Senin, 27 Maret 2017

Ekonomi

Ini Perkembangan Program Pendidikan Vokasi Pemerintah

Kamis, 22 Desember 2016 | 19:09 WIB
Pramdia Arhando Julianto Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto saat jumpa pers akhir tahun dan kinerja sektor industri 2016 di Kemenperin, Jakarta, Kamis (22/12/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com - Guna meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) industri dalam negeri, pemerintah telah melaksanakan program pendidikan vokasi yang diharapkan menjadi jawaban atas kebutuhan SDM industri nasional.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, ada beberapa capaian penyelenggaraan pendidikan vokasi berbasis kompetensi, dengan menghasilkan tenaga kerja yang terserap oleh industri sebanyak 16.178 orang.

Rinciannya, 11.622 orang melalui pelatihan berbasis sistem three-in-one (3-in-1) dan 4.556 orang melalui pendidikan SMK dan diploma.

"Kemudian, pendirian Politeknik dan Akademi Komunitas di Kawasan Industri dan Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI). Sampai tahun 2016, telah berdiri Akademi Komunitas Industri TPT di Solo dan Politeknik Industri Logam di Morowali yang telah mendapatkan persetujuan pendirian dari Menristekdikti dan Kemenpan RB," ujar Airlangga saat jumpa pers akhir tahun Kementerian Perindustrian di Jakarta, Kamis (22/12/2016).

Dia menambahkan, telah dilakukan Penandatanganan Nota Kesepahaman lima menteri tentang Pengembangan Pendidikan Kejuruan dan Vokasi Berbasis Kompetensi yang Link And Match dengan Industri.

Serta, tersusunnya Rencana Pengembangan Link and Match SMK dengan Industri, dengan dilakukan identifikasi kerja sama oleh 150 perusahaan industri dengan 750 SMK.

"Perhatian pemerintah yang tinggi terhadap pengembangan SDM industri juga diharapkan dapat meningkatkan daya saing, efisiensi dan produktivitas di sektor industri," pungkasnya.

Kerja Sama Internasional

Sementara itu, untuk peningkatan ketahanan dan pengembangan akses industri internasional, telah dilakukan perundingan internasional terkait industri.

"Sebanyak enam jenis perundingan, forum regional sebanyak sembilan jenis perundingan, dan tiga jenis perundingan di forum multilateral, yang berorientasi terhadap kepentingan industri dalam negeri," pungkasnya.

Penulis: Pramdia Arhando Julianto
Editor : M Fajar Marta