Senin, 27 Maret 2017

Ekonomi

Faisal Basri Desak Audit Anggaran Subsidi Sektor Pertanian

Senin, 5 Desember 2016 | 15:33 WIB
Dimas Jarot Bayu Pengamat ekonomi politik Universitas Indonesia, Faisal Basri dalam diskusi bertajuk "Indonesia Tanah Air Kita" di Tartine Cafe, Mall FX Sudirman, Jakarta, Senin (14/11/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat Ekonomi Faisal Basri menduga ada yang tidak beres dari pengelolaan anggaran subsidi di sektor pertanian terutama subsidi pupuk dan benih.

Menurutnya, besaran anggaran yang diberikan untuk sektor pertanian seharusnya memiliki dampak kepada perbaikan kesejahteraan petani. Namun hal itu tidak terjadi.

"Patut diduga terjadi apa-apa," ujar Faisal usai acara diskusi di Balai Sudirman, Jakarta, Senin (5/12/2016).

Ekonomi Universitas Indonesia itu dengan lantang menuntut adanya pemeriksaan terhadap efektivitas pemberian subsidi di sektor pertanian. Ia bahkan curiga anggaran subsidi tidak sampai ke tangan para petani.

Pad Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2016, anggaran subsidi sektor pertanian mencapai Rp 52 triliun terdiri dari subsidi pangan sebesar Rp 22 triliun dan subsidi pupuk sebesar Rp 30 triliun.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution juga sempat melontarkan kritik. Ia mempertanyakan mengapa peningkatan produksi di sektor pertanian belum setara dengan tingginya anggaran yang dikeluarkan negara untuk sektor pangan.

"Negara menghabiskan dana sekitar Rp 50 triliun setiap tahunnya, tapi sampai sekarang masih belum maksimal capaian produksinya. Sudah ada peningkatan saat ini, tapi masih belum sepadan dengan tingginya biaya yang dikeluarkan," kata Darmin dalam acara Rakornas Kadin di Hotel Pullman Jakarta, Senin (28/11/2016).

Menanggapi kritikan itu , Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kemtan) Hasil Sembiring justru mengklaim sejumlah keberhasilkan.

Seperti dikutip dari Kontan, Ia mengatakan, anggaran di bidang pertanian telah mendorong kenaikan luas tanam padi pada 2015 mencapai 343.000 hektare (ha) dan pada tahun 2016 naik lagi menjadi 990.000 ha.

Selain itu, anggaran Rp 12,3 triliun digunakan untuk merehabilitasi irigasi tersier seluas 3,05 juta ha, dan penyediaan alat mesin pertanian sebanyak 215.000 unit.

Hasilnya kata dia, dua tahun terakhir, produksi padi naik 8,4 juta ton setara Rp 38,5 triliun. Sementara produksi jagung naik 4,2 juta ton setara Rp 15,9 triliun.

"Penerapan berbagai terobosan tersebut menyebabkan kinerja produksi pangan 2015-2016 terus meningkat, proudksi padai pada 2015 naik 6,64 persen dan pada 2016 naik lagi 4,96 persen ," kata ia seperti dikutip dari Kontan.

Penulis: Yoga Sukmana
Editor : M Fajar Marta