dan pekerja keras. Makanya, ia membimbing para pekerjanya hingga mampu menghasilkan karya yang kreatif. "Tak hanya berhenti di situ, kita pun harus mengapresiasi hasil karya mereka, sehingga mereka punya semangat untuk berkembang," ucap Nyoman.

Makanya, kini, ada beberapa pekerjanya yang mulai memproduksi aneka handicraft sendiri di rumahnya. Namun, bentuknya masih setengah jadi. Proses finishing, seperti pemasangan pemanis, seperti renda, kancing atau tali tetap digarap di workshop CV Seni Echo. "Hasil produksi mereka saya beli, kemudian dikemas lagi dengan sentuhan Seni Echo," ungkap bapak dua anak ini.

Memiliki mitra di luar negeri memudahkan I Nyoman Gede Sumaartha memasarkan produknya sampai luar negeri. Lewat mitra inilah, ia secara aktif memasok aneka produk handicraftke berbagai negara.

"Saya pasarkan seperti ke Australia, Amerika, dan Asia. Walaupun bukan saya yang langsung turun tangan. Jadi, ada rekanan saya yang memasarkan lewat pameran di sana," kata ayah dari dua orang anak ini.

Menolak tawaran Disney

Saat ini, CV Seni Echo memiliki 10 mitra yang tersebar di seluruh dunia. Salah satunya, Nyoman menjalin kerja sama dengan Zen-Zen Garden Home yang ada di Amerika Serikat.

Menurut Nyoman, banyak perusahaan-perusahaan asing yang tertarik menggunakan produk buatannya. Meski begitu, ia tak langsung dengan mudah menjalin kerjasama dengan perusahaan tersebut. Bahkan, beberapa perusahaan ada yang ditolaknya, meskipun perusahaan tersebut sudah terkenal.

Salah satu perusahaan yang ajakan kerjasamanya ditolak Nyoman, yaitu Disney. Ia mengetahui jejak rekam Disney sebagai perusahaan internasional yang cukup besar. Namun, menurutnya, kerjasama yang ditawarkan pihak Disney tidak menguntungkan bagi usahanya. "Kenapa saya tolak? Ya jelas, karena saya merasa dirugikan dengan mutual of understanding (MoU) yang dibuat pihak Disney," katanya.

Ia menambahkan, ia justru merasa dibebani dan tawaran kerjasama tersebut lebih menguntungkan Disney. Namun, Nyoman tak memerinci tentang poin yang menyebabkannya keberatan atas kerjasama.

Baginya, tak masalah apapun perusahaannya, asalkan kerjasama yang dilakoni menguntungkan kedua belah pihak. "Saya punya prinsip, buat apa terkenal, kalau pada akhirnya merugikan perusahaan saya," jelasnya.

Untuk perusahaan dalam negeri pun, jika tidak mendatangkan untung, Nyoman tidak ingin melakukan kerjasama. Ia mengaku sudah beberapa kali memutuskan kerjasama dengan perusahaan di dalam negeri. "Kalau kerjasama sudah tidak masuk akal, akan saya batalkan," katanya. Maka, dalam berbisnis, Nyoman sangat selektif dalam memilih rekan.

Ia juga bilang, keuntungan yang didapat, diantaranya untuk mensejahterakan karyawan. Baginya, kesuksesan CV Seni Echo terletak pada kualitas hidup para pegawai. Kesejahteraan karyawan penting untuk membangun loyalitas dan sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras mereka. "Tidak perlulah terkenal dan memakai mobil Ferrari; buat apa kalau kualitas hidup kita biasa saja," tuturnya.

Ke depan, Nyoman berambisi menambah jumlah gerai di Bali. Selain itu, Nyoman juga berencana menambah mitra di luar negeri. Tujuannya, supaya pasar produk handicraft-nya semakin luas. "Kita juga butuh ekspansi, namun yang paling utama kita membutuhkan modal yang cukup," ucap Nyoman tanpa merinci besar modal yang dibutuhkan.

Modal itu dibutuhkan untuk menggenjot kapasitas produksi dan menambah karyawan. Sat ini, Nyoman mampu memproduksi 2.500 sampai 3.000 item per minggu. Ke depan, ia menargetkan produksi hingga 10.000 item per minggu. (Pratama Guitarra)


Editor : Erlangga Djumena
Sumber: KONTAN