Total Investasi Pabrik Sagu Perhutani di Sorong Mencapai Rp 150 Miliar - Kompas.com

Total Investasi Pabrik Sagu Perhutani di Sorong Mencapai Rp 150 Miliar

Kompas.com - 01/01/2016, 18:54 WIB
Abba Gabrillin Direktur Utama Perum Perhutani Mustoha Iskandar, saat mengunjungi area perkebunan milik PT Inhutani III di Kalimantan Selatan, Rabu (25/11/2015).

SORONG, KOMPAS.com - Perum Perhutani telah merampungkan proyek pabrik sagu di Distrik Kais, Sorong, yang telah dibangun sejak 2013 lalu.

Direktur Utama Perum Perhutani Mustoha Iskandar mengatakan, nilai investasi pabrik sagu ini mencapai Rp 150 miliar dan menghasilkan profit yang lumayan besar.

"Dari total investasi Rp 150 miliar, pabrik sagu Perum Perhutani ditargetkan akan memberikan kontribusi pendapatan ke perusahaan Rp 100 miliar per tahun," ujar Mustoha di pabrik sagu di Kais, Sorong Selatan, Jumat (1/1/2016).

Di awal tahun ini, pabrik sagu tersebut diresmikan oleh Presiden Joko Widodo.

Mustoha mengatakan, dalam proyek itu, Perhutani teken kontrak perjanjian dengan PT Barata Indonesia (Persero) dan pengawasan manajemen konstruksinya oleh PT Indah Karya (Persero).

"Tiga bulan selanjutnya akan dilakukan commisioning di pabrik sebelum beroperasi penuh," kata Mustoha.

Pabrik sagu terbesar di Papua ini mempekerjakan 40 orang di pabrik dan 400 hingga 600 orang di hutan sagu.

Dalam produksinya, Perhutani akan membeli batang sagu seharta Rp 9000 pertual tergantung kualitas pohon tersebut.

Mustoha mengatakan, hutan sagu di Papua dapat menghasilkan tepung sagu hingga 900 kilogram perbatang.

"Berbeda dengan produksi sagu di bagian barat Indonesia dan Malaysia yang menghasilkan tepung maksimal 150-250 kilogram perbatang," kata Mustoha.

Berdasarkan kebutuhan tual sagu di pabrik, setiap keluarga di distrik Kais akan menebang rata-rata dua batang pohon sagu atau 20 tual sagu setiap hari.

Selain itu, masyarakat setempat juga dilibatkan seperti untuk transportasi penyedia bahan bakar minyak, dan semua akses suplai ke pabrik.

Mustoha menjamin industri sagu di Papua akan berkembang karena kayanya potensi sagu di sana. Terlebih lagi, masyarakat setempat turut dilibatkan dalam produksi setelah melakukan kerjasama dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Busiro di Kais.

"Lembaga ini diharapkan akan mewadahi proses bisnis ekonomi dan sosial antara warga masyarakat dengan pabrik sagu," kata dia.


EditorBayu Galih

Close Ads X