Jatuh, Bangun, dan Jatuh Lagi Bisnis Mandala Air - Kompas.com

Jatuh, Bangun, dan Jatuh Lagi Bisnis Mandala Air

Kompas.com - 20/06/2014, 13:50 WIB
KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNA Airbus A320 milik Tigerair Mandala Airlines saat berada di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.

JAKARTA, KOMPAS.com – Dunia penerbangan nasional kembali terhentak setelah PT Mandala Airline, salah satu maskapai penerbangan lokal yang memiliki sejarah panjang di dunia penerbangan Indonesia memutuskan untuk berhenti beroprasi alias tumbang ditengah jalan.

Bagi sebagian orang, berhentinya Mandala pada 1 Juli 2014 tentu saja mengejutkan. Pasalnya bukan kali ini saja Mandala mendapatkan masalah keungannya. Sejak awal berdirinya Mandala tahun 1969 sampai memutuskan berhenti beroprasi beberapa waktu lalu, Mandala sudah memiliki pengalaman panjang mengatasi masalah keuangan yang melilitnya.

Secara historis, PT Mandala Airline didirikan pada tahun 1969 oleh para prajurit-prajurit TNI yaitu Kolonel Sofjar, Mayjen Raden Soerjo, Mayor Soegandi Partosoegondo, Mayor Kasbi Indradjanoe, dan Mayor Darwin Ramli.

PT Mandala Airline membuka pertama kali jalur penerbangan kearah timur Indonesia dengan pesawat Vicker Viscount (VC-8). Rute penerbangannya meliputi kota Jakarta, Ambon, Surabaya, Denpasar, Gorontalo, Manado, Yogyakarta, Ujung Pandang (sekarang Makasar), dan Kendari.

Seiring berkembangnya waktu, tahun 1972, Mandala mengambil alih rute-rute Seulawah Air yaitu rute di kota Banda aceh, Banjarmasin, Medan, Padang, Palembang dan Pontianak. Ditengah bisnis penerbangan yang semakin menggeliat sampai awal tahun 2000-an, Mandala terus berkembang dari tahun ketahun.

Namun, masalah mulai tumbuh sejak tahun 2001 di mana pertumbuhan maskapai nasional semakin banyak dan persainganpun semakin kuat. Di tengah hirup pikuk persaingan, Mandala terimbas kebijakan politik yang tidak membolehkan militer memegang kendali bisnis pada tahun 2005 dan terlilit utang sebesar Rp 800 miliar kepada kreditur. Akibatnya, Mandala Airline harus dijual kepada pihak swasta setelah pemerintah menolak mengambilalih.

Melihat celah peluang bisnis, PT Cardig International mengakuisisi Mandala dengan harga 34 juta dollar Amerika pada tahun 2006. Perpindahan kepemilikan saham mayoritas tidak sampai disitu, pada tahun yang sama, Indigo partners mengakuisisi 49 persen saham Cardig.

Meskipun kepemilikan sahamnya bukan lagi dimiliki militer, masalah keuangan tidak lepas dari Mandala. Utang perusahaan terus meningkat bangkah menyentuh angka Rp 2,4 triliun. Akibatnya Mandala pernah memberhentikan operasinya sementara.

Manajemen Mandala kemudian memutuskan untuk kembali terang pada medio pertengahan 2011. Saat itu kepemilikan saham sudah berganti kepada PT Saratoga Investment sebesar 51 persen dan TigerAir yang berasal dari Singapura sebesar 33 persen serta sisanya tetap dimiliki oleh pemegang saham yang lama.

Kondisi keuangan Mandala terus terkuras, akibat semakin menurunnya penumpang dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar. Ketidakmampuan mengelola keuangan tersebut membuat Dewan Komisaris mengambil keputusan untuk menghentikan operasi mulai 1 Juli 2014.

Keputusan tersebut tentu berdasarkan pertimbangan yang cermat dari Dewan komisaris mandala. Namun, satu hal yang penting dari rentetan sejarah Mandala Air tersebut adalah bahwa bahwa dalam bisnis bukan hanya ada jatuh dan bangun tetapi juga bisa jatuh lagi.


EditorBambang Priyo Jatmiko

Close Ads X