Kisah Sembilan Karung Durian dan Rencana Besar Bank Mayora - Kompas.com

Kisah Sembilan Karung Durian dan Rencana Besar Bank Mayora

Kompas.com - 16/05/2016, 07:07 WIB
Josephus Primus News Managing Editor Kompas.com Tri Wahono (kiri) dan Presiden Direktur PT Bank Mayora Irfanto Oeij saat bertandang ke Redaksi Kompas.com, Kamis (12/5/2016), bertukar cindera mata.

KOMPAS.com - Sebagai penikmat durian, Irfanto Oeij, sudah mencecap nyaris seluruh varian buah tersebut di berbagai bagian Tanah Air. Irfanto, kini Direktur Utama PT Bank Mayora mengaku sudah menjajal lezatnya durian medan hingga berjenis-jenis durian di Jawa.

Tapi, tatkala mencicipi durian di Ambon, ibu kota Provinsi Maluku, pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat, pada 1965 ini, tak henti-hentinya takjub. "Kecil segini (memeragakan dengan kedua tangannya bentuk kira-kira seukuran bola futsal). Tapi, legitnya minta ampun!" serunya saat berbincang santai kala bertandang ke redaksi Kompas.com pada Kamis (12/5/2016) siang.

Durian di Ambon, imbuh Irfanto, berwarna kuning tak pekat. "Tapi, kalau saya makan, buah itu enggak bikin mabuk," katanya sembari membeberkan cara membedakan durian yang andai dimakan terlalu banyak bisa membuat seseorang mabuk lantaran kandungan alkohol tinggi pada buah itu.

Alhasil, selama tiga hari berkunjung ke Ambon beberapa waktu silam, Irfanto, dan enam rekannya memborong sembilan karung durian. "Tiap sehari kami makan tiga karung.  Isinya tiap karung sampai sekitar 30 buah. Harganya Rp 7.000 sebuah," tuturnya tergelak mengisahkan pengalaman berkesannya itu.

Lalu, Ambon dan durian memang bukan sekadar berlalu begitu saja bagi mantan mahasiswa STIE YPKP Bandung ini. Ambon, kota dengan penduduk sekitar 400.000 jiwa ini, bakal menjadi bagian dari rencana besar Bank Mayora.

IPO

Primus Presiden Direktur PT Bank Mayora Irfanto Oeij saat bertandang ke Redaksi Kompas.com, Kamis (12/5/2016).

Ada langkah maju bagi Bank Mayora setelah menyandang status Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) 2 alias  alias bank dengan modal inti Rp 1 triliun sampai dengan kurang dari Rp 5 triliun seturut Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/26/PBI/2012 tanggal 27 Desember 2012 tentang Kegiatan Usaha dan Jaringan Kantor Berdasarkan Modal Inti Bank, sejak Senin (29/2/2016). "Kami memang merencanakan IPO (Initial Public Offering) pada 2019," kata Irfanto. (Baca: Resmi Sandang Status BUKU 2, Bank Mayora Maksimalisasikan "Bancassurance")

IPO yang berarti menawarkan saham perdana kepada publik di bursa efek, lanjut Irfanto, memang memerlukan banyak persiapan. Salah satunya, menyangkut pemanfaatan teknologi informasi terkini untuk mendongkrak kelancaran kinerja bank.

Irfanto mengaku dirinya menyadari bahwa ongkos membangun kesiapan teknologi informasi itu tidaklah kecil. Butuh biaya besar misalnya untuk memantapkan program internet banking. Lalu, ada juga kebutuhan penyediaan kelengkapan basis data berikut piranti pendukung. Belum lagi, kebutuhan akan mesin-mesin penangkap data elektronik (EDC) untuk layanan transaksi. "Itu semua makin mahal harganya," kata Irfanto yang sempat menjadi manajer cabang Bank Modern itu.

Lantaran itulah, sejak dua tahun silam, lanjut Irfanto, Bank Mayora menyempatkan secara khusus porsi dana financial technology (fintech). Dari total belanja modal (capex) untuk 2016 sebesar Rp 385 miliar, sekitar 5 persen sampai dengan 10 persen dialokasikan untuk fintech.

Pada bagian berikutnya, program lain yang juga disiapkan manajemen bank milik taipan Jogi Hendra Atmadja ini adalah kian menjadikan diri sebagai bank ritel. Berbagai produk pembiayaan ritel, aku Irfanto, dikembangkan dengan berbagai segmen yang menyasar mulai dari pensiunan pegawai negeri sipil hingga kegiatan usaha karyawan Grup Mayora, perusahaan induk. (Baca: Penyaluran Kredit Sokong Laba Bersih Bank Mayora)

Berbicara mengenai dunia ritel, kembali, Irfanto Oeij terpincut Ambon. Kota yang menurut hematnya habis dikeliling dengan berkendara selama setengah jam justru hidup perkembangan ritelnya.

Berangkat dari kenyataan itu, Irfanto giat melakukan berbagai upaya terkait dunia ritel demi Bank Mayora merealisasikan program Laku Pandai atau Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif. Program yang dalam istilah asingnya bernama branchless banking ini merupakan program Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar perbankan bisa merembes lebih jauh, menyentuh kian banyak warga kebanyakan.

Irfanto bercerita, salah satu modal yang bakal digunakannya adalah jumlah mesin EDC milik Bank Mayora. Terkini, ada 2.000 unit mesin EDC. "Jadi kalau saya enggak masuk ke situ (Laku Pandai), sayang banget kan!" katanya.

Langkah yang juga dilakukan adalah menjadikan Bank Mayora sebagai pusat integrasi dari seluruh unit bisnis Grup Mayora. Pada bagian ini, Irfanto mengaku, ada tantangan yang begitu besar. "Pemilik juga kan memberi dukungan," lanjut bankir yang ikut berkecimpung lama membangun  Bank OCBC NISP dengan beberapa jabatan struktural antara lain sebagai branch manager, cash management division head dan terakhir menduduki posisi sebagai commercial funding division head sebelum pindah ke Bank Mayora pada Februari 2011 lalu.

Tak ketinggalan, Ambon juga akan menjadi momentum ekspansi Bank Mayora ke kawasan timur Indonesia setelah langkah demi langkah mewujudkan hal sama sebelumnya di Lampung, Bogor, dan Bandung. Andai tak ada aral melintang, perwujudan di Ambon akan terjadi pada Agustus atau September tahun ini.   

   

   


EditorJosephus Primus

Close Ads X