Gerakan untuk Perubahan - Kompas.com

Gerakan untuk Perubahan

Kompas.com - 27/04/2015, 19:05 WIB
KOMPAS/DENTY PIAWAI NASTITIE Seiring pertumbuhan kota, kepadatan lalu lintas kerap terjadi di Jalan Margonda Raya, Kota Depok, seperti terlihat Kamis (23/4). Mengatasi kemacetan merupakan salah satu tugas Pemerintah Kota Depok untuk menuju kota yang cerdas (smart city).

KOMPAS.com - "Sedia Nasi ODNR". Tulisan itu tertera pada "banner" merah di Rumah Makan Mang Kabayan, Jalan Margonda Raya, Kota Depok, Jawa Barat. Namun, pelanggan kecewa begitu tahu nasi yang terbuat dari beras jagung itu tak tersedia, Selasa (21/4). Menapak usia 16 tahun, ketahanan pangan adalah salah satu prioritas kota ini.

Gerakan satu hari tanpa nasi atau one day no rice (ODNR) dicetuskan Wali Kota Nur Mahmudi Ismail sejak tahun 2011. Gerakan itu mengajak warga mengurangi konsumsi nasi. Sebagai gantinya, warga diajak mengonsumsi karbohidrat nonberas, seperti singkong, ubi, dan jagung.

Meski terkesan sepele, ODNR bernilai strategis. Gerakan itu bermisi melindungi kesehatan warga, menjaga ketahanan pangan nasional, dan menekan angka kemiskinan.

Selain ODNR, Pemerintah Kota Depok juga meluncurkan gerakan menghemat pemakaian bahan bakar minyak (BBM). Pada hari tertentu, warga Depok diminta tak menggunakan mobil saat bepergian. Melalui gerakan one day no car, warga diminta beralih menggunakan angkutan umum. Cara ini dipercaya bisa mengurangi anggaran konsumsi BBM nasional.

Tingkat konsumsi beras di Depok tinggi. Dengan jumlah penduduk sekitar 1,96 juta jiwa, kebutuhan beras mencapai 177.610 ton per tahun. Angka ini tak sebanding dengan rata-rata produksi beras yang hanya 1.350 ton per tahun atau pemenuhan potensi lokal kebutuhan beras 0,76 persen.

Menurut Nur Mahmudi, kebiasaan warga yang setiap hari makan nasi dalam jumlah banyak berkaitan erat dengan tingginya ketergantungan pada beras. "Ketergantungan akan menyulitkan bangsa ini saat pasokan beras berkurang atau sulit dicari di pasaran," katanya di Depok pekan lalu.

Oleh karena tingginya permintaan, hingga kini Indonesia masih mengimpor beras dari negara lain. Selain mengancam ketahanan pangan nasional, terlalu banyak mengonsumsi nasi berdampak buruk bagi kesehatan. Menurut Nur Mahmudi, gerakan menumbuhkan kesadaran dan mengubah gaya hidup warga agar tidak bergantung makan nasi diperlukan. Gerakan untuk meningkatkan potensi daerah penghasil tanaman nonpadi.

Untuk percontohan, sejak empat tahun lalu pedagang di Balai Kota Depok dibatasi menjual makanan berbahan baku beras. Setiap Selasa, pedagang mengganti nasi dengan jagung, kentang, singkong, dan umbi-umbian yang diolah. Konsep serupa diadopsi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Depok. Setiap Selasa, rumah sakit itu menyediakan nasi ODNR yang terbuat dari jagung. Untuk pasien diet lunak, bubur nasi diganti kentang kukus.

Ahli gizi RSUD Depok, Hartini, menuturkan, nasi memiliki indeks glikemik (tingkat kecepatan glukosa dilepaskan dalam aliran darah) yang relatif tinggi. Kadar gula darah orang yang mengonsumsi nasi cenderung meningkat. "ODNR bisa dijadikan gaya hidup agar warga tidak berlebihan mengonsumsi nasi. Dengan cara itu, risiko diabetes dapat berkurang," paparnya.

Setiap hari, RSUD Depok menyediakan sekitar 60 porsi nasi jagung untuk pasien rawat inap. Saat dibagikan, sejumlah pasien tak suka karena rasanya berbeda dengan nasi biasa. Seusai dijelaskan manfaatnya, pasien mengerti dan mau memakannya.

Dari program ODNR ini, kata Nur Mahmudi, warga Depok bisa membantu Bulog menghemat konsumsi beras sekitar 22 juta ton per tahun. Konsumsi beras di Depok tahun 2011 sebanyak 264 gram per kapita per hari. Setelah gerakan ini digulirkan, konsumsi beras menjadi 254 gram per kapita per hari tahun 2012. Artinya, ada penurunan 3,79 persen konsumsi beras. Angka penurunan ini melebihi target nasional yang ditentukan 1,5 persen per tahun. Sejumlah perguruan tinggi, kalangan bisnis, dan sejumlah instansi pemerintah bekerja sama dengan Pemerintah Kota Depok mengembangkan ODNR, termasuk misalnya Rumah Makan Mang Kabayan dan Simpang Raya.

Di Rumah Makan Simpang Raya, nasi jagung dimasak dengan campuran mentega putih. Di Rumah Makan Mang Kabayan, nasi jagung diolah menjadi nasi goreng dan nasi liwet.

Manajer Operasional Rumah Makan Simpang Raya Ahmad Sugimansah menuturkan, gerakan ODNR menguntungkan secara bisnis. Tekstur jagung yang mudah mengembang membuat memasak 1 kilogram (kg) beras jagung menghasilkan 10 porsi nasi. Padahal, 1 kg beras putih hanya menghasilkan 6 porsi nasi. Di rumah makan yang berdiri sejak 1996 itu, permintaan nasi jagung juga terus meningkat.

Koordinator Ahli Masak (Chef) Rumah Makan Mang Kabayan Asep Suhendi menuturkan, gerakan ODNR menunjang konsep kebudayaan dan makanan Sunda yang diusung rumah makan itu. "Warga kembali makan jagung dan singkong seperti umumnya masyarakat Sunda," ujarnya.

Sayangnya, gerakan itu belum didukung pasokan yang memadai. Pekan lalu, sejumlah rumah makan di Depok yang mendukung program ODNR tak bisa menyediakan nasi jagung karena pasokan langka.

Selain itu, gerakan ODNR juga belum diikuti semua pemangku kebijakan. Selasa pekan lalu, misalnya, puluhan pegawai negeri sipil masih makan nasi di warung makanan di sekitar Balai Kota Depok. Mereka merasa tak kenyang jika tak memakan nasi dari beras.

Gerakan moral

Menurut ahli tata kota, Nirwono Joga, kebijakan ODNR dan sehari tanpa mobil di Kota Depok masih sebatas gerakan moral. Kota Depok masih menghadapi berbagai persoalan perkotaan lain.

Dalam hal pembangunan, lanjutnya, Depok termasuk kota dengan tata ruang semrawut. Kepadatan lalu lintas di Jalan Margonda Raya yang menghubungkan Depok dan Jakarta, misalnya, terjadi setiap hari. Ini terjadi karena Depok belum memiliki Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorBambang Priyo Jatmiko

Close Ads X