Selasa, 28 Februari 2017

Ekonomi

Tujuh Langkah Meraih Kemerdekaan Finansial

Kamis, 3 September 2015 | 07:44 WIB
SHUTTERSTOCK Ilustrasi

KOMPAS.com - Sudah 70 tahun Indonesia merdeka. Usia yang sudah renta sebenarnya. Namun rakyat Indonesia yang bisa disebut merdeka secara finansial, ternyata masih terbilang minim. Bahkan, masyarakat kelas menengah pun masih banyak yang belum sampai pada tahap itu. Boro-boro meraih kemerdekaan finansial, sebagian besar belum paham arti kemerdekaan finansial.

Apa yang dimaksud kemerdekaan finansial?

Menurut Eko Endarto, perencana keuangan Financia Consulting kemerdekaan finansial adalah ketika seseorang mencapai tujuan keuangan, yang mencakup setidaknya tiga tujuan yakni dana pendidikan anak, dana pensiun, dan proteksi terlindungi melalui asuransi.

Jadi, saat mereka memerlukan dana untuk keperluan tadi, keuangan mereka secara keseluruhan tidak terganggu. Maka, “Kemerdekaan finansial itu bukan berarti punya uang yang banyak,” tegas Eko.

Eko mengatakan bahwa kemerdekaan finansial bukan berarti ketiga tujuan keuangan tadi, secara nominal, sudah tercapai. “Masih setor dananya secara rutin itu juga sudah bisa dibilang sudah merdeka finansial,” ujarnya.  

Menurut Eko Pratomo, penulis buku Finansial Wisdom pengertian kemerdekaan finansial seringkali diartikan secara kurang tepat. Ada yang berpendapat bahwa kemerdekaan finansial adalah suatu kondisi di mana seseorang sudah punya aset yang memberikan pasive income atau punya kelebihan pendapatan.  “Istilah yang tepat, menurut saya, kemandirian finansial,” kata Eko Pratomo. Sesuai dengan  hukum Pareto, maka baru sekitar 20 persen masyarakat yang mencapai kemandirian finansial, sedangkan sisanya belum.    

Sejauh ini, menurut Eko Pratomo, sebagian besar masyarakat belum sadar bahwa ada kebutuhan di masa depan yang harus disiapkan jauh-jauh hari. “Anak sudah kelas 2 SMA baru kelabakan menyiapkan biaya masuk kuliah, padahal seharusnya sejak anaknya lahir harus sudah disiapkan dana pendidikannya,” jelasnya.

Di antara sebagian kecil masyarakat yang sadar terhadap kebutuhan di masa depan adalah L.Dewi, seorang dokter gigi spesialis yang memiliki klinik sendiri di Yogyakarta. Dokter gigi  ini menuturkan sejak anak pertamanya lahir tahun 2009 ia langsung menyiapkan dana pendidikan melalui produk asuransi pendidikan. “Waktu itu setoran preminya Rp 100.000 per bulan dan tahun depan sudah selesai 17 tahun akan cair dananya,” jelas ibu dua orang putri ini.

Sejak melepaskan status PNS, Dewi sadar harus siap menghadapi aneka risiko finansial. Karena itu, ia memiliki dana darurat di deposito berjangka 1 bulan agar mudah dicairkan jika dibutuhkan. Selain itu Dewi  juga memiliki proteksi asuransi jiwa dan kesehatan. Kini ia merasa sudah mencicipi kemerdekaan finansial. “Kalau saya lebih karena merasa butuh, jadi harus bisa menyisihkan secara rutin,” jelasnya.

Lain halnya dengan yang dialami oleh Pitoyo. Pegawai bank yang tinggal di Jakarta  ini mengaku terlambat dalam menyiapkan kemandirian finansial. “Saya baru sadar itu saat anak pertama masuk sekolah dasar dengan membuat asuransi pendidikan, padahal seharusnya sejak lahir sudah disiapkan,” kata ayah tiga anak ini.

Makanya, saat anak kedua dan ketiga lahir, ia lantas menyiapkan tabungan pendidikan.   Sedang dana darurat ia memilih menempatkan dalam bentuk tabungan. “Dana darurat ini sangat penting dan terasa sekali kebutuhannya saat jumlah anak bertambah,’jelasnya. Dalam waktu dekat ia memilih investasi properti dengan alasan lebih mudah dilihat hasilnya.

Hal penting yang harus disadari dalam menuju kemerdekaan finansial adalah punya pola hidup sesuai dengan besarnya gaji atau penghasilan, sehingga pengeluaran bisa diatur lebih kecil ketimbang penghasilan. “Jangan sampai misalnya gaji Rp 10 juta terus dihabiskan. Setidaknya belanjakan hanya Rp 7 juta,” jelas Eko Pratomo.Sisanya, tentu saja untuk mengangsur kebutuhan masa depan yang harus terpenuhi dengan cara disiapkan jauh-jauh hari pendanaannya.


Tetap konsisten
Apakah Anda ingin mewujudkan kemerdekaan finansial? Agar cita-cita ini bisa dicapai, maka Anda harus disiplin dalam setiap langkah. Secara garis besar ada tujuh langkah yang harus ditempuh dalam meraih kemerdekaan finansial.


1. Identifikasi aset
Langkah ini penting dilakukan untuk mengetahui mana aset yang produktif dan yang kurang produktif. Aset produktif, seperti rumah yang bisa disewakan, tentu bisa menjadi pasive income. Sedang aset yang kurang produktif perlu Anda pikirkan solusinya, agar bisa ditingkatkan menjadi produktif ataukah justru lebih efisien jika dijual. Namun, menurut Eko Endarto, aset ini tidak terlau berpengaruh dibanding utang.


2. Melunasi Utang
Jika Anda memiliki utang konsumtif seperti utang kartu kredit, maka langkah utama sebelum ke langkah selanjutnya adalah melunasi utang terlebih dahulu. Ingat bunga kartu kredit sangat tinggi dan jangan sampai Anda hanya mampu membayar sebatas cicilan minimum. Gunakan kartu kredit sebagai alat pembayaran dan mampu Anda bayar lunas saat tagihan datang di bulan berikutnya. Jangan sekali-kali Anda berpikir bahwa kartu kredit adalah tambahan dana tunai. Risikonya Anda bisa terjebak dalam jeratan tagihan.

Jika Anda memiliki utang seperti KPR maka disarankan total cicilan tidak lebih dari 30% hingga 40 persen dari penghasilan. “Kalau total cicilan sudah di atas 40% penghasilan, maka bisa dipastikan keuangan tidak nyaman karena belum bisa menyisihkan untuk dana pendidikan anak dan dana pensiun.


3. Antisipasi risiko
Sebelum berinvestasi, harap diingat bahwa seluruh hasil investasi bisa sia-sia jika Anda tidak punya proteksi berupa asuransi baik jiwa maupun kesehatan. Eko Endarto menyarankan untuk mengasuransikan terkait prioritas, utamanya adalah pihak dengan  tanggungjawab keuangan besar, bisa suami atau istri atau keduanya jika sama-sama bekerja.

Nah, jika Anda berhubungan dengan agen asuransi yang memberikan ilustrasi proposal produk asuransi, jangan langsung terpaku pada ilustrasi tersebut. Anda yang lebih tahu kebutuhan proteksi yang Anda perlukan.

Ada tip dari Eko yang bisa juga Anda jadikan pedoman dalam mengukur nilai uang pertanggungan yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Uang pertanggungan untuk asuransi jiwa setidaknya sebesar 50 kali pengeluaran bulanan Anda. Uang pertanggungan yang ideal adalah 100 kali pengeluaran bulanan Anda.

Asuransi jiwa dibutuhkan untuk kedua orangtua atau setidaknya yang memiliki tanggung jawab keuangan keluarga. Sedang asuransi kesehatan wajib dimiliki seluruh anggota keluarga. Jika Anda ingin setoran premi yang hemat, pilihlah produk asuransi yang dengan satu setoran premi tetapi sudah mencakup asuransi kesehatan untuk suami-istri dan anak-anak.

Sejak program BPJS Kesehatan diluncurkan pemerintah, hampir sebagian besar perusahaan asuransi mengeluarkan produk baru yang menarik untuk Anda pilih secara cermat.


 4. Siapkan dana darurat
Dana darurat adalah dana yang disiapkan untuk hal-hal yang tidak diinginkan atau bila ada kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi. Berapakah besaran dana darurat dan sebaiknya disimpan di manakah dana darurat tersebut?

Eko Endarto menyarankan besaran dana darurat minimal adalah 3 kali pengeluaran bulanan. Penempatan dana bisa pada tabungan sebesar 1 kali pengeluaran dan deposito sebesar 2 kali pengeluaran bulanan. Namun jika Anda mampu menyisihkan dana darurat sesuai angka ideal yakni 6 kali pengeluaran bulanan, maka penempatan dana darurat bisa Anda sebar ke tiga atau empat jenis produk keuangan dengan komposisi tabungan 1 kali pengeluaran bulanan, deposito 2 kali, emas atau reksadana pendapatan tetap 3 kali.

Yang patut diingat, jika dana darurat Anda pakai, misalnya guna menambah biaya rumah sakit karena melebihi limit asuransi, maka Anda harus memulai mengumpulkan dana darurat secara bertahap hingga terkumpul jumlah dana semula.

Setiyo Wiwoho, Group Head Consumer Banking Bank Mandiri bilang penempatan dana darurat sebaiknya diatur dengan komposisi 30 persen dalam bentuk tabungan dan sisanya ke deposito berjangka 1 bulan. “Deposito harus ambil yang 1 bulan supaya tidak kena penalti sebesar 0,5 persen, jadi lebih likuid jika hendak ditarik,” ujarnya.

Bunga tabungan saat ini berkisar 0 persen hingga 2 persen. Sedang bunga deposito berkisar 5 persen hingga 7,75 persen. Pilihan penempatan dana darurat lainnya adalah reksadana pasar uang, pencairan dana perlu waktu H+1.


 5. Tetapkan tujuan
Kemerdekaan finansial akan bisa Anda raih dan rasakan saat semua tujuan keuangan Anda tercapai.

Setiap orang tentu memiliki tujuan keuangan sendiri-sendiri sesuai skala prioritas. Anda yang berstatus lajang tentu punya tujuan keuangan berbeda dengan orang yang sudah berkeluarga. Orang yang berkeluarga juga punya jumlah tanggungan yang berbeda-beda. Saat ini, ada sebagai masyarakat yang sering disebut generasi sandwich yakni mereka yang punya tanggungan anak sekaligus harus membantu orangtua dan mertua. Nah, generasi inilah yang memiliki tanggungan paling besar.

Tujuan-tujuan keuangan seperti dana pendidikan, dana pensiun, membeli rumah harus dijabarkan lebih lanjut dan mendetail, misalnya berapa keperluan dananya dan kapan harus terkumpul.

Lalu mengancik langkah berikutnya bagaimana mencapai tujuan keuangan tersebut. Caranya adalah menghitung berapa lama waktu yang tersedia untuk pengumpulan dana, berapa yang harus disisihkan setiap bula. Lantas, sebaiknya ditempatkan pada produk investasi apa agar hasilnya bisa memenuhi target.

Salah satu strategi yang disarankan Eko Pratomo agar setiap keluarga mampu mencapai tujuan keuangan adalah membuat akuntansi di rumah alias budgeting. Anda harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan agar mampu menentukan skala prioritas.

Selain itu Anda perlu membekali diri dengan pengetahuan finansial agar tidak salah strategi ataupun salah menempatkan dana.


6. Pilih instrumen investasi
Perkembangan instrumen investasi terus terjadi. Jangan sampai Anda ketinggalan informasi jika hendak meraih kemerdekaan finansial.

Tapi, jangan juga terjebak investasi bodong karena tergiur iming-iming imbal hasil tinggi.  “Jangan berinvestasi pada produk yang Anda tidak kenal,” ujar Michael Tjoajadi, Direktur PT Schroder Invesment Management Indonesia. Bahkan, Michael juga menyarankan, Anda harus benar-benar mengenal profil emiten, jika ingin berinvestasi di pasar modal. Kalau tidak, sebaiknya Anda berinvestasi lewat reksadana saham.

Memilih instrumen investasi memang harus disesuaikan dengan profil risiko Anda sebagai investor. Ada tiga jenis investor yakni konservatif, moderat dan agresif.

Nah, tergolong tipe investor apakah Anda? Jika Anda masih terbilang konservatif, maka sebaiknya memilih instrumen investasi dengan tingkat risiko paling kecil. Namun konsekuensinya adalah imbal hasil investasi yang bakal Anda peroleh juga lebih kecil ketimbang portofolio investasi lain.

Sebaliknya jika masih berusia muda dan terhitung investor agresif, maka Anda bisa memilih instrumen dengan tingkat risiko tinggi, tetapi  memberikan imbal hasil investasi yang juga tinggi, seperti saham atau reksadana saham.

Dalam memilih instrumen investasi jika sudah memiliki pengetahuan finansial yang cukup, misal informasi dari buku, koran, internet, maka Anda bisa melakukan sendiri pemilihan instrumen investasi baik jenis investasinya maupun pemilihan produknya.

Namun jika Anda masih ragu terhadap kemampuan dan pengetahuan terhadap produk investasi, Anda dapat menggunakan jasa perencana keuangan untuk membantu dalam memilih produk investasi yang tepat sesuai profil dan risiko yang berani Anda tanggung.

Ingat prinsip berinvestasi pasti semua ada risikonya. Hal yang bisa Anda lakukan adalah bagaimana meminimalkan dan menghadapi risiko tersebut.

Anda bisa menyisihkan dana investasi secara bertahap, atau menjajal portofolio sesuai pilihan. Nanti, seiring dengan pengalaman berinvestasi, maka intuisi Anda sebagai investor akan terlatih.


7. Berinvestasi
Langkah ketujuh inilah yang menjadi penentu Anda dalam meraih kemerdekaan finansial. Aksi Anda berinvestasi secara tepat akan menentukan berapa lama waktu yang Anda butuhkan hingga sampai di titik kemerdekaan finansial.

Kuncinya, menurut sumber-sumber Kontan, jangan mudah panik saat situasi ekonomi agak memburuk seperti sekarang. Lakukan investasi secara rutin dan konsisten sampai tujuan keuangan Anda tercapai.

Selain itu, ingatlah pepatah jangan menaruh telur dalam satu keranjang.  Selamat berinvestasi.

Merdeka!                             
(Sri Sayekti)

baca juga: Ini Langkah Awal untuk Berinvestasi

Page:

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Erlangga Djumena
Sumber: KONTAN,