Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Korupsi, Mantan Eksekutif Petrobras Dibui 5 Tahun

Kompas.com - 27/05/2015, 10:01 WIB
RIO DE JANEIRO, KOMPAS.com - Seorang hakim di Brasil, Selasa (26/5/2015) waktu setempat, menghukum seorang mantan eksekutif Petrobaras, perusahaan minyak raksasa  milik negara itu, dengan lima tahun penjara karena perannya dalam skandal korupsi besar setelah ada bukti skandal itu menguntung para politisi.

Nestor Cervero, mantan direktur divisi internasional Petrobras, dinyatakan bersalah terkait pencucian uang setelah Hakim Federal Sergio Moro memutuskan ada bukti yang cukup untuk menghukum dia dalam skandal bernilai miliaran dollar itu, yang muncul ke permukaan pada Maret tahun lalu. Cervero ditangkap Januari lalu dan dipecat dari perusahaan, yang nilai pasarnya runtuh sejak skandal itu mencuat. Petrobras rugi miliaran dollar setelah harga sahamnya anjlok.

Perusahaan itu bulan lalu memperkirakan skema korupsi itu, yang dijuluki Operasi Cuci Mobil, telah merugikan perusahaan sekitar 2 milyar dollar AS.

Selain hukuman penjara, Cervero harus membayar denda sebesar 190 ribu dollar (Rp 2,5 miliar) menyusul persidangan di Kota Curitiba yang terletak di Brasil selatan.

Pengacara Cervero mengatakan, kliennya akan mengajukan banding.

Hakim Moro menemukan bahwa Cervero membeli sebuah apartemen mewah senilai 2,5 juta dollar (Rp 33 miliar) di Rio de Janeiro melalui sebuah anak perusahaan dengan uang yang diperoleh dari hasil suap yang melibatkan kontrak-kotrak Petrobras yang digelembungkan. Dia sekarang harus menjual apartemen itu dan hasil penjualannya diberikan ke Petrobras untuk menutup kerugian yang telah terjadi.

Rekan dari mantan direktur Petrobras itu, yaitu Paulo Roberto Costa, dijatuhi hukuman 7 tujuh tahun dan enam bulan penjara bulan lalu untuk kasus pencucian uang. Costa, yang juga harus mengembalikan uang negara sekitar 6 juta dollar, melakukan tawar-menawar dengan penyidik setelah ia mau membongkar (blew the whistle)  skema korupsi yang telah menyebabkan puluhan orang terutama orang-orang pro-pemerintah dan eksekutif puncak industri konstruksi ditahan.

Sebaliknya, Cervero tidak mau bekerja sama dengan penyidik, yang masih menyelidiki peran yang dimainkan oleh 13 senator, 22 anggota Kongres dan dua gubernur negara bagian.

Joao Vaccari, mantan bendahara Partai Pekerja (PT) yang berkuasa, ditangkap bulan lalu sebagai salah satu tokoh PT paling menonjol yang terjerat dalam skema korupsi itu. Para jaksa penuntut menuduh eksekutif Petrobras berkolusi dengan perusahaan-perusahaan konstruksi dalam mengelembungkan nilai kontrak dan menyuap para politisi.

Presiden Dilma Rousseff mengetuai dewan Petrobras selama sebagian besar periode yang sedang diselidiki itu, tetapi sejauh ini dia tidak dituduh melakukan kesalahan.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Ketidakpastian Global Meningkat, Sri Mulyani: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap di Atas 5 Persen

Ketidakpastian Global Meningkat, Sri Mulyani: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap di Atas 5 Persen

Whats New
Pada Pertemuan Bilateral di Kementan, Indonesia dan Ukraina Sepakati Kerja Sama Bidang Pertanian

Pada Pertemuan Bilateral di Kementan, Indonesia dan Ukraina Sepakati Kerja Sama Bidang Pertanian

Whats New
Semakin Mudah dan Praktis, Bayar PKB dan Iuran Wajib Kini Bisa lewat Bank Mandiri

Semakin Mudah dan Praktis, Bayar PKB dan Iuran Wajib Kini Bisa lewat Bank Mandiri

Whats New
Ketidakpastian Global Meningkat, Sri Mulyani: Sistem Keuangan RI Masih dalam Kondisi Terjaga

Ketidakpastian Global Meningkat, Sri Mulyani: Sistem Keuangan RI Masih dalam Kondisi Terjaga

Whats New
Pesan Luhut ke Prabowo: Jangan Bawa Orang-orang 'Toxic' ke Dalam Pemerintah Anda

Pesan Luhut ke Prabowo: Jangan Bawa Orang-orang "Toxic" ke Dalam Pemerintah Anda

Whats New
Barang Bawaan Pribadi dari Luar Negeri Tak Lagi Dibatasi, Ini Pesan Bea Cukai ke 'Jastiper'

Barang Bawaan Pribadi dari Luar Negeri Tak Lagi Dibatasi, Ini Pesan Bea Cukai ke "Jastiper"

Whats New
Bangun Pemahaman Kripto di Tanah Air, Aspakrindo dan ABI Gelar Bulan Literasi Kripto 2024

Bangun Pemahaman Kripto di Tanah Air, Aspakrindo dan ABI Gelar Bulan Literasi Kripto 2024

Rilis
Terbitkan Permentan Nomor 1 Tahun 2024, Mentan Pastikan Pupuk Subsidi Tepat Sasaran

Terbitkan Permentan Nomor 1 Tahun 2024, Mentan Pastikan Pupuk Subsidi Tepat Sasaran

Whats New
Resmi Kuasai 100 Persen Saham Bank Commonwealth, OCBC NISP Targetkan Proses Merger Selesai Tahun Ini

Resmi Kuasai 100 Persen Saham Bank Commonwealth, OCBC NISP Targetkan Proses Merger Selesai Tahun Ini

Whats New
Sucor Sekuritas Ajak Masyarakat Belajar Investasi lewat Kompetisi 'Trading'

Sucor Sekuritas Ajak Masyarakat Belajar Investasi lewat Kompetisi "Trading"

Earn Smart
Kunker di Jateng, Plt Sekjen Kementan Dukung Optimalisasi Lahan Tadah Hujan lewat Pompanisasi

Kunker di Jateng, Plt Sekjen Kementan Dukung Optimalisasi Lahan Tadah Hujan lewat Pompanisasi

Whats New
Sudah Masuk Musim Panen Raya, Impor Beras Tetap Jalan?

Sudah Masuk Musim Panen Raya, Impor Beras Tetap Jalan?

Whats New
Bank Sentral Eropa Bakal Pangkas Suku Bunga, Apa Pertimbangannya?

Bank Sentral Eropa Bakal Pangkas Suku Bunga, Apa Pertimbangannya?

Whats New
Pasokan Gas Alami 'Natural Decline', Ini Strategi PGN Jaga Distribusi

Pasokan Gas Alami "Natural Decline", Ini Strategi PGN Jaga Distribusi

Whats New
BTN Pastikan Dana Nasabah Tidak Hilang

BTN Pastikan Dana Nasabah Tidak Hilang

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com