Sabtu, 2 Agustus 2014

Ekonomi / Makro

Kalau Jokowi Jadi RI 1, Rupiah Melesat

Selasa, 11 Februari 2014 | 07:19 WIB
TRIBUNNEWS/HERUDIN Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (tengah), saat akan meluncurkan dimulainya pembangunan mass rapid transit (MRT) di sekitar bundaran HI Jakarta Pusat, Kamis (2/5/2013). Pada tahap pertama pembangunan MRT, yakni dari Lebak Bulus sampai Bundaran HI, jalur MRT akan terpasang sepanjang 15,7 kilometer. Proyek ini diperkirakan akan menghabiskan dana sebesar 125 miliar yen atau sekitar Rp 12,5 triliun.

JAKARTA, KOMPAS.com — Malayan Banking Bhd (Maybank) dan Morgan Stanley memandang, jika Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) memenangi pemilu presiden tahun ini, rupiah akan melesat dan perkasa. Masalahnya, Jokowi belum masuk bursa calon presiden (capres).

Kepala Riset Valuta Asing Maybank Saktiandi Supaat di Kuala Lumpur mengatakan, nilai tukar rupiah diprediksi akan menguat 7,6 persen menjadi Rp 11.300 per dollar AS pada akhir tahun ini jika Jokowi yang sangat populer ini memenangi pemilu. Bila Jokowi tak menang, rupiah hanya akan menembus level Rp 11.700 per dollar AS.

"Pasar akan merespons sangat positif (kemenangan Jokowi). Sejauh ini, ia telah mengatur administrasi yang bersih dengan nilai partisipasi dan demokrasi yang kuat. Ini sesuatu yang sangat dibutuhkan Indonesia yang masih muda demokrasinya," kata Kepala Riset Pasar Finansial Asia Pasifik Rabobank International di Hongkong Michael Every, dikutip dari Bloomberg, Selasa (11/2/2014).

Sementara itu, Morgan Stanley memandang rupiah akan menguat ke Rp 11.800 per dollar AS, dengan asumsi Jokowi adalah capres. Presiden RI terpilih akan diwariskan perlambatan ekonomi yang diwarnai korupsi, masih menyesuaikan diri terhadap pengurangan stimulus moneter AS, dan rupiah yang melemah 21 persen.

"Dengan Jokowi yang berada di puncak teratas polling capres, hal ini cukup untuk menghapus kekhawatiran politik selama pemilu," kata analis Morgan Stanley di Hongkong.

Performa rupiah melorot 21 persen tahun 2013 lalu, merupakan yang paling terpuruk setelah peso Argentina dan terburuk sejak tahun 2000.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Sakina Rakhma Diah Setiawan
Editor : Erlangga Djumena